Tertawa adalah tindakan yang alami. Sebagai sebuah bentuk ekspresi, tawa bisa muncul dalam banyak situasi, yang sebenarnya tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Ia terbentuk sedemikian rupa hingga berujung pada reaksi puncak berupa tawa, ibarat titik atau tanda seru di penghujung sebuah kalimat. Dalam pengertian ini, tawa bisa jadi juga merupakan hasil rekaan atau konstruksi yang dibuat oleh manusia.

Hal ini kerap terjadi, walau tanpa sadar, ketika kita menatap layar kaca. Berbagai acara hiburan yang kita tonton sering kali menggunakan banyak metode untuk memancing kita tertawa. Aneka cara dipergunakan pekerja media untuk memancing emosi kita, meski terlampau usang dan dengan tahapan-tahapan yang sebenarnya bisa diamati.

Tulisan berikut mencoba mengupas proses konstruksi tawa di layar kaca berdasarkan amatan yang pernah dilakukan penulis di studio ANTV untuk acara Pesbukers, dan studio RCTI pada siaran langsung Dahsyat. Kedua observasi dilakukan untuk rangkaian riset mengenai produksi konten media, yang sebenarnya bertujuan untuk mengupas tahapan dan dinamika produksi acara televisi.

Dalam skala yang lebih mikro, proses konstruksi tawa bisa dikaji dengan kacamata etnometodologi yang banyak digunakan sosiolog untuk memahami bagaimana sebuah situasi sosial terbentuk. Reaksi individu, dalam kerangka analisis ini, bisa dipahami dalam hubungan sebab-akibat yang ditimbulkan oleh interaksi antar aktor. Maka, yang menjadi obyek analisis bukan lagi konten dalam bentuk final sebagaimana kita lihat di televisi, alias film atau sinetron yang kemudian dianalisis secara tekstual, melainkan keseluruhan proses rekaman yang disiarkan secara langsung di studio sebagaimana ia terjadi di saat itu juga. Untuk itu, ada beberapa unsur konstitutif yang menjadi syarat di sini:

  • acara merupakan siaran langsung,
  • ada seperangkat pemain atau aktor yang memiliki peran tetap,
  • ada seperangkat set, atau panggung, yang sudah diatur fungsi dan estetikanya,
  • ada penonton yang menjadi bagian dari proses produksi siaran,
  • ada tim produksi yang bertindak sebagai perekayasa acara.

Analisis etnometodologi, dan juga interaksionisme simbolik ala Herbert Blumer atau Mead, hanya bisa diterapkan pada acara televisi yang diproduksi dan disiarkan secara langsung, karena tidak lagi melewati proses penyuntingan. Semua kejadian yang ditonton oleh pemirsa hampir sama dengan yang terjadi di studio, meski tidak semuanya ditampilkan secara utuh di layar kaca. Pendekatan etnometodologi membantu memahami mengapa penonton di studio seperti mengikuti sebuah komando untuk tertawa, dan mengapa tawa dibutuhkan untuk membangun rangkaian situasi yang menjadi prasyarat adanya acara itu sendiri.

Mencari Sebuah Pola

Yang menarik untuk diperhatikan dalam kerangka ini adalah bagaimana tim produksi menciptakan makna dan simbol yang mempengaruhi proses role taking agar para penonton menyelami peran mereka secara sadar (atau tidak?). Dramaturgi yang berlaku di dalam ruang ini berbeda dari apa yang kita lihat di layar kaca, karena tidak terekam kamera dan hanya bisa dipahami jika ditonton langsung.

Selain itu, kunci lainnya adalah dengan melihat interaksi yang terjadi di antara masing-masing aktor di dalam studio dan tidak terbatas pada fungsi pemeran, tetapi meluas pada peran penonton yang diperhitungkan sebagai bagian dari set produksiKonfirmasi bahwa penonton dihitung sebagai bagian produksi sesederhana kenyataan bahwa individu yang hadir diberi uang jalan atau seminimalnya, nasi boks.

Baik acara Pesbukers maupun Dahsyat menggunakan pola yang sama, yakni mengandalkan beberapa tokoh utama yang berperan sebagai pembanyol dan satu atau dua tokoh untuk dijadikan bulan-bulanan. Tugasnya adalah melempar lelucon berupa celaan, kepada tokoh yang berperan untuk menerima celaan. "Pesan" ini kemudian diterima oleh penonton studio sebagai pancingan untuk tertawa, yang kemudian diamplifikasi oleh beberapa penonton bayaran agar semakin riuh. 

Dalam kasus Pesbukers dan Dahsyat, Raffi Ahmad memainkan peran pencela. Perbedaan antara kedua tayangan tersebut hanya terletak pada beberapa aktor pendukung dengan karakter yang berbeda. Tetapi yang tidak diketahui oleh penonton di layar kaca adalah peran tim produksi. Menurut penuturan seorang floor director Pesbukers, adegan-adegan yang ada memang telah dirancang dalam naskah.

Namun ketika proses siaran berlangsung, improvisasi sebenarnya bukan datang dari sang aktor, tetapi perintah produser yang menggunakan sebuah papan tulis atau whiteboard kecil untuk mengarahkan adegan selanjutnya. Tokoh A, paling sering diarahkan untuk menciptakan konflik sehingga ada ‘bumbu’ yang mampu menarik perhatian penonton. Penciptaan konflik ini merupakan strategi paling mudah untuk menghidupkan, atau menjaga, intensitas sebuah acara dan memaksa penonton untuk tetap memerhatikan adegan yang berlangsung. Proses ini berulang sampai asisten produsen menginstruksikan untuk melakukan pola yang berbeda. Yang paling penting, penonton di depan TV tidak mungkin mengetahui muslihat tersebut.

Dalam kasus Dahsyat, penonton di studio juga memiliki peran khusus yang membuat mereka diperhitungkan sebagai unit produksi. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar penonton datang dengan status sebagai penonton bayaran, dan secara sadar menyebutnya dirinya sebagai "Alay". Di antara sesama penonton studio, status ‘alay’ justru menjadi status pembeda antara penonton yang memperoleh honor dan tidak. Di antara mereka pun ada perbedaan peran: alay yang hanya duduk di bangku berderet hanya berperan sebagai pelengkap dan memberi suara latar, sementara alay yang duduk di panggung utama, menjadi semacam amplifikasi untuk "memantulkan" lelucon para artis. Jika mereka tidak bereaksi, suasana akan menjadi datar dan membuat artis menjadi "mati gaya".

Jika diteliti lebih lanjut lagi, ada beberapa anak yang bahkan secara khusus diberi  peran berbeda, yaitu membangun suasana dengan memberi suara khas, yakni lengkingan nada "eyaa" atau pun mengolok sang artis agar ada provokasi suasana. Mereka telah diinstruksikan untuk melakukannya dengan sadar, baik oleh floor director maupun koordinator penonton, yang berperan sebagai agen para penonton bayaran ini. Sang koordinator bahkan melarang anak-anak ini untuk diwawancara. Yang jelas, para alay ini memang bagian sentral dari upaya memproduksi tawa dalam acara sejenis ini.

Ekonomi Politik Tawa

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa semua orang berhak atas hiburan. Hak tersebut, menurut pelaku industri televisi, adalah justifikasi mereka untuk berjualan dan merekayasa apa pun yang mungkin untuk dijadikan barang dagangan.

Salah satu produser mengakui bahwa tawa merupakan unit terkecil yang diukur oleh tim produksi untuk menentukan kadar keberhasilan acara. Naik-turunnya tawa menjadi indikator yang menunjukkan berhasil tidaknya naskah yang mereka susun. Tentu saja, fluktuasi tawa ini juga dilihat korelasinya dengan rating. Dan yang paling penting, durasi serta tarif iklan.

Durasi iklan untuk acara seperti Dahsyat dan Pesbukers bisa melebihi lima menit. Menurut rate card resmi RCTI, satu slot iklan siaran Dahsyat bisa dihargai Rp 35 juta. Dengan demikian, bisa dihitung sendiri berapa kiranya pemasukan bersih yang diterima dari iklan. Ini belum termasuk pemasukan product placement atau kerja sama lainnya. Maka pengeluaran untuk mengupah para alay ini menjadi tidak berarti jika dibandingkan keuntungan yang mereka raup.

Pada akhirnya, dengan mengetahui proses produksi yang tidak terekam di balik layar tersebut, kita menjadi paham bagaimana canda (pada acara tertentu) di layar kaca tidak lebih dari olokan yang diamplifikasi. Tulisan ini bahkan tidak sempat membahas jenis olokan yang disampaikan oleh para pemeran beserta muatannya yang merendahkan dan sering kali menghina.

Memang, komedi atau humor itu sendiri terlalu arbitrer untuk bisa dinilai, tetapi jika tawa ternyata bisa direkayasa dan bahkan bisa dihitung biaya produksinya, maka letak kelucuannya langsung lenyap. Alih-alih ikut tertawa, mungkin kita akan lebih memilih untuk menertawakan proses yang sesungguhnya terjadi. []