Rumah yang ditempati Laila tampak sederhana. Laila adalah tokoh pelacur dalam filmLewat Djam Malam (1954). Selain luas ruang-ruangnya yang sekadar cukup untuk menampung fungsi masing-masing, material yang dipakai juga murah. Tapi, dari rumah itu, kita, penonton, bisa mengenal Laila seperti sahabat. Dalam batasan frame kamera dan durasi tayang, ruang-ruang dan benda-benda di dalam rumah tersebut seperti bekerja sama mendekatkan kita dengan sosok Laila. Kita mendengar curahan hatinya melalui lagu-lagu yang ia nyanyikan di dalam rumah. Kita mengetahui kesenangannya melalui tempelan-tempelan di dinding kamarnya. Sambil mengamati jejaknya pada rumah itu, kita lalu memahami lamunan-lamunannya dari benda kesayangannya—potongan-potongan gambar perkakas rumah dari majalah Life—yang ia tunjukkan dengan wajah riang gembira di ruang makan.

Rumah Laila sebetulnya gambaran rumah kita juga pada umumnya: rumah yang, selain menaungi kebutuhan dasar, juga merumahi aktualisasi diri dan lamunan-lamunan kita; rumah yang ruang-ruangnya kita isi dengan benda-benda sehari-hari maupun sekali-kali, lalu kita jinakkan jadi sesuatu yang pribadi. Maka, di rumah kita tidak hanya berumah, tapi juga merumah[1].

Proses tersebut menjadikan rumah sebagai paradoks. Sambil bertumbuh seiring waktu, rumah justru memupuk ingatan-ingatan yang menumpul karena waktu. Rumah menyimpan sejarah penghuninya dalam ruang-ruang dan benda-benda, sambil sejarah itu sendiri terus diperbarui. Lumrah jika dari rumah, kita bisa mengenal seseorang lebih dalam dari apa yang orang itu sendiri ceritakan tentang dirinya.

Rumah-rumah demikian, sayangnya, jarang kita temukan dalam sinetron.

Rumah-rumah sinetron terasa tuntas. Sekalipun kehidupan di dalamnya begitu riuh (sampai-sampai segala konflik bisa terjadi di segala ruang), rumah-rumah sinetron nyaris tak pernah berubah sedari semula.

Simak misalnya rumah Haji Muhidin, salah satu tokoh sentral di sinetron terpanjang ketiga di Indonesia Tukang Bubur Naik Haji (RCTI). Selama lebih dari lima ratus episode, Muhidin telah mengalami berbagai fase bersejarah dalam kehidupan rumah tangganya, dari kematian istrinya hingga pernikahan anaknya. Namun, tidak banyak yang berubah dari rumahnya. Proses merumah di rumah Muhidin, dan juga di rumah-rumah sinetron pada umumnya, seperti tidak berjejak.  Ruang-ruangnya, bahkan ruang keluarga yang jadi pusat interaksi di rumah tersebut, tidak mengalami perubahan yang berarti sejak episode pertama sampai episode lima ratus. 

Rumah-rumah dalam sinetron adalah rumah tanpa sense of place, baik bagi penonton maupun bagi tokoh. Shmuel Shamai, seorang peneliti sosiologi edukasi, mengelompokkansense of place ke dalam tiga tahapan utama: menjadi bagian (belonging), menjadi terikat(attachment), dan menjadi berkomitmen (commitment). Satu tahap pun tidak terpenuhi dalam rumah-rumah sinetron. Rumah hanya menjadi lokasi familiar, tanpa ikatan emosi yang partikular. Penghuni lantas seperti menjadi tamu asing di rumah sendiri.

Sinematografi sinetron sendiri kerap mematikan potensi rumah sebagai bagian dari cerita. Ruang-ruang dalam rumah hanya menjadi pengawal adegan untuk menandakan lokasi. Selebihnya adalah ekspos wajah orang yang sedang bicara, termasuk yang bicara dalam hati. Tidak ada kesempatan bagi ruang-ruang dan benda-benda untuk bersuara, ataupun berinteraksi dengan para penghuni.

Sebetulnya, produser sinetron bukannya tidak punya kesadaran untuk menghadirkan rumah yang punya relasi dengan tokoh. Usaha itu ada, tapi tidak dibarengi dengan pengetahuan akan cara yang tepat dalam menghadirkan relasi rumah dan tokoh. Akibatnya, pilihan jatuh dengan menghadirkan simbol-simbol penunjuk identitas—biasanya etnis, agama, atau kelas—sebagai jalan pintas. Rumah keluarga Betawi? Jadilah rumah satu lantai dengan lisplang gigi balang segitiga berjajar, dengan warna cat kuning dan hijau mendominasi. Rumah untuk seorang muslim? Pasang pigura huruf Arab atau Kabah, selebihnya perkara busana. Rumah orang kaya? Cari rumah bergaya klasik di lahan ribuan meter persegi dengan tiang-tiang bergaya Yunani atau Romawi, lantai marmer, kasur king-size, dan lukisan, apa pun gambarnya, yang dipajang di sana-sini.

Pemilihan rumah semacam itu tentu tidak serta-merta salah, lalu harus dimusnahkan dari seantero bumi sinetron. Yang ingin saya tekankan, tanpa peresapan betul-betul dari para tokoh atas identitas yang ditandakan simbol-simbol tersebut, rumah-rumah itu akan jadi etalase yang artifisial dan hambar.

Ambil contoh rumah seorang ibu yang akrab disapa “Umi” dalam sinetron Gara-gara Dia(MNCTV). Interior ruang keluarganya sungguh bikin mabuk kepayang: sofa bercorak yang cukup besar untuk dipakai duduk bersila, meja bertaplak hijau yang gagal berpadu dengan warna merah burgundi sofa dan coklat permadani, lukisan-lukisan yang mengisi kosongnya dinding, tangga dengan baluster melengkung-lengkung, pohon palsu di samping tangga, dan langit-langit yang saking tingginya tidak tertangkap kamera. Kita tentu saja tahu, dari rumahnya, ia kaya. Tapi, apalagi yang bisa kita ketahui tentangnya?

Banyak aspek personalitas—hobi, rutinitas, pemikiran, hubungan dengan keluarga dan teman, pekerjaan, selera, karakter, masa lalu, impian, dan banyak lagi—yang sebetulnya meruang dalam rumah dan dalam keseharian merumah. Ini berpotensi menajamkan penokohan. Tetapi, seperti pada contoh rumah Umi, aspek personalitas ini tak terlihat dalam rumahnya. Mengapa tokoh seorang kaya memilih rumah dengan arsitektur macam itu? Siapa pelukis yang tokoh tersebut senangi? Apakah pajangan-pajangan di rumahnya punya arti lebih, atau cuma dekorasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak bisa kita temukan dalam sinetron.

Di sisi lain, rumah yang itu-itu saja menunjukkan minimnya kreativitas produser sinetron dalam mengeksplorasi jenis hunian. Ada berbagai jenis hunian bagi setiap kelas sosial dan ekonomi; setiap macam hunian itu memiliki konteks geografis yang akan memunculkan dinamika kehidupan berbeda, dan bisa dimanfaatkan untuk memperdalam cerita. Di Jakarta, misalnya, ada orang-orang yang tinggal di rumah toko, agar tempat tinggalnya juga menjadi sekaligus tempat berbisnis; ada orang-orang yang tinggal di kota-kota satelit, yang  mengorbit lima jam tiap hari pulang-pergi rumah dan tempat kerja; ada orang-orang yang “berumah” di gerobak, di bawah jembatan, atau di pinggir rel kereta karena tidak memiliki rumah; ada orang-orang yang memilih tinggal di apartemen, di rumah susun, di rumah pinggir sungai, atau di rumah rancangan arsitek ternama; dan lain-lain dengan berbagai apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Potensi ini, sayang sekali, jarang dimanfaatkan untuk mengembangkan cerita.

Memang, bukan perkara mudah untuk menghadirkan rumah-rumah sinetron yang lebih berkualitas. Tapi juga bukan berarti mustahil. Produser sinetron cukup mengencangkan risetnya dalam memilih dan mengolah lokasi. Kecuali, sinetron hanya memilih mengejar tayang, tanpa sedikit pun mengejar kualitas. Jika memang begitu, tak perlu susah-susah. Biar saja rumah-rumah sinetron seperti yang sudah-sudah. []