Pada musim semi 2013, jurnalis Belanda Rob Wijnberg dan sekelompok anak muda berusia 30an memulai kampanye penggalangan dana untuk menerbitkan kanal jurnalisme daring, De Correspondent. Meski sempat meragukan idenya sendiri, dalam kurun waktu satu minggu, Rob dan timnya berhasil mengumpulkan uang sebesar 1,7 juta dollar AS (sekitar Rp 22 miliar), sumbangan terbesar yang pernah dikumpulkan untuk sebuah proyek jurnalisme.

Sukses De Correspondent tak lepas dari dukungan 19.000 calon pembaca di Belanda yang menyumbang setidaknya Rp 800.000 per orang. Menariknya, pada saat dana terkumpul, De Correspondent barulah berupa sebuah gagasan. Namun dari gagasan inilah, lahir sebuah proyek jurnalisme yang seratus persen bersandar pada donasi langsung dari publik, yang disebut crowdfunded journalism.

Crowdfunded journalism—saya mengalihbahasakannya dengan “jurnalisme patungan”—adalah upaya untuk membiayai peliputan maupun bisnis media dengan mengumpulkan dana dari khalayak. Dalam bahasa Indonesia, KBBI mendefinisikan istilah “patungan”  sebagai “bersama-sama mengumpulkan uang untuk suatu maksud”. Patungan yang disoroti di sini adalah patungan berbasis internet yang didukung oleh kehadiran media sosial dan situs-situs pengumpulan dana.

Kemunculan model pembiayaan melalui patungan ini menarik ditengok, terutama ketika masa depan media mulai dipertanyakan akibat dua masalah besar yang melanda industri media di berbagai negara: berkurangnya pemasukan iklan dan semakin terpecah-pecahnya khalayak. Berbagai upaya dilakukan untuk beradaptasi dengan situasi ini, seperti menutup publikasi cetak dan beralih ke layanan digital, pengurangan karyawan, hingga mengubah kemasan pemberitaan.

Tulisan ini bertujuan melihat bagaimana konteks sosio-teknologi membuka peluang bagi pemanfaatan platform patungan untuk menggalang dana bagi proyek jurnalisme. Selain itu, tulisan ini juga akan melihat urgensi model pembiayaan patungan dalam lanskap industri media di Indonesia dan tantangan penggunaan model ini.

 

Upaya mengembalikan jurnalisme untuk publik

Jurnalisme patungan daring lahir karena peluang yang diciptakan oleh kemajuan teknologi. Pertama, audiens daring lebih aktif karena mereka mencari sendiri informasi yang ingin mereka ketahui dan saling berbagi informasi. Kedua, adanya akses untuk melakukan pembayaran daring yang memudahkan upaya patungan melalui internet. Kedua aspek ini  menyokong lahirnya situs-situs penggalangan dana di seluruh dunia.

Meski begitu, kemunculan proyek-proyek jurnalisme patungan bukan hanya didorong kemajuan teknologi. Jurnalis dan pegiat media beralih ke platform patungan untuk menggarap liputan investigatif maupun liputan panjang tentang isu-isu yang tidak ditangkap oleh media tradisional. Para jurnalis ini melihat tantangan nyata bahwa industrialisasi dan konglomerasi media menempatkan berita sebagai komoditas untuk mendongkrak rating dan citra media. Selain itu, media-media besar melakukan swa-sensor terhadap isu-isu tertentu karena khawatir pemberitaan tertentu dikhawatirkan mengancam kelangsungan bisnis media. Hal-hal ini menyebabkan isu-isu krusial yang menyangkut kepentingan publik tidak dihadirkan di ruang media.

Kondisi serupa juga berlangsung di Indonesia. Penelitian Nugroho, Dita dan Laksmi (2012) mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 12 kelompok media besar yang mengendalikan mayoritas kanal media di Indonesia, baik media penyiaran, media cetak dan media daring. Perlu diketahui, semua kanal ini juga beroperasi dengan model bisnis yang mayoritas didanai oleh pendapatan periklanan. Media yang ditopang iklan ini memiliki bias sendiri dalam pemberitaan, yang cenderung mendukung kebijakan pemerintah dan korporasi, bukannya menjadi “anjing penjaga” demokrasi. Isu-isu sosial, politik, dan ekonomi di media cenderung disajikan secara selektif, sehingga warga negara hanya mendapatkan informasi yang terbatas. Dengan informasi yang tertutup, bagaimana publik mampu mendidik dirinya agar berperan aktif dalam kehidupan berwarga negara?

Cita-cita jurnalisme patungan adalah memungkinkan masyarakat menjadi warga negara yang aktif. Kemajuan teknologi memberi peluang bagi mereka untuk berpartisipasi, salah satunya dengan mendukung proyek jurnalisme. Melalui pembiayaan patungan, penyumbang dana dipandang bukan sebagai konsumen media, melainkan pemangku kepentingan dan ko-kreator. Yang hendak dicapai melalui jurnalisme patungan juga bukan sekadar pengumpulan dana, melainkan praktik jurnalisme yang lebih transparan yang melibatkan publik. Proses pengumpulan dana, peliputan, hingga penulisan senantiasa dikomunikasikan kepada donatur.

Melihat lanskap media di Indonesia saat ini, jurnalisme patungan dapat hadir sebagai alternatif pembiayaan liputan. Model ini dapat digunakan oleh jurnalis lepas yang idenya tidak didukung oleh kantor media tempatnya bekerja, juga media baru dan media komunitas yang ingin memfokuskan diri pada liputan mendalam. Kendati demikian, kita perlu menengok apakah infrastruktur teknologi yang ada turut menopang jurnalisme patungan di Indonesia.

Tantangan jurnalisme patungan

Proyek patungan untuk jurnalisme dapat memanfaatkan platform patungan umum yang sudah ada. Di Indonesia, platform patungan lokal mulai beroperasi sejak tahun 2012 dengan kehadiran Wujudkan. Setelah itu, beberapa platform lain muncul seperti Kitabisa, Ayo Peduli (tidak aktif), dan Gandeng Tangan. Khusus untuk Gandeng Tangan, platform ini lebih tepat disebut sebagai peminjaman patungan (crowdlending). Platform ini dikhususkan untuk wirausahawan kecil yang membutuhkan modal dan bersedia membayar angsuran pinjaman dana tanpa bunga maksimal dalam waktu 24 bulan.

Tiap platform patungan memiliki kekhasannya sendiri baik dari tipe proyek yang didanai dan tipe pendanaan. Dua tipe pendanaan yang jamak dijumpai adalah pendanaan berbasis donasi dan pendanaan berbasis penghargaan. Pada tipe pertama, kreator proyek tidak memberikan apa pun kepada donatur yang menyumbang dana. Pada tipe kedua, kreator akan memberikan penghargaan simbolis non-moneter kepada donatur. Beberapa penghargaan yang diberikan, pada proyek film misalnya, tiket untuk menonton pada peluncuran film, poster, atau kaus.

Di bawah ini saya mengidentifikasikan dua platform patungan Indonesia yang paling banyak digunakan.

Dari hasil penelaahan dua platform patungan di atas, lima jenis proyek yang jamak didanai adalah proyek pembangunan infrastrukstur (masjid, sekolah, jalan, klinik, tempat penampungan hewan), proyek bantuan medis, proyek penyediaan sarana pendidikan dan biaya pendidikan, proyek seni, film, dan musik, serta proyek pengumpulan santunan untuk individu/keluarga/kelompok yang tidak mampu. Kedua platform di atas juga berbeda dari sisi tipe pendanaan. Kreator proyek di Wujudkan harus menyiapkan imbalan/penghargaan kepada donatur berdasarkan jumlah uang yang didonasikan. Sementara itu, Kitabisa beroperasi melalui donasi murni dan kreator proyek tidak menyediakan imbalan kepada donatur.

Salah satu proyek yang paling banyak didanai melalui proyek patungan adalah proyek pembelian bangunan untuk dijadikan masjid di Jepang yang diinisiasi oleh komunitas Muslim di Chiba (Chiba Islamic Cultural Center/CICC). Tim CICC berhasil menggalang dana Rp 2,4 miliar dari lebih dari 4.500 donatur di platform Kitabisa. Dalam kampanyenya, tim CICC menjelaskan dengan gamblang apa yang hendak mereka capai, kesulitan yang mereka hadapi dan bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam mewujudkan mimpi mereka agar komunitas Muslim dapat beribadah di Chiba. Kampanye ini juga mendapat sorotan karena berhasil viral di sosial media.

Berkaca dari proyek-proyek yang berhasil didanai, dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada proyek jurnalisme yang dipromosikan melalui platform patungan yang ada. Namun, bukan berarti kesempatan itu tertutup. Kedua platform patungan yang populer di Indonesia sebenarnya tidak membatasi jenis-jenis proyek yang dipromosikan. Strategi-strategi yang digunakan untuk mempromosikan sebuah proyek sosial juga dapat digunakan untuk mempromosikan proyek jurnalisme, misalnya berjejaring secara tatap muka maupun melalui media sosial.

Kasus Indonesia tentu berbeda dengan negara-negara lain di mana proyek jurnalisme  mulai banyak dipromosikan melalui platform patungan. Proyek jurnalisme yang dibiayai melalui situs patungan asal Amerika Serikat Kickstarter misalnya terus meningkat pada periode tahun 2009-2015 (Vogt dan Mitchell, 2016). Di Indonesia, tersedianya platform ini belum dimanfaatkan oleh jurnalis dan pegiat media. Karena itu, faktor penghambat lahirnya inisiatif jurnalisme patungan adalah ketidaksiapan “penjual ide”.

Platform patungan kerap diibaratkan sebagai “pasar ide” di mana para penjual dan pembeli ide dapat bertemu dan bersepakat untuk mewujudkan sebuah ide. Penjual ide adalah jurnalis dan pegiat media yang ingin meliput secara mendalam isu tertentu. Padahal dari sisi “pembeli ide”, dapat dikatakan ada kelompok di masyarakat yang dapat diyakinkan untuk mendanai proyek jurnalisme. Penelitian tentang jurnalisme patungan di berbagai negara (lihat Aitamurto 2011, Carvajal et al 2012 dan Jian dan Shin 2015) menemukan bahwa donatur untuk proyek jurnalisme patungan mayoritas berasal dari lingkaran sosial terdekat kreator proyek, seperti keluarga dan teman. Adapun mereka yang berada di luar lingkaran sosial ini umumnya adalah anak muda yang terdidik dan memiliki paparan yang luas terhadap berbagai media. Kelompok “pembeli ide” ini ada di Indonesia, kini tinggal bagaimana kreator proyek jurnalisme menyiapkan strategi untuk melibatkan kelompok ini.

Saya cenderung melihat bahwa tantangan memulai proyek patungan justru datang dari jurnalis. Pertama, tantangan kultur kerja jurnalis. Jurnalis harus proaktif menjual idenya kepada calon donatur, menyiapkan strategi kampanye dan meyakinkan calon donatur. Mereka pun harus punya inisiatif berjejaring di sosial media untuk mempromosikan proyeknya. Karakter kewirausahaan (entrepreneurial) macam ini ditemui pada mereka yang memulai perusahaan rintisan (start-up) dan aktif di platform patungan. Namun, masih sulit bagi jurnalis—terutama yang bekerja di media tradisional—untuk merangkul kultur ini karena tradisi yang ada menempatkan jurnalis hanya bergerak di ranah redaksi dan editorial. Sementara pada kultur patungan, jurnalis didorong mampu bertanggungjawab atas pemasaran dan promosi proyek, peliputan, keuangan proyek hingga penerbitan. Perubahan kultur kerja semacam ini tidak akan mudah.

Kedua, tantangan pemuatan karya. Jurnalis lepas yang menggalang dana untuk patungan sebaiknya tetap bekerjasama dengan media yang lebih besar untuk penerbitan karyanya. Sebelum memulai kampanye patungan, jurnalis sudah harus memastikan karya apa yang akan dibuat dan medium apa yang ia pilih. Kasus-kasus di negara lain menunjukkan kreator proyek jurnalisme berkolaborasi dengan media cetak yang ada untuk pemuatan karya. Kolaborasi seperti ini dibutuhkan agar karya jurnalistik dapat menjangkau audiens yang luas, yang bukan semata donatur dari proyek tersebut. Tantangannya adalah bagaimana kreator proyek mampu meyakinkan media lain untuk menyediakan ruang di media untuk pemuatan karya jurnalistik yang panjang.

Ketiga adalah tantangan ekonomi. Jurnalisme patungan dapat dijadikan alternatif pembiayaan untuk peliputan tunggal. Namun, model ini tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber dana peliputan dan sumber pendapatan bagi jurnalis. Survei upah layak yang dilakukan Alianis Jurnalis Independen (2016) menemukan bahwa jurnalis di negeri ini belum mendapatkan upah layak dari kantor tempatnya bekerja. Jurnalis lepas bahkan mendapatkan penghargaan yang lebih kecil lagi dibandingkan mereka yang bekerja tetap. Padahal jurnalisme model patungan tidak menjanjikan pemasukan rutin bagi jurnalis. Selama jurnalis masih terus bergumul dengan upah yang kecil untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, sulit bagi mereka untuk memulai proyek-proyek jurnalisme yang belum menjanjikan secara finansial.

Kendati demikian, bukan berarti jurnalisme patungan tidak dapat diaplikasikan di Indonesia. Metode pembiayaan ini lebih berpeluang untuk dimanfaatkan oleh media komunitas dan media kolektif yang ingin menggarap proyek jurnalisme yang berkaitan dengan komunitas tertentu. Pegiat media  dapat bekerja dalam tim untuk menggarap proyek yang mereka promosikan, mereka pun umumnya sudah memiliki basis komunitas yang kuat yang mendukung program mereka. Dukungan ini yang bisa direplikasi di ranah daring untuk mempromosikan kampanye mereka ke kelompok masyarakat yang lebih luas.

Saat ini belum ada kajian mendalam soal metode pembiayaan patungan untuk jurnalisme. Atas dasar itu, kita belum bisa mengatakan bahwa metode ini tidak akan berjalan di Indonesia. Peluang untuk mewujudkan inisiatif liputan patungan itu ada, namun peluang itu belum dimanfaatkan. Siapkah kita memulainya? []

Referensi

Aitamurto, Tanja. (2011). “The impact of crowdfunding on journalism: case study of Spot.Us, a platform for community-funded reporting”. Journalism Practice, vol. 5, no. 4, pp. 429-445.

Carvajal, Miguel; García-Avilés, José A & González, José L. (2012). “Crowdfunding and nonprofit media: the emergence of new model for public interest journalism”. Journalism Practice, vol. 6, no. 5, pp. 638-647.

Firmanto, Danang (1 Mei 2016). “AJI Jakarta: Upah Layak Jurnalis Pemula Rp 7.540.000”. Diakses dari <https://m.tempo.co/read/news/2016/05/01/173767525/aji-jakarta-upah-layak-jurnalis-pemula-rp-7-540-000> pada 10 September 2016.

Jian, Lian & Shin, Jieun. (2015). “Motivation behind donors’ contribution to crowdfunded journalism”. Mass Communication and Society, vol. 18, pp. 165-185.

Masjid di Jepang. Kitabisa. Diakses dari <https://kitabisa.com/masjidchibajepang?utm_source=header&utm_medium=hashtag&utm_campaign=masjidchiba&ref=44fa&mc=32lI6LDAwYj5TsvqJHyM> pada 11 September 2016.

Nugroho, Yanuar; Laksmi, Sita & Putri, Dinita Andriani. (2012). “Memetakan Lanskap Industri Media Kontemporer di Indonesia”. Center for Innovation Policy and Governance. Diunduh dari <http://www.batukarinfo.com/system/files/industri-media-1.pdf> pada 5 Juni 2016.

Panduan untuk kreator Wujudkan. Wujudkan. Diakses dari < https://wujudkan.com/cara-mewujudkan> pada 9 September 2016.

Pfauth, Ernst-Jan. (2013, 27 Nov). “How we turned a world record in journalism crowd-funding into an actual publication”. Diakses dari <https://medium.com/de-correspondent/how-we-turned-a-world-record-in-journalism-crowd-funding-into-an-actual-publication-2a06e298afe1#.udmh0e6b9> pada 20 April 2016.

Vogt, Nancy &  Mitchell, Amy. (2016, 20 Jan). “Crowdfunded journalism: a small but growing addition to publicly driven journalism”. Pew Reseach Center. Diakses dari <http://www.journalism.org/2016/01/20/crowdfunded-journalism/> pada 20 Agustus 2016.

Wijaya, Ketut Krisna. (24 April 2015). “Kumpulan startup crowdfunding di Indonesia”. Diakses dari < https://id.techinasia.com/4-website-crowdfunding-indonesia> pada 10 September 2016.