Banyak pertanyaan muncul ketika saya membaca tulisan Roy Thaniago, tentang bagaimana representasi kelompok difabel yang belum baik di media. Dalam artikelnya, Roy membahas representasi kelompok difabel yang, sayangnya, masih sangat minim dan seringkali stereotipikal.

Padahal, populasi difabel di Indonesia cukup besar: hingga 10 persen dalam perkiraan UNESCO. Namun, mereka begitu tidak terlihat di kehidupan sehari-hari maupun di media kita. Mereka begitu terpinggirkan dalam keseharian dan perbincangan kita.

Ketika muncul, mereka seringkali terjebak dalam berbagai stereotip: sebagai objek rasa kasihan, objek inspirasi, bahan lelucon, atau makhluk aseksual. Mereka sangat jarang ditampilkan sebagai manusia yang utuh; sebagai karakter yang memiliki kedalaman.

Namun, istilah “representasi yang manusiawi” ini tentu masih mengawang-awang. Saya sering merasa bahwa representasi yang baik, entah kenapa, kerap kali didefinisikan secara negatif; yang penting tidak stereotipikal, tidak diskriminatif, dan lain-lain. Sesungguhnya, nilai-nilai apa saja yang diperlukan agar sebuah representasi dapat dinilai “baik”?

Selagi saya melamunkan hal ini, sebuah notifikasi muncul: sebuah teaser “Game of Thrones” musim kedelapan. Saya mau tidak mau langsung teringat pada satu sosok penyandang disabilitas yang digambarkan dengan sangat baik dan menarik: Tyrion Lannister.

Tyrion Lannister dan Disabilitas dalam “Game of Thrones”

“Game of Thrones”, sebagaimana semua program fiksi, tentu tidak sempurna. Ia sempat mengalami kontroversi dalam penggambaran adegan seksual yang dianggap berlebihan, tuduhan eksploitasi kekerasan, hingga normalisasi kekerasan seksual.

Namun, setidaknya ada satu aspek yang secara konsisten hadir dalam “Game of Thrones”: representasi beberapa kelompok marginal yang kuat dan berwarna. Mungkin, hal ini adalah buah dari komitmen para penulis untuk menghadirkan karakter-karakter yang mendalam dan realistis.

Oberyn Martell, misalnya, adalah sosok petarung tangguh dan penuh dendam, yang entah kenapa sangat mudah disukai. Di saat yang sama, ia juga adalah seorang biseksual. Meskipun biseksualitas adalah sebuah sisi penting yang tidak disembunyikan dari kepribadiannya, ia hadir sebagai manusia yang utuh dengan motivasi dan kepribadian yang simpatik tanpa terjebak pada stereotip-stereotip LGBT.

Dalam kategori disabilitas, para penonton mengenal Bran Stark, salah satu protagonis utama yang lumpuh dari pinggang ke bawah. Sebagai pemeran pembantu, kita mengenal Hodor, penyandang disabilitas mental, juga Maester Aemon, seorang dengan gangguan penglihatan. Seperti dunia nyata, semesta fantasi “Game of Thrones” dipenuhi dengan berbagai tokoh yang menyandang berbagai jenis disabilitas. Hebatnya, banyak dari karakter-karakter ini digambarkan sebagai sosok-sosok yang kompleks dan manusiawi.

Contoh paling baik dari penggambaran penyandang disabilitas ini, tentunya, adalah Tyrion Lannister.

Tyrion adalah tokoh yang unik. Ia sangat berprivilese dengan latar keluarga feodal yang dekat dengan kekuasaan. Namun di sisi lain, ia juga menyandang dwarfisme, kondisi genetik ketika pertumbuhan tinggi badan seseorang tidak mencapai tingkatan umum.

Kombinasi ini berpotensi menghadirkan sebuah karakter yang menarik dan berlapis. Untungnya, para penulis naskah dan aktor Peter Dinklage memenuhi potensi itu dengan sangat baik. Seiring pengisahan dan perkembangan karakter, Tyrion digambarkan sebagai sosok yang cerdas, simpatik, dan mudah disukai. Di balik sikap sinis dan komentar-komentar sarkastik yang kerap ia keluarkan, hadirlah sebuah sosok yang dengan nilai kemanusiaan yang kuat dan kompleks. Namun, ia tetap digambarkan sebagai sosok yang tidak tanpa cela. Penokohan Tyrion adalah salah satu contoh dobrakan yang mengubah status quo umum tentang disabilitas di layar kaca.

Secara umum, individu penyandang dwarfisme di dunia hiburan dianggap identik dengan komedi dan dongeng (Pritchard, 2017). Mereka kerap kali mendapatkan peranan yang mengeksploitasi kondisi fisik mereka (Heider, 2013). Mereka kerap ditemukan di sirkus-sirkus, pertunjukan orang aneh, hingga sebagai bahan lawakan di televisi. Di Indonesia, mereka jamak muncul sebagai pelawak atau  tokoh dongeng seperti tuyul dalam “Tuyul dan Mbak Yul” (RCTI). Dalam beberapa konteks budaya lain, penyandang dwarfisme dipandang sebagai pertanda kemurnian dan keriangan (Shakespeare et al, 2010), seperti tujuh kurcaci dalam dongeng “Snow White”.

Apa konsekuensi dari keterbatasan representasi ini? Seperti dijelaskan Beth Haller (2010):

“…media memiliki peran dalam “mengonstruksi” penyandang disabilitas sebagai berbeda dan membingkai peranan setiap individu yang tidak masuk dalam konstruksi “normal”. Citra-citra ini bukan hanya mempengaruhi pandangan masyarakat, namun juga konsep diri setiap penyandang disabilitas.”

Kelompok penyandang dwarfisme mengklaim bahwa mereka merasakan akibat buruk dari kondisi ini. Akibat dari stereotip yang dibangun bahwa penyandang dwarfisme adalah tokoh periang dan memiliki selera humor tinggi, banyak penyandang mengeluhkan bahwa mereka kerap diledek dan direndahkan sebagai lelucon (Pritchard, 2010).

Minimnya representasi mereka yang dihadirkan secara normal juga punya konsekuensi lain. Sebagai jenis disabilitas yang sangat mudah diidentifikasi, penyandang dwarfisme juga kerap mengeluhkan seringnya mereka ditatapi orang. Beberapa, bahkan merasa tidak aman berada di tempat umum karena mereka takut difoto dan direkam oleh orang sebagai bahan lelucon (Pritchard, 2010).

Memecahkan kecenderungan ini tentu bukan perkara mudah. Industri hiburan kerap memiliki pakem yang lambat dalam berubah dan menyerap nilai-nilai baru. Karena itulah, tokoh seperti Tyrion dan aktor semacam Peter Dinklage penting untuk ada.

Peter Dinklage, sebagai aktor yang memerankan Tyrion, seolah dilahirkan untuk peran tersebut. Dinklage adalah sosok yang menarik. Sejak memulai karier di dunia seni peran, Dinklage sudah merasa frustrasi dengan terbatasnya peranan yang umumnya dapat diakses oleh penyandang dwarfisme. Meski begitu, ia menolak mengambil peranan stereotipikal bagi aktor dengan kondisi sepertinya: kurcaci dongeng ataupun sumber tertawaan.

Mudah ditebak bahwa pilihannya berujung pada banyak rintangan di awal kariernya. Ia kesulitan mendapatkan pekerjaan, dan akhirnya membangun karier dengan berperan di film-film independen. Namun performanya yang secara konsisten dipuji kritikus akhirnya membawanya pada peranan yang melambungkannya pada ketenaran global: Tyrion Lannister.

Sebelum tenar, Dinklage pernah berkata, “peranan yang ditulis untuk orang-orang dengan ukuran saya umumnya agak datar—seringkali lucu, atau bijaksana—mereka tidak seksual, tidak romantis dan tidak punya …kelemahan.”

Ia berkata bahwa ia tertarik memerankan karakter “romantis” yang juga memiliki “amarah dan kelemahan.” Ketika ia ditanya peranan apa yang ia rasa paling cocok untuk dirinya, ia menjawab “lead romantis yang akhirnya mendapatkan sang gadis”.

Dinklage memiliki komitmen kuat untuk memilih peranan yang cocok dengan konsep dirinya, meskipun itu berbeda dengan standar stereotipikal industri hiburan. Komitmen ini, untungnya, terbayar lunas. Sebagai Tyrion Lannister, Dinklage telah memenangkan tiga buah Emmy Awards, dalam sebuah industri yang umumnya begitu memihak individu-individu yang “cantik dan sempurna” secara fisik.

Tyrion memang diperankan dengan begitu baik dan mempesona. Namun yang lebih penting lagi, Tyrion ditampilkan dalam titik seimbang di mana karakternya tidak didefinisikan hanya oleh dwarfisme yang ia sandang, tanpa menafikan dampak dan peranan disabilitas yang menyertai hidupnya. Pandangan utama kita terhadap Tyrion bukanlah sekadar sebagai seorang penyandang disabilitas, sebagai sumber kasihan ataupun inspirasi. Kita memandangnya sebagai seorang manusia, yang seperti halnya kita semua, dibentuk oleh berbagai pengalaman dan tantangan dalam hidupnya. Dalam kasus khususnya, tantangan itu adalah dwarfisme.

Memanusiakan Penyandang Disabilitas

Kembali ke pertanyaan awal: bagaimanakah representasi penyandang disabilitas—dan representasi kelompok marginal secara umum—yang baik? Bagaimana caranya stereotip-stereotip yang kerap mengungkung kelompok marginal bisa dipatahkan?

Industri hiburan, sebagaimana industri lainnya, tentu terus mencoba mencari keuntungan dengan sesedikit mungkin mengambil risiko dan kerugian. Karena itulah, mereka punya kecenderungan untuk mematuhi pakem-pakem, asumsi, dan rutinitas yang dianggap menguntungkan (Fursich, 2010). Karena itu juga, mereka kerap kali berperan besar dalam mengawetkan stereotip-stereotip dan mendefinisikan “peran wajar” bagi tiap anggota dan kelompok masyarakat.

Yang paling dirugikan, seringkali, adalah kelompok marginal yang tidak pernah diperhitungkan dalam “pembayangan penonton” yang dilakukan oleh industri. Mereka yang bukan target pasar utama dari tontonan dianggap tidak ada. Karena itulah mereka jarang dimunculkan, dan sekalinya dimunculkan, ia ditulis dengan malas: Tionghoa sebagai pedagang pelit, orang Indonesia Timur sebagai preman, pekerja salon gay yang ceriwis dan periang.

Padahal semua manusia, seperti halnya Tyrion dan Peter Dinklage, adalah entitas yang kompleks. Tidak sewajarnya talenta semacam itu dikotakkan dalam stereotip-stereotip. Yang dibutuhkan kelompok marginal saat ini, adalah representasi yang lebih beragam. Bahkan, counter-representation yang justru melawan stereotip.

Pasti ada pemuda Indonesia Timur yang romantis dan lemah lembut, orang Tionghoa yang idealis, atau karyawan gay yang penyendiri. Kisah karakter semacam ini, sayangnya, jarang muncul.

Banyak asumsi dan rutinitas produksi konten media yang menghambat perubahan-perubahan semacam ini. Namun, seperti yang kita lihat di media internasional, banyak konten media ternyata telah melakukan perombakan semacam ini dengan hasil yang baik. Bukan hanya” Game of Thrones”; ada juga “Speechless”, sebuah sitkom tentang keseharian dan kehidupan bersekolah penyandang cerebral palsy, dan banyak contoh lainnya.

Sayangnya hingga kini, industri hiburan di Indonesia masih didominasi oleh sosok-sosok “normal”, dengan sedikit ruang untuk orang-orang yang dipandang berbeda. Ketika ada yang berbeda, mereka dikotakkan dalam peranan yang didikte wajar untuk mereka. Saya sendiri sudah bosan, karena dunia nyata seringkali tidak pernah secantik televisi. []

Tulisan ini adalah bagian dari program Remotivi, “Fair Representation Index”, yang ditaja oleh Voice.


Daftar Pustaka

Fursich, E. (2010). “Media and the representation of Others”. International Social Science Journal, 61 (199), 113-130. DOI: 10.1111/j.1468-2451.2010.01751.x.

Haller, B.A. (2010). Representing Disability in an Ableist World. Louisville: The Avocado Press.

Heider, J.D., Scherer, R.C., dan Edlund, J.E. (2013). “Cultural stereotypes and personal beliefs about individuals with dwarfism”. The Journal of Social Psychology 153 (1) 80-97.

Pritchard, E. (2017). “Cultural representations of dwarfs and their disabling affects on dwarfs in society”. Considering Disability CIC, 1.

Shakespeare, T. , Thompson, S. dan Wright, M. (2010). “No Laughing Matter: Medical and Social Experiences of Restricted Growth”. Scandinavian Journal of Disability Research, 12 (1) 19-31


Tulisan ini telah dikoreksi. Sebelumnya, disebutkan bahwa penyandang gangguan penglihatan dalam "Game of Thrones" adalah Maester Leuwin. Tokoh yang dimaksud adalah Maester Aemon. Terima kasih kepada pengguna akun twitter @junpalim atas koreksinya.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.