Pelecehan publik adalah ketika empat belas jam sehari digunakan untuk menyiarkan rangkaian pernikahan sepasang selebritas di televisi. o
Jurnalisme Televisi dan Heroisme Simsalabim

Judul: Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto

Tayangan Pernikahan Selebritas Lecehkan Frekuensi Publik

Pelecehan publik adalah ketika empat belas jam sehari digunakan untuk menyiarkan rangka

RUU Pilkada di Pusaran Drama Politik

Malam semakin larut saat para wakil rakyat di ruang sidang DPR/MPR Senayan membahas pen

Subscribe to Amatan

Amatan

Oleh Holy Rafika D. 03.02.2014
Posisi yang dibangun ketika "Gaul Bareng Bule" membandingkan dua kultur yang berbeda adalah bangsa Indonesia menjadi bahan guyonan, dan bangsa lainnya baik-baik saja—sebuah posisi yang mirip dengan cara pandang penjajah melihat terjajah yang tak beradab. [view_node]
0 Komentar
Oleh Windu W. Jusuf 08.01.2014
Dalam Kick Andy, apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan: ada orang sakit, ada penyelamat; ada saatnya sukses di usia muda, ada saatnya buang-buang duit untuk si sakit dan si tak-beruntung. Betapapun miskin kondisi orang tua, motonya adalah ulet pangkal kaya; apapun penyakitnya, filantropi solusinya. [view_node]
0 Komentar
Subscribe to Kabar TV

Kabar TV

Oleh Redaksi 24.10.2014
Hampir satu dekade implementasi Sistem Stasiun Jaringan mandeg. Pemerintahan baru menerbitkan harapan baru. o
0 Komentar
Oleh Redaksi 16.09.2014
Masyarakat sipil sedang menggodok RUU Radio Televisi Republik Indonesia. Harapan baru di tengah kisruh internal di tubuh Lembaga Penyiaran Publik o
0 Komentar
Subscribe to Pendapat

Pendapat

Oleh Gita Paramitha Zettira
Hak memilih langsung kepala daerah hendak dikembalikan ke kuasa DPRD. Bagaimana media televisi merekam pro-kontra soal RUU Pilkada ini di tengah konflik koalisi partai politik? o
0 Komentar
Subscribe to Kupas

Kupas

Oleh Roy Thaniago
Buku menarik yang membahas peran jurnalisme TV di hari-hari terakhir kekuasaan Soeharto. Banyak data menarik, namun tak licin dalam membikin kesimpulan. o
0 Komentar
Oleh Muhamad Heychael
0 Komentar
Oleh Arifuddin Kunu
0 Komentar

Bersamaan dengan surat pendek ini, kami ingin memohon maaf serta pengertian sidang pembaca sekalian karena kami tidak lagi menjadikan RBI sebagai rubrik reguler tiap bulannya.

Milis Remotivi

Berlangganan

Dapatkan kiriman tulisan terbaru lewat email Anda!