Lagi, frekuensi publik digunakan untuk kepentingan privat. Publik terlantar di tengah industri bebal dan regulator tak bertaji. o
Andreas Harsono: Tidak Ada Jurnalisme yang Independen di Papua

PERHATIAN: TULISAN BERIKUT MENGANDUNG GAMBAR YANG MENAMPILKAN DARAH.

Remotivi Mengecam Keras Tayangan Kelahiran Anak Pasangan Anggota DPR dan Selebritas

Tahun 2014 sudah sewajarnya dicatat sebagai tahun keprihatinan bagi kedaulatan frekuens

Uji Kepatutan dan Kelayakan Calon Komisioner KPID Jabar Tertutup

Komisi I DPRD Jawa Barat akan menggelar tes uji kepatutan dan kelayakan (fit and pro

Menyoal Jurnalisme Islam

Judul Buku     : Jurnalisme Universal, Menelusuri Prinsip-prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an

Subscribe to Amatan

Amatan

Oleh Holy Rafika D. 03.02.2014
Posisi yang dibangun ketika "Gaul Bareng Bule" membandingkan dua kultur yang berbeda adalah bangsa Indonesia menjadi bahan guyonan, dan bangsa lainnya baik-baik saja—sebuah posisi yang mirip dengan cara pandang penjajah melihat terjajah yang tak beradab. [view_node]
0 Komentar
Oleh Windu W. Jusuf 08.01.2014
Dalam Kick Andy, apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan: ada orang sakit, ada penyelamat; ada saatnya sukses di usia muda, ada saatnya buang-buang duit untuk si sakit dan si tak-beruntung. Betapapun miskin kondisi orang tua, motonya adalah ulet pangkal kaya; apapun penyakitnya, filantropi solusinya. [view_node]
0 Komentar
Subscribe to Kabar TV

Kabar TV

Oleh Redaksi 19.12.2014
Pemberitaan media Jakarta tentang insiden penembakan warga sipil di Paniai, Papua, masih simpang siur. Pemerintah dan militer punya andil dalam pengaburan informasi tentang Papua. o
0 Komentar
Oleh Mega Dwi Anggraeni 16.12.2014
Meski Komisi I DPRD Jabar menekankan bahwa uji kepatutan dan kelayakan untuk calon komisioner KPID Jabar akan dilakukan secara terbuka, publik dipastikan tidak bisa mengikuti proses tersebut. o
0 Komentar
Subscribe to Kupas

Kupas

Oleh Kamil Alfi Arifin
Jurnalisme Islam: jurnalisme atau sekadar pamflet propaganda semata? o
0 Komentar

Bersamaan dengan surat pendek ini, kami ingin memohon maaf serta pengertian sidang pembaca sekalian karena kami tidak lagi menjadikan RBI sebagai rubrik reguler tiap bulannya.

Milis Remotivi

Berlangganan

Dapatkan kiriman tulisan terbaru lewat email Anda!