9 nama berikut adalah caleg yang tak layak dipilih karena terindikasi berlawanan dengan semangat mendahulukan kepentingan publik, tidak paham dunia penyiaran, serta mendukung pemanfaatan frekuensi siar TV untuk kepentingan politik partainya. o
Subscribe to Amatan

Amatan

Oleh Holy Rafika D. 03.02.2014
Posisi yang dibangun ketika "Gaul Bareng Bule" membandingkan dua kultur yang berbeda adalah bangsa Indonesia menjadi bahan guyonan, dan bangsa lainnya baik-baik saja—sebuah posisi yang mirip dengan cara pandang penjajah melihat terjajah yang tak beradab. [view_node]
0 Komentar
Oleh Windu W. Jusuf 08.01.2014
Dalam Kick Andy, apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan: ada orang sakit, ada penyelamat; ada saatnya sukses di usia muda, ada saatnya buang-buang duit untuk si sakit dan si tak-beruntung. Betapapun miskin kondisi orang tua, motonya adalah ulet pangkal kaya; apapun penyakitnya, filantropi solusinya. [view_node]
0 Komentar
Subscribe to Kabar TV

Kabar TV

Oleh Redaksi 24.01.2014
Dengan menjadikan pemerintah sebagai regulator tunggal (Pasal 6 DIM 109-110), dunia penyiaran kita akan kembali ke era Orde Baru yang otoriter. Padahal, otoritas pengaturan tersebut seharusnya berada di tangan lembaga regulator independen yang mewakili publik. o
0 Komentar
Oleh Indah Wulandari 20.12.2013
“Pasal-pasal yang ada di P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Pedoman Siaran) soal eksploitasi tubuh kebanyakan hanya menyorot tubuh perempuan,” ujar Vivin, sapaan Nurvina. Ditambah lagi, menurutnya, aturan tersebut hanya menyorot apa yang terlihat di televisi, bukan paradigma dan konteks yang menyertai tampilnya tubuh perempuan. Sehingga, “bentuk objektifikasi yang samar—seperti dalam lirik lagu, dialog, dan sebagainya—menjadi terabaikan,” lanjut Vivin. o
0 Komentar
Subscribe to Pendapat

Pendapat

Oleh Yovantra Arief
Setidaknya terdapat tiga problem mendasar yang menjadi celah kosong pengetahuan kita. Pertama, kita tidak memiliki suatu tujuan konkret yang dengannya segala pencapaian gerakan bisa diukur. Kedua, publik sebagai subjek bukanlah entitas yang tunggal. Ketiga, publik adalah subjek yang menyejarah; ia dibentuk oleh berbagai macam faktor—dan televisi salah satunya. o
0 Komentar
Subscribe to Kupas

Kupas

Oleh Holy Rafika D.
Lewat buku ini, Raymond Williams mengingatkan kita bahwa fenomena televisi tak sesederhana ungkapan Harold Laswell: who says what, how, to whom, with what effect. Sebab, dogma tersebut lupa pada apa yang disebut sebagai “intensi” seseorang dalam fenomena komunikasi, dan oleh karenanya lupa pada keseluruhan proses sosial dan budaya yang riil terjadi. o
0 Komentar

Bersamaan dengan surat pendek ini, kami ingin memohon maaf serta pengertian sidang pembaca sekalian karena kami tidak lagi menjadikan RBI sebagai rubrik reguler tiap bulannya.

Milis Remotivi

Berlangganan

Dapatkan kiriman tulisan terbaru lewat email Anda!