" ...dan kita lihat dukungan dari para pemain lain dari kontingen Jepang, cantik-cantik, ya."

"ya, tadi terlihat Nozomi Okuhara yang belum bertanding."

(29:38)

Mungkin, Anda membayangkan komentar tersebut berasal dari sebuah kontes kecantikan, namun tidak. Kutipan tersebut berasal dari laga Bulu Tangkis beregu Putri Asian Games antara Indonesia dan Jepang. 

Hal semacam terjadi berulang kali dengan runutan peristiwa serupa: kamera menyorot para pemain Jepang di bangku penonton yang sedang memberi dukungan kepada teman satu tim. Kemudian, komentator saling bercakap:

“Ya, inilah dia.”

“Ya, Aya Hori dan kawan2 yang memakai kaos putih tadi pemain.”

“Cantik ya.”

“Betul, tunggal ketiga.”

(1:00:05)

Biasanya, ketika saya menonton pertandingan bulu tangkis, saya akan merasa tegang dan deg-degan. Apalagi pertandingan yang menjadi bahasan dalam tulisan ini termasuk pertandingan penentu siapa yang berhak melaju ke final. Namun, nyatanya saya bukan tegang dan deg-degan karena menunggu siapa pemenangnya, melainkan karena mendengar lontaran-lontaran komentar yang mengiringi.

Ujaran penyiar olahraga semacam ini mungkin jarang, atau tidak pernah, kita dengar ketika menonton acara olahraga putra.  Biasanya, topik bahasan mereka tidak jauh-jauh dari ulasan dan percobaan menghadirkan perspektif terhadap pertandingan. Perlakuan berbeda ini nampak hanya dalam mengulas olahraga putri. Mengapa demikian?

Stigma Terhadap Atlet Perempuan di Acara Olahraga Internasional

"Women were often perceived as being too weak for sport..."

(United Nations, 2008: 2)

Siaran televisi menjadi salah satu sumber utama siaran pertandingan olahraga. Dengan jadwal penyiaran yang teratur dan berulang, siaran olahraga itu dapat membentuk pemahaman terhadap gender, etnis, dan nasionalisme (Billings dan Eastman, 2002: 4). Dengan demikian, siaran olahraga di televisi bukan lagi hanya bertugas menayangkan pertandingan, tetapi juga menjadi “alat” penggiring dan pembentuk stigma nilai-nilai sosial. Misalnya, seperti stigma tentang pertandingan basket putri yang dianggap berjalan lebih lambat dibandingkan basket putra. Dari stigma tersebut, tidak heran jika akan terbentuk gagasan umum seperti laki-laki dianggap lebih kompetitif daripada perempuan (Cambridge, 2016: 8).

Selain televisi, para komentator pertandingan olahraga juga memiliki peran sentral dalam pembentukan stigma terutama terhadap atlet perempuan. Pembentukan stigma ini dapat terjadi terutama dari pemilihan kata/istilah yang digunakan ketika mengomentari jalannya pertandingan. Sebab, pemilihan kata itu secara kolektif dapat menciptakan dikotomi gender berdasarkan perbedaan biologis (Angeline dan Billings, 2010: 364). Misalnya, seperti penggunaan kata “dress” yang erat melekat pada “women. Sementara itu, kata yang menggambarkan suasana positif dan aura kemenangan, seperti “mastermind” dan “win”, hanya melekat pada “men” (Cambridge, 2016).

Dengan situasi penggunaan kata seperti itu, tentu pembentukan stigma terhadap perempuan tidak bisa tidak terjadi. Situasi ini seperti pembenaran bahwa perempuan memang hanya pantas dilihat dari penampilannya saja dan tidak bisa berkompetisi secara “keras” dalam dunia olahraga. Upaya de-stigmatisasi ini tidak mudah dilakukan, karena ia memiliki akar kuat dalam budaya dan pakem-pakem kerja media yang dominan. Salah satunya, adalah male gaze.

Dominasi Male Gaze

Pada 1975, Laura Mulvey mengemukakan sebuah konsep yang berperan penting dalam menjelaskan bagaimana perempuan direpresentasikan di media visual: male gaze. Mulvey, yang karyanya kini dipandang cukup penting dalam kajian feminisme, berargumen bahwa ada ketimpangan kuasa dalam cara perempuan umumnya ditampilkan.

Male gaze berargumen bahwa cara perempuan direpresentasikan secara seksual sesungguhnya “memberdayakan” laki-laki dan mengobjektifikasi perempuan. Subjektivitas perempuan, termasuk perasaan, motivasi, pikiran, dan aspek kemanusiaan mereka dianggap lebih tidak penting, dan mereka lebih dibingkai oleh hasrat laki-laki.

Dalam membicarakan male gaze, Mulvey lebih banyak membahas film layar lebar. Namun, teori ini dapat dengan mudah diterapkan pada hampir setiap jenis media, terutama media visual. Di media visual, ada kecenderungan kuat pembingkaian perempuan sebagai “tontonan”, sementara laki-laki diposisikan sebagai “penonton”. Berbagai film dalam seri Transformers adalah contoh modern yang sangat kuat menampilkan kecenderungan ini.

Parodi poster The Avengers karya Kevin Bolk

Ilustrasi di atas menegaskan betapa kentalnya standar ganda dapat terjadi di media visual, dan betapa perbedaan ini sudah dibiasakan sehingga tidak semua orang dapat dengan mudah menyadarinya.

Wendy Arons (2001) menyatakan bahwa kecenderungan seksualisasi ini—selain lebih condong ke gratifikasi penonton laki-laki—memperhalus “ancaman perempuan” terhadap tatanan-tatanan sosial yang ada, terutama dalam film aksi.

“Fokus terhadap tubuh—seperti penampilan dada, kaki, dan bokong yang berlebihan—mengurangi ancaman yang dihadirkan perempuan terhadap “tatanan … masyarakat” dengan cara menjamin penonton (laki-laki) akan privilese mereka sebagai laki-laki, sebagai pemilik male gaze yang mengobjektifikasi.”

Meski sejatinya, secara literal, konsep male gaze bermula dan terikat awal dengan aspek-aspek visual dari tontonan, ia tidak hanya dapat dilihat secara langsung di layar kaca. Salah satu contohnya, adalah bagaimana perempuan dibingkai oleh komentator-komentator olahraga.

Seperti komentar Arons, cara-cara komentator membingkai atlet perempuan mungkin berperan dalam mengukuhkan status sosial yang ada: bahwa olahraga putri tidak serius, dan wilayah yang bersifat fisik dan kompetitif sesungguhnya memang dimiliki oleh laki-laki.

Bagaimana cara kita memperbaiki isu ini?

Sebenarnya, pembentukan stigma (dalam hal ini mengenai atlet perempuan) dapat diatur agar tidak merugikan kelompok manapun. Ketika siaran olahraga pada televisi berlangsung, tentu ada persiapan yang dilakukan, seperti background research terhadap atlet dan olahraga itu sendiri. Namun, ketika situasi penyampaian komentar itu berlangsung, kata dan frasa yang digunakan terjadi secara spontan (Mckay, 2008: 409) sehingga komentator juga (tentu saja) bertanggung jawab atas hasil akhir dalam siaran itu (lihat Angeline dan Billings, 2010: 364).

Dari hal itu, mungkin terlintas bahwa salah satu solusi yang perlu dicoba adalah mendorong representasi perempuan yang lebih sehat di antara komentator olahraga. Kehadiran komentator perempuan, terutama dalam bidang olahraga putri, mungkin berpotensi menghadirkan pembingkaian yang lebih lengkap dan manusiawi. Namun, itu saja mungkin tidak akan cukup untuk mengubah ranah olahraga yang secara tradisional sangat maskulin.

Seharusnya, olahraga merupakan salah satu bidang yang digunakan untuk mewujudkan kesetaraan gender dan juga untuk menjalankan keadilan gender (UN dalam Omrčen, 2017: 145). Namun, pada nyatanya, olahraga menjadi alat untuk melanggengkan stigma-stigma yang ada (yang membuat perempuan berada di kelas “bawah”).

Asian Games adalah pesta olahraga terbesar di Asia dengan skala internasional dan merupakan acara sangat bergengsi, menjadi salah satu bukti nyata bahwa,

“The positive outcomes of sport for gender equality and women’s empowerment are constrained by gender-based discrimination in all areas and at all levels of sport and physical activity, fuelled by continuing stereotypes of women’s physical abilities and social roles.”

(United Nations, 2008: 3) []


Daftar Pustaka

Angelini, James & Billings, Andrew. (2010). An Agenda That Sets the Frames: Gender, Language, and NBC’s Americanized Olympic Telecast. Journal of Language and Social Psychology - J LANG SOC PSYCHOL. 29. 363-385. 10.1177/0261927X10368831.

Arons, Wendy, ""If Her Stunning Beauty Doesn't Bring You to Your Knees, Her Deadly Drop-kick Will": Violent Women in Hong Kong Kung fu Film", in McCaughey, Martha; King, Neal (eds.), Reel Knockouts: Violent Women in the Movies, Austin, Texas: University of Texas Press, p. 41.

Billings, Andrew & Eastman, S.T.. (2002). Selective Representation of Gender, Ethnicity, and Nationality in American Television Coverage of the 2000 Summer Olympics. International Review for The Sociology of Sport - INT REV SOCIOL SPORT. 37. 351-370. 10.1177/101269020203700302.

Cambridge University Press (2016). Language, Gender and Sport. Part of the Cambridge Papers in ELT series. [pdf] Cambridge: Cambridge University Press.

Mulvey, Laura. “Visual Pleasure and Narrative Cinema.” Film Theory and Criticism: Introductory Readings. Eds. Leo Braudy and Marshall Cohen. New York: Oxford UP, 1999: 833-44.

Omrčen, Darija. (2017). Analysis of gender-fair language in sport and exercise. Rasprave Instituta za Hrvatski Jezik i Jezikoslovlje. 43. 145.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.