Masih segar dalam ingatan kita proses pemakaman ustad Jefry Al-Buchory—yang  akrab disapa Uje—yang dihadiri ribuan pelayat. Gambar orang-orang yang berdesakan mengantar beliau ke peraduan terakhir disiarkan secara langsung dalam layar televisi kita. Sampai pertengahan tahun ini, mungkin tidak ada sosok yang begitu banyak dibicarakan televisi dan mendapat peliputan yang luas seperti Uje.

Kehilangan tokoh publik dan agama seperti Uje tentu merupakan kerugian besar bagi publik. Momentum meninggalnya beliau, selain memang merupakan sebuah kehilangan yang besar, sejatinya mesti juga jadi ruang refleksi bagi publik. Dalam kerangka ini, luasnya peliputan televisi atas meninggalnya Uje menjadi masuk akal. Sayangnya, bukan semangat ini yang diusung televisi, setidaknya berdasarkan praktek yang tampak di layar kaca.

Husain Haekal—seorang penulis biografi Nabi Muhammad—pernah berujar bahwa ia sengaja menolak berbagai anggapan yang selama ini melekatkan Muhammad dengan mukjizat, seperti kemampuannya membelah bulan, mengeluarkan air dari jari telunjuk, dan banyak lainnya, untuk semata menegaskan dua hal. Pertama, mukjizat Muhammad tidak lain hanya Alquran dan Hadis. Kedua, menegaskan bahwa Muhammad adalah manusia biasa, sama seperti kita. Hanya dengan mempercayai itu, Muhammad menjadi mungkin untuk diteladani. Itulah mengapa biografi karya mantan menteri pendidikan Mesir tersebut begitu kaya dengan berbagai cerita yang sangat memanusiakan Sang Nabi. Tidak hanya kisah sukses dan kecemerlangannya, kegagalan dan kesalahan pun ditampilkan. Muhammad digambarkan sebagai manusia yang tumbuh lewat belajar dari berbagai kesalahan dan keberanian untuk menemukan kebenaran.

Hal ini yang tidak terjadi pada Uje yang dikisahkan oleh televisi. Alih-alih berusaha memanusiakannya, refleksi dan renungan atas meninggalnya Uje justru jatuh pada glorifikasi. Televisi hiruk pikuk mengabarkan berbagai kisah gaib seputar meninggalnya Uje. “Pada malam hari, beberapa peziarah mengaku melihat pancaran sinar terang keluar dari makam,”  ungkap salah seorang penjaga makam Uje yang diwawancarai Selebrita Pagi(Trans 7) episode 13 Mei 2013. Pada kesempatan lain, infotainmen lainnya juga mengisahkan munculnya awan berbentuk orang berdoa saat prosesi  pemakanan Uje.

Melalui kisah-kisah tersebut, televisi membangun sebuah kesan bahwa Uje adalah ulama besar. Untuk menghindari kesan bahwa glorifikasi sedang dibangun, televisi menggunakan mulut warga dan pengunjung makam dalam menyampaikan pesannya.

Glorifikasi atau pemitosan atas Uje juga dilakukan dengan  mempertontonkan pernyataan kolega yang mengaku menerima pesan Uje lewat mimpi. Ustad Guntur Bumi, misalnya, dalam liputan Silet (RCTI) episode 1 Mei 2013, mengaku memimpikan Uje yang memintanya untuk terus berada di jalan dakwah. Pun Ustad Solmed yang mengatakan bahwa ia selalu terkenang pesan Uje padanya sebelum meninggal. "Dia kasih cincin dan peci sama saya. Saya masih ingat kata-katanya, ‘Ini cincin buat eloelo terusin dakwah gue, ini peci juga buat elo`. Saya langsung nangis," katanya (Liputan6.com). Dengan begitu, yang terjadi bukan hanya Uje yang diglorifikasi lewat pengakuan koleganya, namun, kolega-kolega Uje tersebut ikut “ketiban untung” karena menjadi istimewa oleh sebab kedekatannya dengan Uje.

Modus representasi demikian jelas anti-realitas. Uje lebih diketengahkan sebagai legenda ketimbang  kenyataan sejarah. Bukan fakta, melainkan desas-desuslah yang membangun kisah Uje. Kita tidak mungkin bisa belajar dari kisah yang terlampau sempurna, apalagi yang dibangun lewat mitologi. Ini jelas kontra-produktif dengan syarat minimal televisi sebagai bagian dari ruang publik, yakni dengan menjadikan segala isinya medium pembelajaran bagi publik. Sebab, tanpa syarat minimal tersebut, kisah Uje akan diadili seperti infotaimen: didakwa tidak layak konsumsi.

Sederet fakta diatas menyimpulkan bahwa televisi tidak pernah benar-benar berduka atas meninggalnya figur publik kita. Bukan pula refleksi, melainkan ekspolitasi lah yang jadi modus televisi mengabarkan peristiwa terkait Uje ke tengah publik. Masifnya peliputan dan tayangan yang mengenang Uje lebih merupakan upaya menangkap peluang untuk “berjualan”. Tak ubahnya pasar kaget yang muncul tiap kali Ramadhan, televisi seolah tak mau kehilangan kesempatan mengabarkan hilangnya figur publik yang tengah dipuncak karirnya.

Apalagi Uje bukanlah figur publik “biasa”. Kita tahu beliau adalah seorang pendakwah yang juga dikenal sebagai ustad gaul. Gayanya dalam berpakaian bahkan menjadi tren di kalangan pria muslim, hingga memunculkan istilah“baju koko Uje”.  Masa lalunya pun “menarik”. Sebelum jadi ustad, Uje adalah bintang sinetron remaja. Pernah juga ia kecanduan narkoba, namun kemudian insyaf dan akhirnya memilih menjadi ustad. Fakta-fakta tersebut, ditambah kemampuan retorikanya yang bagus kala berdakwah, membuat sosoknya dicintai publik televisi. Uje adalah perpaduan sempurna antara tokoh agama dan selebritas.  Dalam hukum televisi, di mana show adalah segalanya, hal-hal tersebut adalah modal utama bagi seorang selebritas dalam menapak karir. Hal ini pun sekaligus menjadi peluang bagi televisi untuk mendulang rezeki.

Dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, televisi menyulap momentum meninggalnya Uje menjadi serangkaian praktek komodifikasi. Peringatan meninggalnya Uje menjadi sebuah “perayaan”. Pertama, tahlilan 40 hari meninggalnya Uje disiarkan langsung oleh SCTV, lengkap dengan gambar-gambar selebritas yang turut hadir. Lalu, sebuah konser bertajukTribute to Uje juga digelar SCTV dengan menampilakan putri Uje Adiba, yang bernyanyi bersama kolega Uje, Opik. Puncak dari rangkaian ini adalah diluncurkannya sinetron produksi SCTV Kami Rindu Ayah, yang mengisahkan kerinduan keluarga yang ditinggal Uje. Yang lebih mengagetkan lagi, tokoh-tokoh utama dalam sinetron tersebut diperankan langsung oleh anak, istri, dan ibu Uje. Melihat yang terakhir ini, rasanya benar-benar sulit untuk tidak menggelengkan kepala. Kenyataan ini sekaligus menjadi peringatan bagi kita, bahwa tidak ada otentisitas yang tersisa dilayar kaca, kendati hal itu merupakan duka dan kehilangan.

Tujuh tahun silam, peristiwa serupa pernah terjadi. Saat itu, perceraian Gusti Randa dan Nia Paramitha juga diangkat dalam sinetron dengan judul Selebriti Juga Manusia (Trans TV). Kedua tokoh utamanya pun diperankan sendiri oleh Gusti Randa dan Nia Paramitha. Baudrillard benar: kenyataan memang telah lama dikubur televisi dalam berbagai bentuk simulasi. Naasnya, sering kali upaya ini justru dibantu oleh mereka yang kisahnya disimulasikan di layar kaca dengan cara ikut berperan di dalamnya. Peran mereka pula yang pada akhirnya menyempurnakan skenario minus logika: akting tearikal yang berlebihan, serta make up yang tak natural. Lantas, apa lagi yang bisa lebih nyata dari kisah nyata yang diperankan oleh orang-orang yang nyata-nya mengalami kisah tersebut dalam dunianyata?

Sinetron Kami Rindu Ayah bagi saya adalah langkah terjauh yang diambil televisi dalam komodifikasi atas “yang nyata”.  Sinetron ini mengusik persepsi atas makna “duka” yang selama ini, saya kira, kita pahami bersama, bahwa “duka” sifatnya personal, penuh renungan danjauh dari cahaya silau pertunjukkan. Sinetron ini adalah puncak dari ironi televisi sebagai showbiz, ketika banyak hal termasuk “duka” harus dirayakan tak ubahnya hiburan; ketika duka harus digantikan oleh suatu citra atau imaji  yang bisa direflikasi demi komodifikasi.

Saya ikut berkabung atas berpulangnya Ustad Jefry Al-Buchory. Namun lebih daripada itu, saya ikut berkabung atas matinya kemungkinan kita menimba ilmu dari kisah dan ajaran Uje yang dikubur dalam glorifikasi dan mitologi ala televsi. Dengan segala kenyataan ini, sesungguhnya bukan Uje yang terutama membutuhkan doa kita.  Justru penonton yang meratapi kepergian Uje bersama televisi lah yang benar-benar perlu didoakan. []