Etika di dunia media, barangkali, bukan hal menarik untuk dibahas. Jauh lebih gampang memancing orang lain untuk terlibat jika bicara soal bagaimana kemajuan teknologi mengubah peta media, atau bagaimana konglomerasi menundukkan kemerdekaan wartawan, atau selingkuh politik para baron informasi dengan pejabat publik. Barangkali demikian.

Tapi etika penonton tetap perlu. Sebab, etika memuliakan kehidupan, menopang kita agar tidak terbenam lumpur media sehari-hari yang liat, lengket, dan menyesakkan.

Etika penonton sama penting dengan kode etik wartawan, hanya berbeda arah. Kode etik wartawan menerangi wartawan untuk memilih apa yang baik dilakukan saat pekerjaan menuntutnya memasuki wilayah remang-remang: suap atau bukan, hadiah atau rayuan, memuja-muja perusahaan atau mengutamakan khalayak umum. Memang, etika penonton tidak menjadi kode seperti itu, karena penonton bukanlah jenis pekerjaan. Meskipun demikian, etika penonton memandu penonton menyibak gunungan informasi, memilih mana susu mana tuba, dan melandasi tindakan berikutnya. Tulisan ini akan merenungkan etika yang khas di dunia media dari sudut pandang penonton, dilanjutkan dengan masalah etis kepenontonan terkini.

Etika dan Jarak

Sebenarnya media telah mengubah dunia yang menjadi landasan sistem etis kita. Dalam dunia tanpa media massa, jarak fisik mengatur mereka yang terdekat menjadi keluarga, agak dekat menjadi tetangga, lebih jauh merupakan orang asing, dan yang di luar batas adalah musuh. Berdasarkan perbedaan jarak dan penggolongan ini, orang membuat penilaian apa yang baik dan apa yang buruk, semisal, lebih mengutamakan yang dekat ketimbang yang jauh. Sekarang, media massa membuat orang terhubung terus-menerus dengan orang lain yang jauh, sehingga orang-orang di tempat, bahkan negeri, yang jauh pun menjadi tetangga. Akibatnya, muncul pertanyaan, siapakah tetangga? Siapakah yang dekat? Dan akhirnya, siapa yang diutamakan tidak lagi sesederhana dulu. 

Meskipun jauh secara geografis, kita bisa merasa terlibat dekat dan terlibat dengan orang-orang yang sebenarnya asing. Sebagai contoh, dulu pernah terkenal lagu “Ethiopia” karya Iwan Fals. Lagu dimulai dengan adegan mendengar rintihan warga Ethiopia yang kelaparan, sehingga nurani seperti ditikam, telinga robek, dan kita seperti telanjang. Siapakah "kita"? Kita adalah penonton yang "melihat kesekaratan di layar TV" tapi hanya bisa mendengar.

Atau contoh yang lebih baru, yakni ketika tsunami melimpas Aceh. Berbondong-bondong orang dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk menolong. Menolong siapa? Bukan saudara, bukan tetangga, tetapi warga sebangsa. Lantas, kalau kita bandingkan, manakah yang lebih terasa dekat? Apakah dorongan yang sama menggerakkan kita menolong warga Fukushima, atau Haiti, atau New Orleans? Meski sama-sama orang asing, keterlibatan khalayak dengan korban sebangsa seringkali lebih dalam ketimbang dengan korban dari bangsa lain. Dekat dan jauh dalam hal ini bukan lagi soal geografis, tetapi soal kesatuan sosial-budaya-politik yang salah satunya diteguhkan dengan media massa. Dan karena kesatuan sosial-budaya-politik ini adalah hal yang berubah-ubah, maka kedekatan kita terhadap orang lain juga berubah-ubah.

Etika dan Mediasi Kehadiran

Selain mendekatkan, media juga menghadirkan orang yang mangkir secara fisik. Namun media menghadirkan penderitaan orang lain dengan cara yang khusus, tidak benar-benar hadir seperti dalam kenyataan. Media menghadirkan penderita menggunakan kerangka cerita tertentu dan didasari persaingannya dengan media lain. Penderita dan korban dihadirkan di media sebagai tokoh dalam alur cerita yang ditetapkan, semisal korban kejahatan penguasa, korban penculikan tentara, korban penembakan, dan seterusnya. Kerangka cerita ini berisi peran-peran yang stereotipikal, juga alur yang klise. Contoh, tokoh korban yang ideal menurut media adalah perempuan, lansia, dan anak-anak. Dalam alur cerita yang klise, pribadi-pribadi nyata yang menjadi "pemerannya" sering kehilangan ciri pribadi, kekhasan persoalan, dan perbedaannya dengan korban yang lain.

Selain itu, kerangka cerita memudahkan khalayak segera menangkap makna kejadian dan menyediakan cara menanggapi yang dianggap tepat. Misal kata, Prita Mulyasari adalah korban Rumah Sakit Omni Internasional yang mesti kita selamatkan dengan memberi receh. Ratusan juta rupiah terkumpul. Tapi, apakah Prita korban rumah sakit ataukah korban Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)? Setelah Prita lepas, apakah tidak akan ada korban lain?

Media menjadi mata dan telinga masyarakat untuk melihat-mendengar serta melaporkan kembali apa yang tidak bisa masyarakat lihat secara langsung. Namun, media juga perusahaan yang mengejar laba dan harus bersaing dengan sesama media. Dalam menampilkan kejadian buruk, sering terlahir jurnalisme anut grubyuk akibat media satu tak mau kalah dari yang lain, yang melahirkan gelombang besar liputan dari banyak media dan segera surut meski masalah belum selesai.

Sebagai khalayak, kita seperti merasa dekat dengan sosok tertentu yang setiap hari dimunculkan, dan kemudian tiba-tiba kehilangan kaitan dengan sosok tersebut saat tidak ada lagi liputan tentangnya. Kepemilikan media yang terpusat di segelintir perusahaan besar turut membuat keadaan lebih buruk karena keragaman sikap dan sudut pandang menyusut.

Tahu dan Bertindak

Sesungguhnya ada jurang yang dalam antara “tahu melalui media” dan “cara kita bertindak”, seperti contoh lagu Iwan Fals tadi: jeritan Ethiopia yang hanya bisa didengar. Contoh lain, di waktu yang hampir bersamaan saat Mentawai terhanyut tsunami dan Gunung Merapi meletus. Keduanya hadir di media meskipun dengan derajat yang berbeda. Sekurang-kurangnya, orang sama-sama tahu keduanya, dan sama-sama tahu bahwa keduanya perlu pertolongan.

Manakah yang mendapat bantuan lebih besar? Yogyakarta. Karena bertindak di Yogyakarta jauh lebih mudah, dari segi biaya, waktu, jarak, sarana angkutan, dan lain-lain. Juga, karena mudah, maka media massa berbondong-bondong meliput Yogyakarta. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa persebaran pengetahuan mengikuti hukum-hukum media, sedangkan bertindak mengikuti hukum-hukum kenyataan, seperti kesempatan, sumber daya, niat, sarana, dan seterusnya.

Bahwa media mendekatkan kita dengan orang yang jauh dan asing, sekaligus menghadirkan mereka dengan cerita khas media, dan berdasarkan persaingannya dengan media yang lain adalah perkara etis yang baru. Media mengalirkan informasi secara tidak merata. Sebagian kelompok lebih leluasa mendapat informasi, sebagian tidak; sebagian kelompok lebih mudah masuk media, sebagian tidak. Di dalam media massa, penonton melihat penderita, tetapi penderita tidak dapat melihat penonton. Demikianlah terjadi ketimpangan akses dan representasi di media. Selain itu, dalam kenyataan tetap ada jarak fisik yang tak terjangkau membuat asas-asas etika keadilan tidak lagi memadai.

Etika Keadilan dan Etika Welas-Asih

Mari kita lihat bagaimana implikasi etis dari permasalahan media dan kepenontonan kini. Selama ini salah satu model etis yang kerap diajukan untuk memahami masalah dan memandu tindakan adalah model etika keadilan. Etika keadilan menyatakan bahwa apa yang baik, adalah baik bagi semua orang. Keputusan tentang apa yang baik ini bisa dicapai secara rasional dengan masukan informasi yang sempurna. Ini berarti, misalkan, asas bahwa setiap orang berhak atas makanan yang cukup haruslah berlaku bagi semua orang, termasuk para pengungsi akibat letusan Gunung Merapi.

Namun tidaklah cukup kalau hanya sekadar memastikan bahwa makanan tersedia bagi pengungsi. Padahal dalam kenyataannya, ada yang tidak mengungsi tetapi kesulitan makan akibat terjebak di suatu tempat, misalnya. Ada juga banyak pengungsi yang tidak tertampung di pengungsian resmi, sehingga tidak terliput media. Dengan demikian, etika keadilan tidak memadai untuk memandu kita mengambil keputusan tepat. Kelompok yang termiskin dari yang miskin pasti tidak terliput. Kelompok yang terpinggirkan secara sosial pastilah tidak masuk cerita media, juga kelompok yang sulit masuk dalam struktur cerita media. Dan makin jauh jarak fisik kita dengan mereka, makin sedikit yang bisa kita lakukan.

Kita perlu etika welas-asih yang memberikan tekanan pada empati dan perbedaan. Tidak semua orang sama seperti kita. Apa yang baik bagi kita dan banyak orang, belum tentu baik bagi kelompok tertentu.

Contoh kejadian nyata, berdasar kesaksian seorang relawan pada krisis Merapi 2010 lalu, ada satu dusun yang tinggal di atas tidak ikut turun mengungsi. Mereka kesulitan makan karena hujan abu terus-menerus, sedangkan mereka memang tidak akan turun. Menurut nalar polisi, sebaiknya mereka dibiarkan saja supaya kelaparan, sehingga nanti mereka akan turun dengan kemauan sendiri. Pemerintah setempat tidak tahu dan tidak punya waktu mencari tahu tentang mereka. Media massa sepenuhnya memperhatikan barak pengungsian besar saja. Etika keadilan menuntun kita untuk mengambil keputusan bahwa perlakuan yang sama harus diberikan kepada semua orang. Pelanggar prinsip kesamaan tidak memperoleh hak yang sama.

Namun, kita juga tahu bahwa warga dusun di lereng Merapi kesulitan menggalang dukungan logistik untuk diri mereka, jika tidak dibantu. Jangankan mencari bantuan, membahasakan mengapa mereka memilih tidak turun saja mungkin tidak mudah. Dan tidak mudah menyebarkan alasan ini agar diterima banyak orang pula. Akhirnya, teman relawan tadi mengirim relawan-relawan lain untuk mendatangi dan menjumpai mereka yang sudah sangat kekurangan makan dan hanya minum dari air hujan.

Etika welas-asih mengajak kita tidak hanya mengandalkan media massa sebagai perpanjangan mata dan telinga, karena media adalah mata dan telinga yang sangat pemilih, punya cerita sendiri, dan sibuk bersaing antarmereka. Etika welas-asih mengajak khalayak melampaui cerita-cerita klise media dan menanggalkan sikap empati cepat saji yang telah disediakan oleh media, termasuk segala macam dompet yang media massa sodorkan. Etika welas-asih mengajak kita sebagai khalayak menyelami penderitaan dari kacamata penderita itu sendiri, yang sering tak diliput media, yang tak punya kata untuk menjelaskan dirinya dalam kerangka pengetahuan yang dianggap lumrah, tetapi benar-benar memerlukan kita. []