Pengantar Redaksi: Tulisan berikut merupakan laporan dari pengamatan Divisi Penelitian Remotivi terhadap empat judul sinetron di televisi Indonesia. Pengamatan yang berfokus pada posisi atau penggambaran profesi/pekerjaan dalam cerita sinetron  ini mengambil Putih Abu-Abu (SCTV), Yusra dan Yumna (RCTI), Karunia (RCTI), dan Cinta Salsabilla (SCTV) sebagai sampel, khususnya pada penayangan antara 11-18 Maret 2012. Ini adalah tulisan pertama dari dua publikasi yang diterbitkan. Tulisan lainnya: Takdir di Atas Kerja.


Kerja di era modern merupakan kegiatan di mana manusia menghabiskan waktunya paling banyak. Mereka yang bekerja di sektor Industri, misalnya, minimal menghabiskan delapan jam sehari waktunya di kantor atau pun di pabrik. Para petani setidaknya butuh waktu setengah hari untuk bekerja di sawah tiap harinya selama musim tanam. Mereka yang bekerja di sektor informal, Pekerja Rumah Tangga (PRT) misalnya, bahkan mungkin menghabiskan hampir sepanjang harinya untuk melayani majikan (dalam contoh PRT yang tinggal di rumah majikan).

Bekerja di era modern adalah bagian dari identitas sosial yang penting. Bukan hanya sebagai penunjuk status sosial, namun juga merefleksikan cara pikir, pandangan hidup, dan nilai-nilai yang berlaku bagi seseorang. Petani dan pegawai bank, karena perbedaan latar belakang pekerjaan, tentu saja punya makna yang berbeda menyoal beras. Begitu juga dengan perbedaan nilai kerja yang dihasilkan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Misalnya, seorang seniman lukis bisa menjual satu lukisan karyanya dengan harga yang mungkin setara dengan gaji pegawai swasta selama satu tahun.

Singkat kata, kerja punya dimensi yang luas dalam hidup kita. Mulai dari jenis pengetahuan yang dikembangkannya, institusi di mana pengetahuan itu dipelajari, tempat di mana kerja itu dipraktikkan, sampai penghargaan masyarakat terhadapnya. Pertanyaannya kemudian: dari mana kita tahu perihal kerja?

Menurut Jean Baudrillard, dunia hari ini adalah dunia yang pertama-tama kita alami melalui mediasi citra. Kita tahu mengenai berbagai peristiwa di dunia lewat pemberitaan televisi, koran, dan atau Internet. Pengetahuan datang kepada kita melalui penggalan-penggalan tanda dan gambar yang dimediasikan melalui berbagai bentuk teknologi komunikasi. Hal ini pun turut berlaku pada pengetahuan kita ihwal kerja. Gagasan mengenai ragam kerja dan nilai yang terdapat di dalamnya, juga datang salah satunya dari televisi—medium yang menurut James Lull memiliki hak paling istimewa untuk membuat kita percaya.

Lewat berbagai produk seperti berita dan sinetron, “kerja” menjadi realitas yang dikemas televisi dan dihadirkan kepada kita secara berserak. Kepingan-kepingan informasi dari televisi itulah yang menjadi salah satu bekal kita bercita-cita dan atau belajar memahami pekerjaan saudara dan sahabat kita sebelum mengetahuinya secara personal. Berbeda dengan berita yang merupakan bentuk dari informasi faktual, sinetron adalah cerita rekaan. Meski demikian, sinteron sebagai produk budaya memiliki kelebihannya sendiri. Bila berita hanya potongan informasi yang tidak lebih dari dua atau tiga menit, maka sebenarnya sinetron punya waktu lebih banyak untuk mengetengahkan kepada kita perilhal kerja. Dengan durasi per episodenya mencapai satu hingga dua jam, dan disiarkan dari puluhan hingga ratusan episode, sinetron sebenarnya berpotensi untuk lebih menghadirkan kompleksitas kerja. Pun, bila berita adalah informasi yang sifatnya “kering”, maka sinetron sebagai sebentuk cerita mampu memberi nilai dan dramatisasi terhadap kerja dalam hidup kita, sehingga karenanya punya daya pikat lebih. Namun, bisa jadi itu juga sekaligus kekurangannya.

Nilai kerja dalam narasi sinetron tentu bukan sesuatu yang bersifat ahistoris. Justru sebaliknya: merefleksikan cara pandang masyarakat atau pun produsen teks (sutradara dan penulis skenario, misalnya). Proses penentuan jenis pekerjaan yang dipilih untuk menjadi pekerjaan tokoh pemeran utama, figuran, dan pembantu, tentu menggambarkan adanya pengoperasian suatu pola pikir tertentu. Dua dari empat sinetron yang kami teliti, menjadikan tokoh pemeran utamanya sebagai artis (Yusra & Yumna danKarunia), sementara pekerja domestik[1] (satpam dan PRT) melulu ditampilkan sebagai figuran (kecuali dalam Cinta Salsabilla yang menempatkan PRT sebagai pekerjaan pemeran utamanya—walau ini juga ada persoalan yang akan dibahas pada uraian di bawah), yang biasanya diposisikan sebagai objek cerita dan bukan subjek yang punya andil dalam menentukan arah cerita.

Sebagai bagian dari penelitian Remotivi, tulisan ini akan melaporkan hasil pengamatan kami atas empat sinetron, yaitu Cinta Salsabilla (SCTV), Putih Abu-abu (SCTV), Yusra & Yumna (RCTI), dan Karunia (RCTI), dalam kaitannya dengan penggambaran suatu profesi dan atau pekerjaan. Dari data yang kami kumpulkan, dokter, sipir penjara, satpam, dan PRT merupakan empat jenis pekerjaan yang paling banyak memiliki persebaran kemunculan dalam keempat sinteron tersebut (Tabel 1).

Dokter tercatat sebagai profesi yang tidak pernah absen dari keempat sinteron tersebut. Sipir penjara pun kurang lebih sama. Tiga dari empat sinetron yang kami teliti menampilkan jenis perkerjaan ini. Hal yang sama terjadi dengan satpam dan PRT. Dengan demikian, tulisan ini akan memfokuskan uraiannya mengenai bagaimana sinteron menggambarkan empat jenis pekerjaan tersebut.

PRT dan Satpam: Antara Kerja dan Pengabdian

Umum diketahui, inti pengolahan cerita sinteron adalah keluarga, setidaknya hal itu yang kami tangkap dari sinetron-sinetron yang kami teliti. Tema seputar perselingkuhan, percintaan, dan hubungan orangtua dengan anak, merupakan modus utama penceritaan. Konsekuensi darinya, rumah menjadi latar paling dominan di mana cerita terjadi. Alhasil, jenis perkerjaan domestik merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak muncul. Satpam dan PRT adalah dua pekerjaan domestik yang paling banyak mendapat ekspos (persebaran) dalam keempat sinetron tersebut.

Sebagai bagian yang tidak dapat dilepaskan dari rumah, satpam dan PRT hilir mudik dalam sinteron, memberikan warna pada cerita. Namun, tidak semua rumah di dalam cerita sinetron mempekerjakan satpam dan PRT. Rumah dalam hal ini, tentu saja merujuk pada rumah-rumah besar yang dihuni oleh kelas menengah ke atas. Cirinya adalah, halaman dan gerbang yang luas, di mana biasanya mereka menempatkan pos satpam pada bagian terdepan dari rumah.

Rumah mungkin saja panggung utama sinteron, namun bukan berarti pekerja domestik seperti PRT dan satpam memiliki makna penting dalam alur cerita. Hampir pada semua sinteron, satpam dan PRT merupakan pekerjaan yang diperankan oleh para pemeran figuran atau pun pemeran pembantu.

Kemunculannya bukanlah sebagai hal penting. Data yang kami miliki menunjukkan kemunculan satpam rata-rata tidak sampai 40 detik per adegan (Lihat Tabel 2). Terlepas dari itu, posisinya dalam penceritaan pun tidak memiliki signifikansi. Terkadang satpam muncul hanya ketika membukakan pintu gerbang saat majikan pulang ke rumah atau menyiram kebun sambil bersiul di saat pemeran utama hendak bertanya alamat. Kemunculannya yang singkat dalam tiap adegan, frekuensinya yang relatif sedikit, dan posisinya yang tidak signifikan dalam cerita, pada akhirnya menempatkan satpam sebagai  ornamen cerita, yang mungkin tidak akan teringat setelah kita usai menonton.

Perannya yang semata digambarkan sebagai penjaga gerbang (perumahaan atau pertokoan) atau kegiatan menyiram kebun, dapat dimaknai dalam dua kemungkinan. Pertama, satpam merupakan atribut yang dibutuhkan sebagai penanda kekayaan dari tokoh yang menjadi pemilik rumah atau mereka yang hendak ke pertokoan. Kedua, kehadiran satpam sekaligus sebagai simbol dari kebutuhan rasa aman bagi para pemilik rumah, toko, atau perumahan. Namun kedua kemungkinan itu tetap menunjuk pada satu hal, yaitu kekayaan. Kebutuhan akan keamanan ekstra biasanya datang dari mereka yang memiliki kekayaan atau mereka yang mampu membeli jasa keamanan. Kekayaan butuh satpam karena alasan keamanan. Dengan sendirinya satpam hanya dipekerjakan oleh mereka yang kaya.

Logika ini menunjukkan posisi satpam dalam penceritaan sinetron lebih sebagai atribut pencitraan bagi tokoh yang hendak digambarkan sebagai orang kaya. Dengan kata lain, pekerjaan satpam bukanlah sebagai subjek yang punya riwayat dan ikut andil bagian dalam cerita, melainkan semata-mata sebagai keharusan simbol dari kekayaan. Inilah kenapa kita hampir tidak menemukan satpam yang tidak diperankan oleh tokoh figuran.

Selain variabel pembagian peran, variabel intensitas kemunculan juga jadi ciri dari penting atau tidaknya suatu pekerjaaan dalam narasi sinetron. Terkait hal ini, PRT sedikit lebih baik daripada satpam karena kemunculannya yang lebih banyak. Pekerjaan PRT yang berkutat di dalam rumah, memberinya kemungkinan lebih banyak frekuensi mucul, karena keharusannya berinteraksi dengan pemeran utama. Sementara satpam, bekerja di pos jaga di luar rumah, yang sedikit sekali mendapat ekspos. 

Namun intensitas kemunculan yang lebih tinggi tidak serta-merta menempatkan PRT dalam posisi yang lebih baik. Sebagaimana halnya satpam, signifikansi yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh yang bekerja sebagai PRT juga sangat sedikit dalam penceritaan. Adegan-adegan yang melibatkan PRT biasanya hanya berupa mengantarkan minum ketika tamu datang, mandi sambil bernyayi hingga terdengar oleh majikan yang kemudian menegurnya, membukakan pintu, dan lain sebagainya. Hanya saja, posisinya yang strategis di tempat di mana cerita terjadi (rumah), menjadi sulit untuk mengabaikan PRT. Misalnya, dalam Yusra dan Yumna, tokoh PRT diperankan oleh pemeran pembantu yang bersikap protagonis. Tokoh Bibi—penyebutan panggilan peran PRT tersebut—sering kali berperan sebagai informan bagi Yusra atau pun Yumna, mengenai siapa yang berniat jahat kepada mereka.

Dalam kasus yang lain, peran Bibi dijadikan bahan lelucon. Misalnya ketika ia menuduh seorang teman Yumna mengintipnya ketika ia sedang mandi. Dengan nada yang marah namun diiring musik yang terkesan lucu, Bibi berkejaran dengan pria yang dituduhnya mengintip, sampai kemudian Yumna melerainya.  Melalui dua contoh tadi, kita bisa melihat bagaimana PRT diposisikan. Bila bukan sebagai figuran semata, PRT diposisikan sebagai pembawa informasi, baik bagi pemeran protagonis atau pun antagonis, tergantung peran PRT tersebut, baik atau jahat. Dan kedua, sebagai selipan humor dalam cerita. Intinya, kedua penggambaran tersebut tidak memperlihat kerja PRT, kecuali sebatas moralitas dan karakternya yang lugu lagi lucu.

Pertanyaannya: di mana penggambaran dimensi kerja PRT? Jika bukan sebagai figuran atau ornamen cerita (seperti dalam kasus satpam), maka yang mendapat sorotan adalah soal moralitas. Dimensi ini kentara sekali dalam kasus PRT. PRT yang baik adalah mereka yang berpihak kepada pemeran utama, bukan pada bagaimana ia bekerja. Jarang sekali diperlihatkan bagaimana sinetron menunjukkan kualitas kerja PRT dalam hal kebersihan dan kerapian mengerjakan pekerjaannya. Kalau pun ada, kualtas kerja yang dimaksud tidak pernah diurai dengan jelas, kecuali sebatas vonis dari majikan yang dibarengi teguran.

Seperti halnya satpam, sinetron tidak pernah memperkenalkan ihwal jam kerja atau hak dan kewajiban seorang PRT. Dimensi ini seolah melebur dengan narasi yang menempatkan PRT pada peran yang subordinat:  “pembantu” bagi pemeran utama atau sebagai selipan humor dalam cerita.

Namun pengecualian terjadi pada Cinta Salsabilla, di mana PRT diperankan oleh sang pemeran utama. Itu pun, sinetron ini tidak dengan sepenuh hati membiarkan tokoh utamanya menjadi PRT. Karena dalam beberapa kesempatan, sang pemeran utama, Salsabilla, juga membantu majikannya sebagai asisten pribadi di kantor. Pagi hari Salsabilla membantu majikan di kantor dan sore hari bekerja membersihkan rumah dan memasak bagi majikannya. Dengan berbekal ancaman akan utang ayah Salsabilla, Madam Syahnaz membenarkan tindakannya mempekerjakan Salsabilla dengan beban dan waktu kerja yang tidak masuk akal.

Tapi beginilah “keistimewaan” seorang PRT yang menjadi pemeran utama: bila pada kebanyakan sinetron peran PRT memiliki sikap penurut dan lugu yang seolah menjadi semacam struktur yang wajib, hal demikian tidak berlaku bila PRT itu “sebenarnya” adalah anak orang kaya. Inilah yang terjadi dengan Salsabilla. Meski bekerja sebagai PRT, ia begitu percaya diri dan berani menentang majikannya Madam Syahnaz yang digambarkan begitu kejam.

Namun, keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan yang dilakukan majikan terhadap PRT tidak dilihat sebagai suatu keharusan karena adanya pembagian atas hak dan kewajiban yang jelas, melainkan karena suatu daya yang dimungkinkan ada oleh kenyataan takdir (anak seorang kaya). Dengan kata lain, PRT, sebagaimana satpam di sinetron, bukanlah “kerja” yang dimengerti sebagai pertukaran keahlian yang berupa jasa dengan imbalan tertentu, melainkan pengabdian. Dengan logika ini, tidaklah mengherankan bila posisi PRT tampak bisa diperlakukan nyaris sesuka hati—mulai dari membersihkan rumah, menjadi asisten pribadi, atau pun menguping. Tanpa adanya satu batasan yang jelas, definisi kerja PRT hampir dapat dikatakan untuk selalu mengikuti perintah majikan. Pada titik inilah kita mesti bertanya: apa beda bekerja dengan penghambaan?

Dokter dan Sipir Penjara: Profesi dan Legitimasi Rasionalitas Narasi

Apa yang paling menarik dari profesi dokter dalam sinetron adalah kemunculannya yang terbilang cukup sering dan luas (meliputi empat sinetron). Hanya saja, dari data yang kami dapatkan, rata-ratanya kemunculannya tidak sampai satu menit per adegan. Ini tentu saja mengingatkan kita pada satpam. Dokter dan satpam sama-sama selalu hadir dengan simbol seragam dan durasi yang relatif singkat. Tidak hanya itu, keduanya pun selalu diperankan oleh pemeran-pemeran figuran.

Kendati demikian, bukan berarti keduanya memiliki fungsi yang sama dalam narasi sinetron. Kemunculan dokter lebih sering untuk mengiringi sebuah kecelakaan atau sakit yang diderita oleh tokoh-tokoh dalam sinetron. Dokter kerap kali menjadi figur yang ditunggu oleh keluarga pasien untuk dimintai keterangan. Berbeda dengan PRT dan satpam yang mewarnai cerita dengan emosi (seperti bernyanyi di dalam kamar mandi atau bersiul ketika menyiram kebun), kehadiran dokter berjarak, dingin, dan terkesan formal. Sekalipun harus berhadapan dengan keluarga pasien yang menangis, sang dokter tidak bicara lebih dari beberapa kalimat belasungkawa dengan wajah tenang dan lalu pergi. Tepat, di sinilah perbedaan antara dokter dengan satpam dan PRT: durasi yang singkat pada dokter memberi implikasi yang signifikan pada cerita, sedang satpam tidak.

Signifikansi itu terletak pada kemampuannya membelokkan arah cerita. Pernah suatu kali dalam Yusra dan Yumna, tokoh Setia yang telah dianggap sebagai kakak oleh Yumna, melarang Yumna untuk berhubungan dengan seorang teman sekolahnya yang bernama Adrian. Mendengar hal itu, Adrian yang menyukai Yumna kemudian menjadi marah dan menantang Setia balapan motor. Alhasil, Setia pun terjatuh akibat balapan tersebut. Ia dilarikan ke rumah sakit dan divonis koma oleh dokter yang menangani. Akibatnya, Yumna pun marah pada Adrian dan memutuskan menghentikan hubungannya dengan Adrian.

Contoh tersebut menyisakan tanya pada kita: dokter ataukah kecelakaan, yang mengubah arah cerita? Jawabannya: keduanya berpengaruh. Kecelakaan adalah penyebab utama, namun kondisi hasil kecelakaan itu membutuhkan keterangan dokter untuk menentukan apakah korban dari kecelakaan tersebut mengalami luka serius atau tidak. Hal ini tentu saja lumrah dalam kehidupan keseharian; dokter adalah tempat bertanya bagi mereka yang sakit. Hanya saja pada kasus sinetron, kehadiran dokter tidak penuh dengan gugus kerjanya. Kita tidak pernah diperlihatkan mengenai mekanisme kerja dokter sampai bisa mengambil keputusan mengenai kondisi pasien. Karena yang biasa terjadi adalah, dokter kerap kali tampail sekilas untuk menyapa keluarga korban dan memberi keterangan mengenai kondisi pasien.

Keterangan yang dimaksud pun lebih merupakan vonis, yang sifatnya hitam putih—sehat atau tidak, selamat atau tidak—tanpa memberi rasionalitas atas penyebab penyakit yang diderita pasien dan kompleksitas kemungkinannya. Pada akhirnya, kehadiran dokter memberi kepercayaan itu sendiri. Dokter adalah simbol rasionalitas. Karenanya, seolah tidak lagi dibutuhkan suatu kondisi rasional itu sendiri untuk menjelaskan kehadiran dan pekerjaannya.

Kita juga tidak pernah tahu, kepakaran bidang penyakit apa yang dimiliki sang dokter dan apa hubungannya dengan sakit yang diderita pasien. Sehingga dengan sendirinya, kita juga tidak pernah diperkenalkan pada jenis-jenis penyakit dan konsekuensinya pada pasien. Seolah dengan berbagai simbol, seperti seragam dokter yang berupa jas putih dan sikap berjarak serta dingin (terkesan tanpa emosi) terhadap pasien dan keluarga, rasionalitas telah diandaikan melekat padanya. Pakaian menandakan dokter, dan dokter menandakan kepercayaan pada rasionalitas. Selesai sudah.

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada profesi sipir penjara. Bila dokter merupakan penanda dari rumah sakit atau pun kondisi sakit itu sendiri, maka di dalam sinetron, sipir adalah tanda dari masa lalu. Dalam Yusra dan Yumna misalnya, peran seorang sipirlah yang mengabarkan masa lalu tokoh Krisna yang ternyata pernah dipenjara. Sama halnya dengan dokter, informasi yang diketengahkan seorang sipir lewat dialognya, memberi signifikansi yang kuat pada cerita. Penjelasan sipir itu pulalah yang memberi rasionalitas mengapa perlakuan Krisna (yang ternyata bukan ayah Yumna) kejam kepada anaknya.

Contoh lain, dalam Putih Abu-abu, sipir berperan dalam menghalang-halangi tokoh Tamara untuk mengetahui riwayat sang mantan pacar yang pernah dipenjara. Sipir bersekongkol dengan ayah Tamara, yang juga pernah memenjarakan sang mantan pacar, untuk menghalangi Tamara mengetahui masa lalu mantan kekasihnya. Seorang sipirlah yang membuat Tamara kehilangan kesempatan memahami masa lalunya. Begitu juga dalam Karunia. Alkisah, ibu dari Shakira mengandung di dalam penjara. Seorang Sipir memanggil bidan untuk membantu kelahiran tersebut. Anak itu dibawa oleh bidan atas ijin sipir karena memang tak memungkinkan untuk diasuh oleh seorang ibu yang sedang ditahan. Anak itu pun hilang dan tak diketahui di mana keberadaannya sekarang.

Pelbagai contoh tersebut mengetengahkan kepada kita, posisi sipir sebagaimana juga dokter, memiliki signifikansi pada cerita. Sebagai tanda dari masa lalu, sipir kerap menjadi pemberi rasionalitas pada alur cerita. Ia bisa jadi penjelas atas perilaku kejam seorang ayah (yang ternyata bukan ayah kandung), penyebab dari hilangnya seorang anak, atau bahkan ikut menghalangi seorang tokoh untuk mengetahui masa lalunya.

Kehadiran sipir dibutuhkan untuk menginterupsi cerita dan atau melekatkan jalinan narasi yang sebelumnya tampak terpenggal. Cara kerja narasinya pun sama: kedua profesi tersebut lebih sering diwakili oleh pemeran figuran yang bukan bagian integral dari cerita. Namun, dengan berada pada dimensi utama cerita, profesi sipir atau pun dokter memiliki kekuatan mengabarkan “kebenaran” pada tokoh-tokoh dalam arus utama cerita. Bermodalkan seragam dan sikap ramah yang berjarak, profesionalitas diandaikan telah melekat pada profesi sipir; sebab ia tidak berpihak kecuali pada apa yang diyakini sebagai “kebenaran”. Lain halnya bila sipir atau dokter menjadi salah satu tokoh utama dalam cerita. Bias karakter yang diperankannya akan mengurangi dimensi profesional dari profesi dokter atau pun sipir. Kiranya itulah alasan mengapa peran figuran justru lebih menguntungkan bagi tujuan pemeranan kedua profesi ini di dalam cerita sinetron yang nir-logika.

Pengecualian tentu saja ada. Dalam Putih Abu-abu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sipir ikut berperan bahkan bersekongkol dengan salah satu tokoh untuk menghalangi keluarnya informasi yang benar mengenai seorang yang pernah dipenjara. Berbeda dengan cerita sipir sebelumnya yang hadir dalam kekinian dan menghadirkan masa lalu, sipir pada renungan tokoh Tamara hadir dalam masa lalu (kilas balik). Namun, kecenderungannya untuk terlibat dan berpihak pada salah satu tokoh,  tidak mengubah sipir sebagai penanda masa lalu dan otoritas untuk menentukan kebenaran. Bahwa sipir tersebut ternyata bersekongkol, tapi itu tidak menutupi posisinya yang  penting dan otoritatif untuk mengabarkan “kebenaran”.

Tokoh Tamara yang sebenarnya curiga dengan persekongkolan sipir dan ayahnya, yang ingin memisahkan dirinya dengan mantan kekasih, tidak mampu menolak “kuasa” sang sipir, yang mengatakan bahwa sang mantan tidak pernah dipenjara di tempatnya bertugas. Dengan kata lain, pada figur sipir, ada otoritas yang melekat. Hal yang sama juga terjadi pada figur dokter. Kita tidak pernah melihat ada sikap tokoh yang meragukan keterangan dari dokter atau mempertanyakan dengan kritis penjelasan seorang sipir.

Kita juga tidak pernah tahu, seperti apa kapasitas seorang sipir dan dokter. Sejauh apa dan dalam konteks apa, keterangan mereka berarti? Meski sebagai penanda masa lalu, sipir selalu bekerja dengan ingatan. Tak ada sama sekali diperlihatkan sebuah catatan yang dipakai sipir untuk membantunya mengingat. Kita tidak pernah diperlihatkan dan dijelaskan perihal kerumitan kerja dan kemungkinan seorang sipir untuk bisa mengingat satu per satu narapidana yang pernah ditanganinya. Meski itu mungkin saja, tapi kita tidak diberi suatu alasan yang cukup—misalnya melalui penjelasan visual atau naratif mengenai luas penjara yang ditangani dan jumlah napi yang ada, atau suatu pengalaman khusus yang tidak terlupakan. Akhirnya, bila dokter adalah soal sakit, maka sipir adalah soal hukum dan penjara; meski kita tidak pernah diperlihatkan pengetahuan hukum dari seorang sipir, kecuali sebatas informasi mengenai  seseorang yang pernah dipenjara dan bagaimana mereka ketika di dalam penjara.

Logika semacam inilah yang sering luput dalam plot sinetron, yang sepertinya terburu bernafsu memposisikan sipir sebagai alat penjelas persoalan masa lalu dari peristiwa hukum yang dialami seseorang. Pada akhirnya, strategi visual yang digunakan sinetron dalam menggambarkan profesi dokter atau pun sipir, mereduksi dua profesi itu menjadi sebatas tanda dari rasionalitas, dan bukanlah keahlian atau pun pengetahuan yang ikut membangun identitas personal dan sosial seseorang, yang justru merupakan dimensi kerja yang penting dalam hidup keseharian kita. Pola pandang semacam ini, membiasakan para penonton sinetron untuk memahami rasionalitas semata tanda berupa pakaian, dan atau penjelasan yang sifatnya otoritatif ketimbang eksploratif.

Penutup: Implikasi dari Kerja yang Direduksi

Rasanya uraian di atas masih menyisakan satu pertanyaan menyangkut apa implikasi dari pemosisian pekerjaan seperti demikian. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan untuk menjawabnya. Pada kasus PRT dan satpam, jelas sudah bahwa kerangka kerja yang dihadirkan dalam sinetron melanggengkan paradigma dominan yang menempatkan pekerjaan mereka sebagai pekerjaan subordinat. Bahkan, kerja dinilai sebagai pengabdian. Tentu saja ini berbahaya dalam kaitannya untuk membangun kesetaraan dalam kerja dan bagi kemanusiaan pada umumnya. Bukan tidak mungkin, paradigma semacam inilah yang pertama-tama membuka peluang pada terjadinya kekerasan, sebagaimana yang sering kita dengar, terhadap para pekerja domestik di dalam atau pun di luar negeri.

Tidak adanya penggambaran yang menyeluruh terhadap dimensi kerja PRT dan satpam, mengenai hak dan tanggung jawabnya, adalah bentuk lain kekerasan (simbolik) itu sendiri. Terlebih, digambarkan bagaimana peran subordinat diterima oleh PRT itu sendiri. Seolah ada proses naturalisasi terhadap bentuk-bentuk penindasan. Pada titik ini, penonton tidak diajak untuk melihat posisi PRT yang subordinat sebagai sesuatu yang keliru.

Potensi kekerasan yang sama juga terjadi dalam kasus dokter dan sipir penjara. Direduksinya berbagai dimensi kerja dokter dan sipir menjadi sebatas aparat rasionalitas, mengajak penonton untuk percaya tanpa bertanya. Dikebirinya berbagai informasi menyangkut hal hukum dan medis, akan memiskinkan informasi bagi mereka yang menonton. Padahal, informasi adalalah “senjata” untuk bertanya dan menuntut hak. Sementara di saat bersamaan, kita diajarkan untuk menandai rasionalitas sebatas melalui atribut-atribut seperti pakaian serta sikap berjarak dan netral. Pengakuan terhadap otoritas semacam inilah yang pertama-tama membuka peluang pada praktik-praktik menyimpang yang sering kali kita lihat dalam keseharian.

Posisi dokter yang diandaikan selalu tahu dan pandai, serta tidak adanya kebiasaan untuk bertanya dan memeriksa ulang keterangan yang diberikan, telah menjadi struktur, yang pada akhirnya bisa berujung pada penyalahgunaan kewenangan (malpraktik, misalnya). Begitu juga halnya dengan sipir. Pengakuan atas otoritasnya dalam penjara, dan miskinnya pengetahuan mengenai hukum dan hak warga negara yang menjadi narapidana (dan keluarganya), ikut membangun struktur koruptif dalam institusi penjara sebagaimana yang belakangan kita temui dalam berbagai media.

Pada akhirnya, cukuplah kita katakan, mengebiri dimensi sosiologis dari kerja, juga perlahan ikut mengebiri hak penonton untuk merdeka. Karena korupsi pertama-tama dilakukan pada logika narasi, baru kemudian dalam praktik keseharian. (REMOTIVI/Muhamad Heychael)