“Buka tipi, buka tipiiii!!!,” teriak putri Eduardo Lapuimolana, mantan Kepala Desa Tanglapui, Lantoka, Alor Timur, tiap matahari mulai tenggelam. Maksud bocah sembilan tahun itu adalah “menyalakan televisi”. Alih-alih memenuhi tuntutan itu, Edu—sapaan akrab Eduardo—malah menyuruh anaknya belajar. Kalau sudah begitu, sang anak akan mencari akal agar kakak laki-lakinya mau menyalakan TV, supaya ia bisa menebeng. Nah, jika berhasil dinyalakan, segeralah cari sepasang penyumbat telinga, karena suara TV akan disetel sangat keras.

Biasanya, anak perempuan Edu menonton sinetron Putih Abu-Abu yang dulu tayang di SCTV atau film-film Korea yang juga merupakan kesukaan para bidan di Puskesmas Tanglapui. Edu sendiri sebenarnya lebih senang menonton berita dibandingkan sinetron.

Ketika membicarakan televisi, barangkali tak seorang pun yang memikirkan sebuah pulau di ujung timur Nusa Tenggara Timur ini: Pulau Alor. Pulau Alor bisa dikatakan “tertinggal” dalam banyak hal, termasuk dalam perkembangan proyek-proyek pembangunan yang (kebanyakan) masih tersumbat di Jakarta dan Pulau Jawa.

Belum ada penelitian untuk menjawab kapan televisi pertama kali masuk Alor. Mungkin baru 10-20 tahun yang lalu. Meskipun di Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor, televisi sudah menjadi hal yang cukup lumrah, kotak ajaib itu masih merupakan sebuah kemewahan. Hanya orang-orang yang terhitung kayalah yang punya televisi, parabola, dan suka menonton berbagai macam siaran dari Jakarta.


Listrik belum masuk ke desa Tanglapui. Untuk menyalakan alat elektronik, para penduduk menggunakan mesin diesel pembangkit listrik. Namun tidak setiap keluarga mempunyai pembangkit listrik sendiri. Setiap mesin diesel biasanya menyediakan listrik untuk sepuluh hingga lima belas rumah. Dalam waktu tiga sampai empat jam, mesin diesel ini dapat menghabiskan empat sampai lima liter solar, dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per liternya. Dengan biaya semahal ini, mereka terpakasa menghemat. Apalagi mayoritas penduduk tidak memiliki gaji tetap.

Tapi, begitu listrik menyala, semua alat elektronik—termasuk televisi, stereo (di Alor disebut “tep”; berasal dari bahasa Inggris tape), dan pengeras suara—langsung dinyalakan sekaligus. Terkadang stereo di rumah tetangga bersaingan dengan stereo di rumah Edu. Karena suara stereonya begitu keras, suara televisi sering tidak terdengar jelas. Akan tetapi, semua orang tetap melekat ke televisi, menontonnya seperti ketagihan. Anak perempuan Edu sering memilih untuk tidak makan malam jika dia sedang sibuk menonton. Alhasil, dia ketiduran di depan televisi dan akan terbangun subuh-subuh sambil menangis kelaparan.

Apabila dibandingkan dengan kebudayaan menonton televisi di Lamdesar Barat, Maluku (baca: “Tayangan Untuk Siapa?”), hubungan anak-anak dengan televisi di Alor tampak sehat. Jam menonton tidak melebihi 10 jam per minggu. Kebudayaan populer anak-anak Jakarta yang rajin disiarkan televisi pun belum menembus benteng kultural mereka terlalu dalam. Walaupun soundtrack sinetron Putih Abu-Abu sering mereka nyanyikan, anak-anak itu tidak menggunakan istilah-istilah bahasa Arab seperti alhamdulillah atau astaghfirullah, atau meniru kelakuan anak-anak yang bermain dalam sinetron yang mereka tonton.

Bagi penduduk Alor secara umum, televisi memberi dampak yang baik dalam hidup, atau paling tidak berpotensi memberi dampak yang baik. Selain telepon genggam, televisi merupakan satu-satunya jalur masuk pengetahuan dunia luar karena tiadanya media cetak dan radio.

Walaupun berita yang ditayangkan hanya seputaran Jakarta, masyarakat Alor tetap senang menontonnya. Menurut seorang penduduk Alor bernama Benidiktus Delpada, mereka “bisa melihat perubahan dan perkembangan dunia dari masa ke masa dengan menonton televisi”. Hal ini penting karena mereka banyak bersentuhan dengan perkembangan ekonomi dan politik di luar wilayah mereka. Edu dan teman-temannya menyadari ini dan sering menonton berita, terutama untuk mencari tahu perkembangan politik, dan bagaimana politik berdampak kepada mereka.

Saat ini misalnya, Edu telah membuka cabang partai NasDem di Desa Tanglapui. Tinggal di daerah pedalaman berarti juga terbatasnya kesempatan mencari uang. Dengan kondisi seperti itu, hidup dari berpartai menjadi salah satu cara untuk mendapatkan uang. Maka, Edu sering membuka televisi untuk mencari informasi tentang perkembangan partai-partai politik yang ada.

Contoh lain adalah menyoal perkembangan ekonomi, baik dalam pasar bebas maupun program-program pemerintah, seperti program pemberian beras miskin dan pertolongan lain untuk masyarakat miskin. Selain informasi yang datang dari pemerintah desa, televisi adalah satu-satunya jalur masuk informasi mengenai hal ini, termasuk soal perkembangan ekonomi dunia yang dapat berdampak pada harga hasil bumi. Ini sangat penting bagi masyarakat Alor yang bergantung pada hasil bumi sebagai satu-satunya sumber penghasilan.


Televisi adalah salah satu sarana untuk “menghadirkan Indonesia” di Alor. Namun saat ini, dengan tayangan-tayangan yang bias Jakarta, “Indonesia” yang mereka dapat dari televisi hanya meliputi budaya dan perkembangan Jakarta. Melalui televisi, budaya Jakarta telah menjadi budaya “Indonesia” dan secara hegemonis sedang menjajah wilayah-wilayah lain di Indonesia termasuk Alor. Penduduk memang merasa jadi bagian dari bangsa Indonesia, tetapi dengan resiko bergesernya budaya mereka sendiri.

Hal ini dapat dilihat dari segi bahasa. Bagi negara, peran televisi sebagai alat untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia untuk memupuk kesadaran nasionalisme memang cukup besar. Namun, di sisi lain, televisi juga merendahkan nilai bahasa daerah yang terkikis di hadapan nilai bahasa nasional, khususnya dialek Jakarta, yang lebih “bergengsi”. Karena tayangan yang dapat mereka tonton hanya seputaran Jakarta, bahasa yang digunakan selalu bahasa Jakarta atau bahasa Indonesia yang resmi atau formal.

Situasi seperti ini berpotensi merendahkan baik bahasa daerah mereka, maupun bahasa Indonesia atau Melayu dialek Alor. Terlebih lagi, sebagian besar bahasa lokal di Alor sudah terancam punah. Jika orang Jakarta datang ke Alor, kebanyakan dari mereka tetap memakai logat Jakarta atau Jawa seakan-akan ini logat “netral”. Sementara itu, jika orang Alor pergi ke Jakarta atau pulau Jawa, mereka berusaha keras menyesuaikan logatnya dengan dialek Jakarta.

Saat ini televisi masih sangat baru dan perannya tetap kecil dalam kehidupan sehari-hari penduduk di luar kota Kalabahi. Oleh karena itu, Alor dapat menjadi daerah percobaan untuk membentuk televisi lokal yang tayang untuk kepentingan Alor dan sekitarnya. Televisi lokal memiliki manfaat yang laten bagi masyarakat Alor karena dua hal. Pertama, televisi dapat memperkuat atau bahkan mengembangkan bahasa-bahasa daerah yang semakin terkikis penggunaannya dengan menyajikan beragam tayangan dalam bahasa daerah. Kedua, televisi bisa menjadi salah satu sarana untuk mendongkrak tingkat kecerdasan dan kemakmuran orang-orang Alor lewat tersedianya informasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat Alor.

Televisi lokal bisa menjadi ruang bagi penduduk Alor untuk memikirkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka akan mendapatkan informasi mengenai perkembangan politik dan ekonomi setempat, yang selama ini sulit didapatkan. Selama ini banyak permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Alor yang informasinya hanya saya dapatkan secara lisan. Misalnya masalah pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM), pemberian izin kepada perusahaan-perusahaan luar untuk menggunakan lahan atau laut di sekitar Alor untuk usahanya, dan sebagainya. Melalui televisi lokal, sebuah ranah publik akan dibuka untuk pembahasan permasalahan-permasalahan tersebut.

Dengan demikian, televisi lokal bisa menjadi salah satu solusi bagi problem besar yang ditimbulkan oleh stasiun televisi swasta bersiaran nasional: bahwa masyarakat menjadi “tertinggal” bukan hanya karena mereka hidup di daerah tertinggal, tetapi juga karena kebutuhan mereka ditinggalkan oleh para pencipta tayangan televisi. []