Siapa sih yang tidak jatuh hati menyaksikan ulah si kecil Baim? Wajahnya imut, badannya montok, senyumnya menggemaskan. Begitu tampil dalam sebuah iklan, Baim menarik perhatian para pemburu bakat, dan ia pun didapuk membintangi berbagai judul sinetron. Tentu saja, semua ini membuat nama dan “harga” Baim semakin meroket.

Baim tidak sendiri. Sebelumnya, si centil Amel Carla juga sudah menarik perhatian penonton, lewat perannya dalam serial situasi komedi (sitkom) Suami-Suami Takut Istri (SSTI) di Trans TVLalu, sekarang, dunia televisi menghadirkan Cinta Rahmania Putri Khairunisa, yang lebih dikenal dengan sebutan Cinta Kuya. Bapak-ibunya sudah lebih dulu terkenal: sang ibu adalah mantan model, sementara sang ayah, Uya Kuya, adalah presenter, penyanyi, pemusik, dan belakangan memproduseri sekaligus membawakan tayangan reality show Uya Emang Kuya (SCTV)Setelah diterjunkan ke dunia hiburan oleh sang ayah, Cinta pun mulai tampil pada berbagai tayangan. Yang paling tersohor tentu saja Cinta Juga Kuya (SCTV).

Apa yang dilakukan bintang-bintang kecil yang bersinar terang di layar televisi ini? Banyak. Mereka menghibur pemirsa dalam berbagai sajian. Main musik, menyanyi, menari, main sulap, jadi presenter, akting, melawak, dan aneka bakat lain. Beberapa selebritas cilik malah merupakan regenerasi dari orangtuanya. Cinta adalah contohnya. Hal ini yang banyak ditemukan di jaman 1970-an. Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Bobby Sandhora, Santi Sardi, dan Yoan Tanamal adalah contoh sederet selebritas cilik yang meneruskan pekerjaan orangtuanya.

Ada juga sebagian dari mereka yang ditemukan secara tak sengaja. Begitulah kisah Baim ketika menemani kakaknya ikut casting. Alih-alih memilih sang kakak, produser justru terpikat pada Baim.

Nama-nama lain ditemukan dari ajang audisi dan adu bakat. Sebut saja Indonesia Mencari Bakat (Trans TV), Mama Mia (Indosiar),Idola Cilik (RCTI), dan Pildacil (ANTV). Dari sini kita melihat bahwa apa saja bisa dijual. Mulai dari kemampuan menyanyi, main film, bergaya bak foto model, menari, akrobat, sulap, melawak, berdakwah, sampai “membaca pikiran orang lain”!

Terlepas dari isi tayangannya, anak-anak yang tampil di televisi ini berhasil menghibur sebagian pemirsa televisi kita. Tapi masalahnya, hiburan macam apa yang mereka hadirkan? Ini kaitannya dengan nilai positif apa yang diperoleh khalayak. Selain itu, bagaimana industri televisi kita sendiri memperlakukan anak-anak tersebut? Tampaknya, hal semacam ini juga perlu kita kupas sedikit.

Mari kita mulai dari iklan.

Dalam laporannya pada 2010, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) menghitung, bahwa dalam sebuah tayangan anak berdurasi 30 menit, terdapat setidaknya 30 sisipan iklan. Ini berarti, dari 30 menit waktu yang dialokasikan untuk program tersebut, sepertiganya—10 menit—diisi oleh iklan. Produknya tentu disesuaikan dengan sasaran pasarnya: anak dan orangtuanya. Maka, iklan-iklan untuk anak didominasi oleh produk makanan mulai dari camilan (yang diragukan kandungan gizinya), hingga restoran (kebanyakan fast food chain, juga diragukan kandungan gizinya). Jadi dari sisi ini, anak sebagai penonton sudah diasuh untuk menjadi konsumen yang tidak sehat. 

Sekarang, kita lihat bintang iklan anak-anaknya. Pada 20 April 2012, misalnya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan imbauan yang ditujukan pada iklan susu Nutrilon Royal. Pasalnya, “Siaran iklan tersebut tidak memperhatikan larangan atas adegan seksual serta perlindungan terhadap anak karena menayangkan adegan ciuman dua orang anak dalam air melalui pengambilan gambar secara close up”(Imbauan KPI No. 275/K/KPI/04/12).

Mari berkaca pada Kanada. Negara ini memiliki beberapa peraturan penyiaran iklan televisi yang ketat untuk produk anak-anak. Salah satu aturan, misalnya, menyatakan bahwa iklan anak-anak tidak boleh diisi oleh adegan-adegan yang berbahaya bagi anak, maupun orang dewasa. Masih ingat iklan Biskuat? Adegan iklan yang memperlihatkan anak yang makan Biskuat mampu melompat melewati beberapa anak yang berbaring di bawahnya—dalam busana olahraga bela diri—bakalan tidak lolos ditayangkan di Kanada.

Aturan lain dalam regulasi tersebut menyatakan bahwa iklan TV tidak boleh menampilkan bintang-bintang tayangan televisi anak. Maksudnya untuk mengurangi daya bujuk iklan. Waduh, bandingkan dengan iklan produk anak di televisi Indonesia. Baim, misalnya, muncul di salah satu produk camilan anak. Selain itu, peraturan di Kanada bahkan sedemikian rinci hingga menetapkan jangka waktu pemakaian kata “new” atau ”introducing”. Apabila melanggar, maka publik boleh mengadukannya sebagai bentuk penipuan. Pfiu! Seribet itukah? Ya. Intinya, no brainwashing!

Berbeda dengan aturan di beberapa negara maju yang sangat  ketat, di Indonesia, kode etik periklanan yang mengatur adegan, produk, maupun bintang iklan anak-anak, terkesan dikesampingkan dan justru menjadi bagian dari tontonan anak yang tidak diatur secara spesifik (Hendriyani, 2010).

Lantas, bagaimana dengan sinetron—primadonanya televisi? Marilah kita cermati beberapa sinetron anak dan peran bintang cilik di dalam sinetron. Awalnya, saya gembira karena beberapa stasiun TV memutuskan untuk menggarap sinetron anak-anak. Tapi, belakangan, saya syok juga melihat Si Entong (MNC TV) mengomodifikasi agama. Misalnya, sebelum munculnya keajaiban yang diciptakan Entong, ada ritual membaca Al-Fatihah atau ayat-ayat Al-Quran lainnya. Hal ini seakan memberikan pembelajaran bahwa betapa mudahnya menyelesaikan masalah hanya berbekal kantong ajaib dan “abrakadabra” yang dibungkus dengan ayat-ayat Al-Quran. Selain itu, ia kerap dihadirkan menggarap konflik dengan sudut pandang dewasa. Akibatnya, sinetron anak pun diwarnai kekerasan—utamanya kekerasan verbal—yang sayangnya, kerap vulgar.

Lain hal adalah kesuksesan film layar lebar, Heart, yang diikuti oleh produksi sinetron Heart Series di SCTV. Tak ada yang salah dengan hal semacam ini. Laskar Pelangi pun melakukan hal yang sama. Masalahnya, Heart Series dibintangi oleh anak-anak, dan mengadegankan mereka berpacaran, lengkap dengan segenap intrik, romansa, dan konflik tak berujung pangkal. Dalam salah satu episode, adegan Farel (tokoh utama) yang berkhayal mencium Rachel, misalnya, sangat tidak pantas untuk ditonton anak-anak. Banyak orangtua mengeluhkan tayangan ini. Yang membuat kita tidak habis pikir adalah tega-teganya produser maupun sutradara sinetron tersebut membuat jalinan cerita yang tidak masuk akal buat anak-anak. Apakah mereka tidak pernah menjadi anak-anak? Apakah mereka tidak punya masa kecil yang utuh sebagai anak-anak?

Kalau sinetron anak saja sudah gawat, lantas, bagaimana dengan keterlibatan anak dalam sinetron dewasa? Inilah yang terjadi pada Amel di Suami-Suami Takut Istri. Dia dianggap lucu karena bisa memparodikan “kebijaksanaan” dan “pengetahuan” orang dewasa untuk menyentil karakter-karakter dalam sinetron. Rumus sitkom memang begini: mengeksploitasi kelucuan dari kecerdasan mengolah paradoks.

Masalahnya, pembelajaran macam apa yang bisa diperoleh dari adegan anak yang sok tahu ini? Sesungguhnya, agak mengerikan ketika anak-anak dilibatkan pada masalah domestik khas orang dewasa. Dunia anak-anak “tercemari” oleh persoalan orang dewasa! Dan untuk yang seperti ini, penonton terbahak-bahak. SSTI pun dianggap sukses karena berhasil menasihati dengan sentilan tanpa terkesan menggurui, antara lain, lewat sosok bocah cilik Amel. Sulit bagi saya untuk memahami bagaimana orang bisa sedemikian ceroboh mengorbankan anak-anak dan dunianya untuk menarasikan dan menyelesaikan persoalan-persoalan orang dewasa. Peran anak lain dalam sinetron dewasa adalah menjadi korban yang dikerasi sekejam-kejamnya untuk memancing air mata dan turut berintrik dengan tokoh-tokoh antagonis untuk membakar emosi. Dua-duanya sama-sama nggak oke dan cuma bikin mual saja kalau ditonton.

Belakangan, seorang Cinta muncul dalam program yang diarahkan ayahnya. Asyik juga sih, melihat anak-anak jago main sulap. Namun, ternyata sulap Cinta hanya muncul dalam beberapa episode awal. Selanjutnya, yang diekspos pada publik adalah kemampuan Cinta menjelajahi “dunia lain”: mulai dari membaca pikiran orang lain, sampai melihat sosok-sosok tak kasat mata yang berada di sekeliling bintang tamu. Kontroversi seputar Cinta berhenti pada keterkejutan pemirsa pada model tayangan ini. Yang bikin publik penasaran adalah celoteh Cinta mengenai dunia makhluk halus ini. Publik justru tidak mempermasalahkan, bagaimana seorang anak yang polos dieksploitasi sedemikian rupa untuk memberikan pembelajaran yang tidak sepantasnya mengenai semesta tempat kita hidup, yang disempitkan hanya untuk bikin bulu kuduk merinding. Dan untuk segala kehebohan ini, Cinta sudah mengoleksi empat piala—di antaranya, prestasi sebagai Selebriti Cilik Paling Infotainment dari SCTV! 

Selebriti Cilik Paling Infotainment? Maksudnya? Yah, memang tidak jauh sih dari apa yang dilakukan Cinta sekarang ini. Berhenti berurusan dengan dunia halus, Cinta kini menjadi pewawancara, yang dengan gaya anak-anaknya, menelanjangi sisi personal selebritas yang menjadi tamunya. Tidak beda dengan apa yang dilakukan oleh para presenter infotainmen kita. Buat saya, ini kenyataan yang menyedihkan. Tega betul Cinta dilibatkan dalam tayangan yang mengumbar rahasia personal menjadi hiburan publik.

Masih banyak ragam acara anak lainnya, yang memajang anak-anak sebagai bintangnya, tapi tidak memberikan pembelajaran yang baik bagi penonton anak-anak. TV, dalam hal ini, gagal mengolah talenta selebritas cilik ini menjadi sesuatu yang berarti bagi mereka maupun penontonnya. Kalau sudah begini, tampaknya, televisi kita memang tidak ramah anak. Mereka tidak ramah pada penonton anak-anak, juga tak ramah dalam memperlakukan bintang-bintang ciliknya. Nah, bagi  orangtua yang mengidolakan selebritas cilik dan ingin menjadikan anaknya seperti mereka, harus menimbang dengan serius harga yang sangat mahal yang mesti dibayar. Harga tak ternilai itu, salah satunya, berupa hilangnya masa kecil ananda yang innocent[]