Lagi, frekuensi publik digunakan untuk kepentingan privat. Publik terlantar di tengah industri bebal dan regulator tak bertaji. o
Mengatur Umpatan di Televisi

Wawancara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purna

Mencari Makna dengan Jurnalisme Perlahan

Pada 2007, Susan Greenberg dalam artikel berjudul

6 Kasus Kriminalisasi Pers di Era Reformasi

Dimuatnya infografis aliran dana Budi Gunawan ke orang-orang tertentu dalam majalah

Apakah Jurnalisme Masih Relevan?

Judul                    : Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi

Subscribe to Amatan

Amatan

Oleh Holy Rafika D. 03.02.2014
Posisi yang dibangun ketika "Gaul Bareng Bule" membandingkan dua kultur yang berbeda adalah bangsa Indonesia menjadi bahan guyonan, dan bangsa lainnya baik-baik saja—sebuah posisi yang mirip dengan cara pandang penjajah melihat terjajah yang tak beradab. [view_node]
0 Komentar
Oleh Windu W. Jusuf 08.01.2014
Dalam Kick Andy, apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan: ada orang sakit, ada penyelamat; ada saatnya sukses di usia muda, ada saatnya buang-buang duit untuk si sakit dan si tak-beruntung. Betapapun miskin kondisi orang tua, motonya adalah ulet pangkal kaya; apapun penyakitnya, filantropi solusinya. [view_node]
0 Komentar
Subscribe to Kabar TV

Kabar TV

Oleh Redaksi 25.03.2015
Penggunaan kata-kata tak senonoh di frekuensi publik seringkali menuai protes. Dunia penyiaran Amerika Serikat berusaha meregulasi kata-kata tersebut dengan apa yang dikenal sebagai "Tujuh Kata Kotor". o
0 Komentar
Oleh Redaksi 23.03.2015
Arus informasi di era digital yang begitu deras sering kali membuat kalap. Jurnalisme Perlahan hadir seperti oase, bukan dengan kecepatan, melainkan kedalaman. o
0 Komentar
Subscribe to Pendapat

Pendapat

Oleh Luthfi Adam
Dunia pers mulai tumbuh dan berkembang di Hindia Belanda pada abad ke-18. Jurnalis Indo dan Tionghoa berperan dalam mengubah pers dari corong pemerintah menjadi alat perjuangan. o
0 Komentar
Oleh Redaksi
0 Komentar
Subscribe to Kupas

Kupas

Oleh Septi Prameswari
Batas antara orang dewasa dan anak-anak kian mengabur. Orang dewasa menjadi lebih kekanak-kanakan, sedangkan anak-anak justru menjadi cepat dewasa (Neil Postman). o
0 Komentar
Oleh Muhammad Nafi
0 Komentar

Bersamaan dengan surat pendek ini, kami ingin memohon maaf serta pengertian sidang pembaca sekalian karena kami tidak lagi menjadikan RBI sebagai rubrik reguler tiap bulannya.

Milis Remotivi

Berlangganan

Dapatkan kiriman tulisan terbaru lewat email Anda!