Ramadhan datang, televisi berdandan. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang terkesan sekuler, dalam sekejap televisi kebanjiran petuah dan tausiyah. Sederet program bernuansa islami pun dihadirkannya. Televisi seolah mengajak penontonnya untuk berlibur dari kenyatan keseharian yang “tidak religius” dan menggantikannya dengan parade moral dan religiositas. Bila biasanya kita disuguhkan cerita soal pembunuhan, korupsi, dan atau bahkan ibu membuang anaknya, maka pada Ramadhan, itu semua digantikan oleh kemenangan moral, religiositas, dan orang-orang beriman. Kurang lebih begitulah pesan sinema-sinema elektronik khas ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemenangan. Bulan penuh kemenangan ini diterjemahkan televisi, dengan pertama-tama mengkontraskan yang benar dan salah. Benar dan salah dibuat seterang mungkin, bahkan vulgar, sampai-sampai kita tak butuh nalar untuk menakarnya. Lihat saja dalam berbagai sinetron Ramadhan, tokoh-tokoh protagonis adalah orang-orang yang sangat teguh beriman, sedangkan sebaliknya, pemeran antagonis adalah mereka yang buruk perilakunya dan merupakan simbol dosa serta kemunafikan. Pesan moralnya adalah, kebenaran akan selalu menang atas yang batil. Televisi seolah tidak pernah peduli dengan pertanyaan “apakah yang benar akan selalu tampak benar?” atau “apakah benar dan salah tidak meruang dan mewaktu?”

Demi memenangkan iman yang lurus dan tanpa noda, cerita dibuat naif, ahistoris, dan pada akhirnya hampa konsekuensi sosiologis. Seorang suami pemabuk dan suka berjudi, tanpa alasan yang memadai, bisa memiliki seorang istri yang soleha. Dalam narasi yang demikian, tentu ada banyak pertanyaan yang tersisa: bagaimana seorang istri mau menerima seorang suami yang jauh sama sekali cara hidup dan keyakinan dengan dirinya? Kalaupun mungkin, bagaimana mereka bisa bertahan sebagai pasangan suami istri?

Operasi logika yang demikian menyederhanakan justru akan jauh dari apa yang mungkin diharapkan oleh pembuat sinetron islami, yaitu agar tontonannya menjadi tuntunan. Alih-alih menjadi tuntunan, sinetron dengan paradigma demikian malah berpotensi menjadikan iman sebagai cita-cita tanpa basis realitas. Di sini, iman lebih merupakan harapan yang dititipkan pada sinetron di layar kaca, ketimbang apa yang mungkin dekat dengan keseharian kita. Jika ini yang terjadi, agama berhenti menjadi sebatas fantasi.  

Dengan berkedok atribut Islam, televisi memacu mesin hasrat penontonnya untuk “menjadi” Islam, dengan cara mengkonsumsi sederet simbol hasil komodifikasi. Itu jugalah yang menjadi kebanyakan “iman” sinetron islami. Islam didefinisikan tidak lebih dari jilbab, ustaz yang soleh luar biasa, baju koko, kurma, tausiyah, dan petuah. Alhasil, Islam adalah pakaian tanpa badan.

Pada struktur diskursif televisi yang demikian, sulit menemukan pelajaran yang justru dibutuhkan masyarakat. Namun, di tengah padang pasir sekalipun, tentu selalu ada oase. Di tengah kepungan tayangan yang seolah-olah “islami”, masih ada yang memberi kita harapan, bahwa beriman dalam keseharian itu memungkinkan.

Bagi saya, oase itu adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Bila kebanyakan sinetron menampilkan parade keimanan tanpa noda—seolah beriman tidak mungkin menjerumuskan kita pada suatu “panggung” di mana iman menjadi sekadar berakting—PPTjustru memperkenalkan modus keberimanan yang bersahaja dan jujur. Iman bukanlah kemewahan untuk menolak dunia, namun sebaliknya, ia tumbuh dan hidup dalam upaya meresponsnya.

Upaya untuk mengetengahkan Islam dengan cara yang lain, mula-mula dapat kita lihat dari penanda-penanda seperti nama tokoh dan pakaian yang dikenakan. Tokoh Ustaz Ferry yang diperankan oleh Akrie Patrio merupakan sosok yang dihormati di desanya. Kendati seorang ustaz, ia tidak bermewah-mewah memiliki nama dalam bahasa Arab. Begitu juga dengan Deddy Mizwar yang berperan sebagai Bang Jack. Namanya sama sekali jauh dari kesan “religius”. Perannya sebagai marbut musala dan guru agamalah yang menempatkannya sebagai tokoh religius. Dengannya, PPT tidak membiasakan kita untuk menilai sesuatu dari permukaan paling luar.

Meskipun demikian, bukan berarti sinetron yang disiarkan SCTV ini alergi dengan identitas Islam yang identik dengan Arab. Kita masih mengenal nama tokoh seperti Azam dan Jalal. Namun, pada saat bersamaan nama-nama tersebut juga bersandingan dengan nama-nama yang terkesan “sekuler” seperti Baron, Chelsea, dan Juki (tiga remaja yang tinggal di musala untuk belajar agama pada Bang Jack). Semua tokoh tersebut adalah orang-orang yang digambarkan dekat dengan agama dan Tuhan. Artinya, PPT berangkat lebih jauh dari pada sekadar melekatkan agama pada nama-nama, sebagaimana yang selama ini menjadi modus sinema Islam pada umumnya.

Begitu pula halnya dengan pakaian. Seorang ustaz seperti Ferry tidak melulu berbaju koko atau gamis. Lebih sering ia berpakaian seperti halnya petani yang hendak ke ladang: caping, celana pendek, dan golok di sabuknya. Ustaz bukanlah manusia satu dimensi, di mana hidupnya hanya  agama dan akhirat. Mengetengahkan pekerjaan dalam penceritaan bisa juga dinilai sebagai upaya untuk menghargai kompleksitas subjek. Inilah satu hal yang kerap kali  diringkus oleh paradigma bercerita yang satu dimensi (logika hitam putih).

Namun penghayatan yang berbeda ditunjukkan PPT. Kompleksitas subjek (tokoh) diterima sebagai bagian yang ikut membangun cerita dan konflik di dalamnya. Dalam salah satu kisah misalnya,  seorang alim seperti Ustaz Ferry pernah juga terjerumus untuk berkata bohong. Demi menghalau rasa malu pada istrinya karena pulang tidak membawa uang, ia terpaksa bilang bahwa pisang di kebun dicuri orang, sehingga ia tidak dapat memanennya. Sebagai seorang pemuka agama, ia bukan tidak tahu bahwa berbohong itu dilarang. Namun, sebagai suami, ia perlu juga menjaga harga dirinya.

Perkara ini tidak serta merta menjadikan Ustaz Ferry sebagai tokoh antagonis. Siapa pun yang pernah menonton PPT, tentu tahu bahwa ia adalah guru agama yang baik dan dihormati. Sinetron ini tidak berupaya memasukkan tokoh-tokohnya dalam kotak baik dan buruk, di mana batas perannya semata ditentukan oleh kategori tersebut. Kasus yang terjadi dengan Ustaz Ferry juga dialami oleh tokoh-tokoh protagonis lainnya. Perayaan atas subjektivitas yang kompleks, melahirkan narasi yang lebih bersahaja dan jujur dalam menafsirkan keberimanan.  

Persoalannya adalah, dalam diri setiap manusia berkelindan banyak kepentingan yang tidak selalu dapat berjalan beriringan. Keinsafan akan hal ini, tampak jelas dalam narasi PPT. Benar dan salah tidak melekat begitu saja pada diri seseorang. Tidak karena ia ustaz, seseorang akan selalu benar, dan sebaliknya, bukan tidak mungkin ada kebenaran dalam diri seorang tukang ojek atau penjahat sekali pun. Konsekuensinya, kita tidak pernah menemui tokoh yang benar-benar jahat atau pun benar-benar baik dalam sinetron ini.

Melalui kompleksitas cerita PPT, setidaknya kita dapat belajar bahwa memisahkan benar dan salah bukanlah hal mudah. Tidak ada kebaikan yang penuh pada dirinya sendiri, begitu juga tidak ada keburukan yang mutlak. Pada yang baik mungkin saja mengandung kesalahan. Pun pada yang buruk  berpotensi menghadirkan kebenaran. Kita mungkin berbuat baik tapi belum tentu benar. Kita bisa saja benar namun belum tentu baik. Tepat pada konteks inilah, nalar jadi berkah Tuhan bagi kita.

Itulah mengapa umat Islam diperintahkan berpuasa: untuk berlatih memeriksa motif-motif tindakan kita. Misalnya, belajar mencurigai diri sendiri agar tidak cepat puas dengan sedekah yang dilakukan tanpa bertanya untuk apa kita bersedekah, atau, memeriksa diri apakah kita benar-benar menolong orang atau sekadar mencitrakan diri sebagai penolong. Godaan duniawi (hasrat untuk riya’ dan kekuasaan) bukan hanya milik mereka yang selama ini masuk kategori “tidak beriman”. Pada siapa kategori “beriman” melekat, ancaman yang sama juga mengintai. Hal inilah yang menurut saya menjadi kelebihan PPT dibandingkan dengan sinetron-sinetron berlabel Islam lainya, yang sering sekali tergesa menegaskan keislamannya lewat pelbagai praktek yang vulgar dan reduktif. Sinetron yang demikian hanya akan mengisolasi benar dan salah dari ruang dan waktu yang melingkupinya.

Iman yang berdimensi ruang dan waktu juga ditemukan dalam PPT. Ada masa di mana seorang tokoh begitu beriman dan ada masa ia meragukan keadilan Allah. Seorang yang begitu beriman dan telah menenuhi panggilan Allah untuk berangkat haji, bisa saja meragukan keadila-nNya ketika sepulang naik haji ia menemukan usahanya bangkrut (cerita tokoh Asrul). Dalam waktu yang tidak begitu lama, manusia dapat saja berubah. Iman adalah sesuatu yang terus diraih; bisa hilang bisa juga datang. Namun justru karena itulah, iman menjadi suatu hal yang mungkin bagi siapa pun. Iman bukan keniscayaan, ia perlu diusahakan dan dirawat. Justru dalam kerangka inilah puasa menemukan relevansinya.

Benar dan salah adalah keniscayaan yang akan melekat pada diri manusia. Karenanya yang terpenting bukanlah menjadi suci, sebab kesempurnaan hanya milik Tuhan. Apa yang penting bagi individu reflektif adalah kesediaan untuk terus menerus mengenali kesalahan. Humor adalah salah satu metodenya. Humor tertinggi adalah menertawakan diri sendiri. Modus inilah yang menjadi pilihan PPT.

Humor dalam PPT adalah konsekuensi logis dari modus keberimanan yang dihadirkan. Sebagai contoh adalah ketika Bang Jack ditanya oleh salah seorang muridnya, Chelsea, “Kenapa kita mesti dekat dengan Allah?” Dengan nada meremehkan Bang Jack bertanya balik, “Masa gitu aja nggak tau?” sambil di saat bersamaan meminjam ponsel milik Chelsea untuk menelepon seseorang. Padahal, secara diam-diam ia menelepon Ustaz Ferry untuk bertanya hal yang sama. Ketika Bang Jack mengembalikan ponsel dan siap menjawab, Chelsea mengetahui tindakan itu. Mereka pun tertawa bersama.

Sebagai seorang guru, Bang Jack tidak malu untuk ikut tertawa, meskipun muridnya sedang menertawakan dirinya yang berlagak sok tahu. Humor, dengannya adalah cara menerima kekurangan dengan ikhlas. Dengan ikut tertawa, ia telah mengajarkan pada muridnya: penghormatan bukan hanya saja dibangun atas pengetahuan, namun juga keinsafan akan ketidaktahuan.

Setidaknya dalam konteks inilah, bagi saya, PPT merupakan suguhan menyegarkan di tengah kekeringan hikmah dalam sinetron bercitra islami, yang belakangan telah mereduksi Islam sebatas tanda-tanda bernilai jual. Maklumlah, televisi memang tidak pernah berpuasa. Namun, kita bisa. Salah satu hakikat puasa adalah belajar memilih di antara banyak pilihan. Memilih untuk tidak makan meski banyak opsi makanan. Memilih tidak berbohong, meski kesempatan selalu ada. Hak Anda sepenuhnya untuk memilih tayangan mana yang bermanfaat bagi puasa Anda atau bahkan memilih untuk berpuasa dari televisi. Namun bagi saya, pilihan itu adalah Para Pencari Tuhan. Wassalam. []