Perempuan memang bukan isu baru dalam hal kritik terhadap media. Namun alih-alih mengalami perubahan yang lebih baik, perempuan tetap menjadi sasaran empuk industri media yang keberadaannya hanya dilihat sebagai komoditas. Media massa masih menampilkan perempuan dalam posisi subordinat, posisi tak setara, terhadap laki-laki. Meskipun kadang samar, tetapi masih cukup mudah untuk menemukan “kejanggalan-kejanggalan” pada konten media massa terkait dengan perempuan.

Di antara media massa lainnya, televisi lebih unggul dalam menampilkan hal tersebut. Dengan kemampuannya mengkonstruksi realitas secara lebih lengkap menggunakan teknologi audio-visual, televisi mampu mendefinisikan secara lebih jelas apa yang dimaksud dengan perempuan yang dianggap “normal” dan “ideal”. Idealisasi perempuan ini kerap ditampilkan melalui peran, sifat maupun fisiknya.

Terkait dengan peran, dalam beberapa iklan misalnya, masih diperlihatkan bahwa ranah domestik (seperti mencuci dan memasak) adalah sepenuhnya milik perempuan. Sedangkan terkait dengan idealisasi sifat perempuan, dalam  sinetron misalnya, digambarkan tokoh utama biasanya adalah seorang perempuan yang sangat baik namun sangat lemah dan selalu dianiaya oleh tokoh perempuan yang sangat jahat dan selalu memiliki banyak strategi untuk menindas. Sinetron seakan hanya menawarkan dua versi perempuan: perempuan tertindas dan perempuan yang sangat jahat. Ini memperlihatkan adanya pemiskinan ragam karakter perempuan, sekaligus memperkuat dua mitos tentang perempuan, yaitu perempuan sebagai makhluk tertindas dan perempuan sebagai sumber kejahatan.

Kemudian dari segi idealisasi fisik, (lagi-lagi) iklan, terutama iklan produk perawatan tubuh, membangun konsep kecantikan sesuai dengan kepentingan produknya. Sejatinya memang itulah peran iklan: mempersuasi khalayak agar membeli produk si pengiklan. Tapi yang jadi masalah adalah ketika iklan-iklan produk kecantikan semacam ini  mempersempit konsep cantik. Sehingga para perempuan yang berada di luar konsep cantik tersebut, didorong untuk merasa tidak nyaman atas dirinya sendiri. Ditambah lagi dengan bumbu-bumbu cerita, seperti pada iklan yang memperlihatkan bagaimana seorang perempuan yang telah menggunakan produk akhirnya mendapatkan perhatian laki-laki. Kecantikan kemudian dihadirkan sedemikian rupa sebagai aset utama perempuan. 

Serupa manekin dan pemanis, begitulah perempuan diperlakukan di televisi. Lewat narasinya, televisi mempertegas bahwa kelebihan perempuan cukuplah sebatas wajah dan tubuhnya saja. Sedangkan aktivitas dan prestasi perempuan tidak diperlukan karena dianggap tidak penting. Singkat kata, terkait dengan isu perempuan, televisi adalah ladang kritik karena ia terus menerus mengulangi kesalahan-kesalahan klasiknya dengan mendiskriminasi perempuan.

Perempuan dan Tayangan Malam Hari

Penggambaran perempuan secara diskriminatif terutama dapat diamati pada siaran televisi menjelang tengah malam. Pada waktu tersebut, televisi lebih ”kasar” dalam menampilkan bentuk diskriminasinya terhadap perempuan. Misalnya dulu tayangan Empat Mata (Trans 7)—kini Bukan Empat Mata—yang beberapa kali sempat mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan salah satunya karena kerap cabul dan melecehkan perempuan. Kasus yang sering terjadi adalah ketika Tukul, si pembawa acara, menaruh tangannya di kursi saat seorang bintang tamu perempuan akan duduk Walau tak kena, tapi niat melucu ini tentu bernada pelecehan.

Tayangan lain yang juga menghadirkan perempuan sebagai pemanis dan objek semata adalah Kakek Kakek Narsis (KKN) di Trans TV. Seperti Bukan Empat Mata, KKN juga sempat mendapat teguran dari KPI. Jumlahnya dua kali. Teguran pertama disampaikan pada November 2011, sehubungan dengan salah satu episode KKN yang dianggap mengandung unsur pornografi, di mana Nikita Mirzani yang berperan sebagai perawat (nanny) menggoyang-goyangkan payudaranya secara vulgar. Namun KKN masih saja bandel dengan menampilkan hal serupa di Desember 2011. Sehingga KPI kembali  menyampaikan tegurannya pada Januari 2012.

Setelah dua teguran tersebut, KKN tidak lagi menghadirkan Nikita Mirzani. Dari peniadaan Nikita ini, terlihat seolah-olah perempuan adalah pelaku sekaligus penyebab masalah. Sepertinya masalah sudah selesai dengan menghilangkan Nikita. Ia tidak dilihat sebagai “korban” dari konsep KKN yang memposisikan perempuan sebagai objek seks, tapi justru sumber masalah. Baik basis teguran KPI maupun “solusi” KKN atas teguran tersebut sebenarnya sama-sama melihat perempuan sebagai sumber masalah, bukan sebagai korban objektifikasi: melihatnya hanya dalam ranah pornografi, yang bukanlah menjadi persoalan mendasar.

Setelah Nikita tidak lagi tampil pun, KKN masih tidak “ramah” terhadap perempuan.  Misalnya pada episode Gym (4 April 2012), tayangan ini kembali mendiskreditkan perempuan. Dalam sebuah adegan ketika Kartika Putri yang berperan sebagai nannymengatakan bahwa dirinya suka pergi ke gym, Ronal Surapradja yang berperan sebagai salah satu aki mengomentari, “Oh, suka ke gymPantesan gede,” sambil menunjuk ke arah payudara nanny. Lanjutnya dengan bercanda, “Badannya yang gede”. Lalu ia juga memegang-megang lengan nanny Kartika sebagai bentuk kekaguman. Menanggapi candaan mesum si aki, sang nanny hanya tersenyum tanpa melawan. Adegan ini memperlihatkan bagaimana perempuan tidak bisa menegosiasikan posisinya ketika berhadapan dengan lelaki. Televisi mendidik perempuan sebagai objek yang cukup harus diam dan sabar ketika direndahkan.

Lain KKN, lain pula Mata Lelaki yang ditayangkan Trans 7 tiap Rabu pukul 23.30 WIB. Seperti yang dikutip dari sinopsisnya, tayangan bergenre dokumenter ini berisi tentang “persepsi sebagian laki-laki, mengenai segala hal yang menjadi tren, segala hal yang ada di sekitar laki-laki, dan segala hal tentang wanita.” Tayangan ini dipandu oleh Putri Anggraini, yang tentu saja, seperti nanny di KKN, juga mengenakan busana seksi. Mata Lelakimemperlihatkan bagaimana Putri membawakan acara sambil berlenggak-lenggok dan menggunakan nada bicara ala presenter infotainment, sembari tiduran di sofa dengan pose yang menggoda.

Seperti KKN, dari segi konten, Mata Lelaki juga tampak mendiskreditkan perempuan. Pada salah satu episode tentang “Santet” misalnya, seorang sutradara film horor Indonesia menyatakan bahwa film horor laku dijual, apalagi ditambah dengan bumbu seks. Setelah ia selesai mengucapkan kata “seks”, adegan langsung beralih ke pengenalan profil salah satu bintang film horor, Jeny Cortez. Jeny menyatakan bahwa dalam filmnya, ia harus memainkan adegan yang menjurus ke seks yang liar. Di sini terlihat seakan ada upaya dari tayangan ini untuk mengasosiasikan perempuan dengan seks.

Dari tayangan-tayangan tadi kita dapat melihat bagaimana perempuan direpresentasikan melalui siaran televisi menjelang tengah malam. Dampak substantif akibat tayangan-tayangan demikian yaitu, perempuan dan tubuhnya diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Maka tidak heran mengapa sang nanny di KKN dan pembawa acara di Mata Lelaki harus memakai pakaian seksi. Toh, bagi tayangan berlabel dewasa tersebut, yang penting adalah bagaimana perempuan dapat tampil memikat sebagai objek seks. Lebih lanjut lagi, tayangan sepertiKKN dan Mata Lelaki membuat seolah objektivikasi terhadap perempuan adalah sesuatu yang wajar. Sudah sewajarnya tubuh perempuan ditonton dan disentuh seenaknya!

Bahkan para perempuan yang menonton KKN secara langsung di studio diperlihatkan tertawa ketika para kakek mesum ini menjadikan perempuan sebagai bahan lelucon seks. Tawa para perempuan tersebut seakan memberikan pengesahan, bahwa lelucon-lelucon yang cenderung merendahkan perempuan adalah sesuatu yang biasa dan memang patut dijadikan bahan tertawaan, bahkan oleh perempuan sendiri. Di sini diperlihatkan bahwa perempuan seolah mengamini objektivikasi atas diri mereka sendiri. Sehingga bisa diamati, bagaimana televisi dengan caranya yang begitu halus, misalnya lewat humor, mampu menguatkan citra perempuan sebagai objek seksual. Dengan kata lain, televisi, lewat tayangannya, berpotensi mereproduksi mitos bahwa “perempuan adalah objek seksual”. Dan penayangan pada malam hari semakin dijadikan pembenaran atas segala tindak-tanduk TV. Padahal bukan berarti label dewasa serta jam tayang malam hari dapat dijadikan tiket yang memperbolehkan televisi melecehkan perempuan.

Televisi dan Budaya Patriarki

Mengapa televisi menggambarkan perempuan secara diskriminatif? Pertanyaan ini kiranya dapat dijawab dengan singkat melalui dua kata, yakni budaya patriarki. Budaya inilah yang melegalkan penempatan perempuan dalam posisi inferior. Ketika menggambarkan perempuan, televisi bersama logika bisnisnya pun mengadopsi nilai-nilai patriarki ini dan memasukan nilai-nilai tersebut ke dalam tayangan-tayangannya.

Patriarki sendiri bisa diartikan sebagai sistem struktur dan praktek sosial di mana laki-laki mendominasi perempuan. Implikasinya yaitu, perempuan didefinisikan menurut perspektif laki-laki. Keberadaan perempuan hanya dilihat sejauh perannya bagi laki-laki. Budaya yang menyudutkan semacam ini sudah mengendap sejak lama dan diterima begitu saja oleh masyarakat pada umumnya.

Budaya patriarki jugalah yang membuat perempuan di televisi direpresentasikan berdasarkan sudut pandang laki-laki. Logika ini menjelaskan mengapa pada kebanyakan acara televisi perempuan harus tampil cantik dan seksi seolah-olah hanya laki-laki yang menonton acara tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Liesbet van Zoonen (1994) yaitu bahwa berdasarkan pendapat para feminis, media menciptakan perempuan sebagai istri, ibu, penjaga rumah untuk para pria, objek seks untuk menjual suatu produk kepada pria, dan seseorang yang tampil cantik untuk pria. Penggambaran perempuan semacam ini dalam televisi, terus menerus hadir sebagai konsekuensi media yang patriarkis.

Mata Lelaki misalnya, lewat judul saja sudah menyatakan secara gamblang bahwa tayangan tersebut mewakili perspektif lelaki. Lensa kamera pada tayangan-tayangan ini dapat dianalogikan seperti mata para lelaki yang menonton tubuh perempuan Bahkan oleh Mata Lelaki, para lelaki sendiri digeneralisir menjadi mata keranjang yang hanya melihat perempuan sebagai objek. Maka kita pun diajak memaklumi mengapa si pembawa acara harus memperlihatkan lekuk tubuhnya dan berjalan dengan berlenggak-lenggok demi memancing berahi. Maka menjadi masuk akal mengapa tayangan-tayangan “maskulin” seperti Mata Lelaki dan KKN cenderung merendahkan perempuan dengan menempatkannya sebagai objek seks. Ya, budaya patriarki membuat hal semacam itu seakan wajar dan pantas dimaklumi.

Syahdan, harapan saya akan penggambaran perempuan yang lebih baik seperti akan terwujud pada KKN dalam episode Mitos yang ditayangkan pada 3 April 2012, yang menghadirkan seorang dokter perempuan sebagai salah satu bintang tamunya. Dokter ini mengatakan bahwa pria sejati adalah pria yang menghargai perempuan. “Harganya berapa?” celetuk Aki Ronal, yang membuyarkan harapan saya dalam sekejap. Ah, rupanya memang masih perlu dibenahi. []