“Aksi Kuli Bangunan Perkosa Janda Muda di Jember Dipergoki Warga”. Judul berita semacam ini kerap kali muncul di media. Pemberitaan kekerasan seksual seringkali memadukan tiga materi utama yang sering dieksploitasi media: seks, kriminalitas, dan konflik. Formula ini menghasilkan produk berita yang menarik perhatian banyak orang, tapi sayangnya, justru menenggelamkan isu penting—kekerasan seksual itu sendiri—dalam narasi yang sensasional.

Model pemberitaan ini pun menghasilkan mitos-mitos tentang kekerasan seksual yang seringkali merugikan penyintas dan menghambat upaya struktural untuk menghentikan kekerasan seksual. 

Bagaimana media melakukan hal ini, dan kenapa?

Mitos-Mitos Pemerkosaan

Di balik bahasa yang sensasional, media memiliki sejumlah mitos yang dilekatkan pada kekerasan seksual. Mitos-mitos ini dapat kita telusuri dari bagaimana media mendeskripsikan pelaku, korban, serta pemerkosaan itu sendiri.

Pada berita di awal tulisan ini, pemilihan frasa “kuli bangunan” untuk mendeskripsikan pelaku dan “janda muda” untuk mendeskripsikan korban menunjukkan bagaimana mitos ini dibangun. “Kuli bangunan” adalah personifikasi fisik lelaki yang kuat dan jantan, sementara “Janda Muda” secara kultural lekat dengan personifikasi “mengundang” atau “sensual”. Dengan penggambaran ini, pelaku digambarkan sebagai memiliki kekuatan fisik yang dominan, sementara korban digambarkan sebagai objek seksualitas. Pemerkosaan, dalam konteks ini, menjadi dominasi atau “penaklukkan” atas objek yang dihasrati. Ditambah lagi, berita tersebut juga mendeskripsikan kejadian dengan,

“Tersangka diketahui berkerja sebagai kuli bangunan di kompleks perumahan itu dan mengaku menyukai korban. Namun, terpaksa nekat memperkosa korban sambil mengancamnya dengan pisau saat keadaan sepi, lantaran penghuni rumah lain berpergian.”

Deskripsi ini membuat percobaan pemerkosaan pelaku terkesan sebagai sesuatu yang lumrah—ia “menyukai korban” dan “terpaksa nekat” memperkosa. Hasrat pelaku seolah-olah merupakan sesuatu yang dasar, yang esensial, sehingga pemerkosaan dapat dimaklumi, setara dengan warga miskin kelaparan yang terpaksa mencuri makanan.

Penggambaran korban sebagai objek seksual ini juga bisa ditemukan dalam berita Tribunnews.com, “Dua Terduga Pembunuh Gadis Cantik Calon Pendeta Sempat Membantah Saat Ditangkap di Air Sugihan OKI”. Penyebutan korban sebagai “gadis cantik calon pendeta” dilekatkan untuk memberi pesan tentang gairah seks pemerkosa terhadap korban sebagai obyek. Berita tersebut bahkan memuat foto korban sewaktu masih hidup, tanpa sensor, seolah-olah untuk membuktikan bahwa korban “benar-benar cantik”. Tindakan ini tentu tidak etis dan berpotensi memperburuk kondisi mental keluarga korban. Bandingkan dengan terduga pelaku yang tidak dideskripsikan.

Sementara itu, penggambaran pelaku sebagai subjek aktif yang melakukan “penaklukkan” dapat ditemukan dalam berita Palapanews.com dengan judul, “Gadis 14 Tahun Digagahi Empat Pria Secara Bergilir”. Di sini, kata “digagahi” menunjukkan bahwa perkosaan adalah suatu tindakan yang menunjukkan kejantanan maskulin. Ditambah lagi kata “gadis” usia 14 tahun dan “secara bergilir”, membangkitkan imaji pembaca pada suatu bayangan cabul tentang hubungan seksual beramai-ramai. Berita tersebut mendeskripsikan peristiwa dengan,

Tak tanggung-tanggung, kepada penyidik, keduanya mengakui telah menyetubuhi korban selama tiga hari penyekapan hingga berkali-kali.”

Penggunaan frasa “tak tanggung-tanggung” menggambarkan tindakan pemerkosaan itu secara superlatif, seolah-olah pencapaian dan menunjukkan “kejantanan” pelaku.

Mitos “kejantanan” laki-laki ini diperpanjang lebih jauh dalam berita liputan6.com,Bak Pagar Makan Tanaman, Pemuda Banyuwangi Cabuli Istri Teman”. Penggunaan perumpamaan “pagar makan tanaman” menggambarkan pelaku (“pagar”) sebagai subjek kuat yang menjaga, sementara korban (“tanaman”) sebagai subjek lemah dan pasif yang harus dijaga. Narasi dari berita tersebut pun diambil dari sudut pandang kecabulan pelaku, sehingga mengesankan bahwa kekerasan tersebut disebabkan oleh penolakan korban.

Merasa ditolak, Ongsron menarik paksa korban. Dia kemudian mengunci pintu kamar. Lalu, dia mendorong korban ke dinding dan mengajak korban bersetubuh.

[…] Pelaku menjanjikan tidak akan menyampaikan hal itu kepada siapa pun jika korban melayaninya. Namun, korban tetap menolak.

[…] Bukannya takut, pelaku justru menjadi-jadi. Dia mulai meraba bagian dada korban seraya menjatuhkan tubuh korban ke tempat tidur dan berusaha menindih tubuhnya.” 

Budaya Kekerasan Seksual

Sara Mills (2001), mengikuti Michael Foucault, memahami bahasa atau teks sebagai alat kekuasaan. Kekuasaan dalam hal ini bukan dimilki oleh raja, presiden, negara adikuasa, atau oleh pemimpin media sekalipun. Kekuasaan adalah strategi, ia tidak bekerja melalui penindasan atau represi, melainkan melalui bahasa dan budaya. Strategi ini berupa “normalisasi” nilai-nilai dominan atau dengan melekatkan citra tertentu pada realitas sosial.

Dalam kasus-kasus kekerasan seksual, normalisasi ini bekerja dengan menggambarkan korban sebagai objek pasif yang lemah, namun dihasrati. Penggambaran ini dilakukan dengan melekatkan predikat seperti “cantik”, “janda muda”, “gadis”, atau atribut yang dikenakan oleh korban, seperti “rok mini”, atau “baju terbuka”. Predikat-predikat ini ditempelkan untuk menggambarkan bahwa korban “mengundang secara seksual”.

Pada saat yang bersamaan, pelaku digambarkan sebagai subjek aktif yang dominan, dan dikendalikan oleh hasrat. Dalam penggambaran ini, “pemaksaan” dan “kekerasan” menjadi ekspresi dari “kejantanan” sang pelaku untuk memperoleh hal yang ia hasrati: tubuh perempuan. Oleh karena itulah berita pemerkosaan sering membingkai pelaku sebagai “gelap mata” atau “terpaksa nekat” sehingga melakukan pemerkosaan.

Mitos-mitos ini mengakar dalam media kita, sehingga menghasilkan budaya kekerasan seksual, budaya yang mewajarkan kekerasan seksual. Bahwa nafsu birahi laki-laki adalah sesuatu yang normal, sehingga apabila laki-laki memperkosa perempuan, maka itu adalah kenormalan seksualnya. Sementara bagi perempuan, menjadi korban adalah akibat kesalahannya, karena ia “cantik”, atau “janda”, atau “memakai rok mini”. Dalam narasi yang lebih ekstrim, bahkan terdapat pula mitos bahwa korban “ikut menikmati” pemerkosaan.

Oleh karena itulah perempuan selalu menjadi sorotan utama dalam kasus-kasus “asusila”, seperti penggrebekan hotel, pengarakan dan penelanjangan pasangan berzina, prostitusi daring, kasus kekerasan seksual, konflik rumah tangga. Dalam pemberitaan-pemberitaan itu, perempuan tidak muncul sebagai korban yang dibela, melainkan untuk digali: kesalahan apa yang ia lakukan sehingga mendapat perlakuan seperti itu.

Maraknya narasi semacam ini di media membuat warga menjadikannya sebagai acuan ketika membicarakan kekerasan seksual. Oleh karena itulah, komentar-komentar netizen pun kerap berisi penghakiman tak ada habisnya pada perempuan. Praktik media ini tidak membangun empati terhadap korban, tapi malah membingkai korban sebagai sumber masalah. []

Tulisan ini adalah bagian dari program Remotivi, “Fair Representation Index”, yang ditaja oleh Voice.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.