Amatan
|
Oleh
21.02.2012
Dalam "Kakek-Kakek Narsis", pertanyaan yang disodorkan pada para perempuan tak pernah dikaitan dengan kemungkinan kecemerlangan isi kepalanya, seakan perempuan tak memiliki pendapat, sehingga tak perlu dimintai pendapat. Jika pun para perempuan itu berpendapat, itu sebatas pada tema dan topik cèkèrèmès atau cècèrèmè, alias tak penting-penting amat.
[view_node] 2 Komentar |
Oleh
30.01.2012
Dalam Bumi & Manusia, konflik diabaikan bukan hanya karena secara teknis dia tak diperlukan, tapi juga karena secara ideologis ia ingin ditampik. Menontonnya menimbulkan optimisme tersendiri terhadap dunia pertelevisian kita. Setidaknya, karena keberadaan tayangan semacam ini, kita tak perlu mematikan televisi selama-lamanya.
[view_node] 2 Komentar |
Pendapat
|
Oleh
24.04.2012
Televisi dengan caranya yang begitu halus, misalnya lewat humor, mampu menguatkan citra perempuan sebagai objek seksual. Penggambaran perempuan semacam ini dalam televisi, terus menerus hadir sebagai konsekuensi media yang patriarkis.
o 3 Komentar |
Kupas
|
Oleh
17.04.2012
Dalam lagu yang saya temukan, semuanya mencecar konsep TV sebagai idiot box, kotak penyuguh hiper-realitas, banalnya tayangan info, keberlimpahan informasi, serta kegagalan manusia mengendalikan TV.
o 0 Komentar |
|
|
|
|
|








