Tempo.co barangkali merupakan media mainstream pertama di Indonesia yang memiliki rubrik khusus difabel. Apa yang dilakukan oleh media daring ini tentu akan menjadi sangat bermanfaat bagi perjuangan kelompok disabilitas yang selama ini terbungkam suaranya.

Pasalnya, permasalahan disabilitas sangat erat kaitannya dengan stigma dan diskriminasi. Salah satu hulu berbagai permasalahan tersebut adalah “konstruksi” masyarakat, dan media mempunyai peranan yang krusial dalam membentuk formasi diskursif atas disabilitas. Cara pandang tersebut diproduksi terus-menerus hingga kemudian menjadi “kebenaran” dan akhirnya menentukan banyak hal dalam kehidupan penyandang disabilitas.

Selama bertahun-tahun media di Indonesia melihat disabilitas sebagai orang lemah, orang tak berdaya, dan patologi sosial. Cara pandang medis (medical model) begitu dominan: mereka menggambarkan bahwa disabilitas adalah “bencana” bagi yang mendapatkannya. Lebih tepatnya, disabilitas dianggap sebagai tragedi yang menimpa seseorang. Karena itulah berita-berita yang muncul selalu bernada kasihan, ataupun sebaliknya berlebihan (supercrip), di mana penyandang disabilitas yang bisa melakukan sesuatu—yang sebenarnya biasa saja—dibikin sebagai objek inspirasi.

Namun, Tempo.co menampilkan wajah baru disabilitas di media. Menjadikan isu disabilitas sebagai sebuah rubrik khusus saja sudah merupakan sebuah kemajuan besar bagi dunia jurnalisme di Indonesia. Tempo.co mengusahakannya lebih dari itu: ia mengulas isu disabilitas dengan konsisten dan menarik. Hal itu dilakukan dengan membahas isu disabilitas lewat topik yang beragam: aktivisme, tips bagaimana bersosialisasi dengan difabel, alat bantu, gaya hidup, pendidikan, layanan publik, dan lainnya.

Dalam “Mengenal Gejala Anak Disabilitas Psikososial dan Penanganannya”, misalnya, berita ini merupakan sebentuk pendidikan literasi ke masyarakat soal disabilitas, yang  memang masih sangat minim di Indonesia. Berita berunsur literasi seperti itu kerap muncul di Tempo.co, seperti terlihat dalam “Buka Identitas Anak Difabel Bisa Cegah Anak Alami Bullying” dan “Seperti Apa Pelayanan Kesehatan Reproduksi Inklusif Bagi Difabel”. Selain itu, aspek literasi disabilitas di Tempo.co juga ditampilkan dalam hal-hal kecil dan menarik, seperti kursi roda, main kartu bagi disabilitas netra, dan lainnya. Berita bercorak literasi seperti itu membantu isu disabilitas hadir lebih sering dalam perbincangan dan pengetahuan masyarakat sehari-hari.

Corak lain yang kerap muncul dari berita-berita disabilitas di Tempo.co adalah berita tentang penyandang disabilitas yang mampu melakukan hal-hal biasa yang selama ini dilakukan oleh abled-body. Ini penting karena selama ini penyandang disabilitas kerap dianggap tidak mampu melakukan hal-hal tertentu. Tengoklah berita “Latte Art Karya Barista Satu Rangan di Sunyi Cofee House And Art” dan “Kisah Presti Murni, Tunanetra yang Menjadi Guru Fiqih di Madrasah”.

Biasanya, berita seperti ini tidak tergoda untuk membingkai penyandang disabilitas secara inspirasional, “orang hebat”, dan sebagainya. Namun, kedua berita tadi ditulis dengan biasa, tanpa melebih-lebihkan, dan tanpa nada yang menjadikan penyandang disabilitas sebagai sumber inspirasi. Hanya membuka mata bahwa penyandang disabilitas seperti yang lainnya: bisa mengajar, bisa menjadi barista, bisa mengaji, dan seterusnya.

Demikian pula dengan sudut pandang dan judul berita, tak ada nada supercrip atau menghereoisasi. Difabel dianggap sebagai entitas biasa sebagaimana manusia pada umumnya. Kejadian dan peristiwa yang melingkupi difabel dibungkus dengan apa adanya, tanpa menggiring dan mengarahkan pada ideologi “kenormalan”. Ini berbeda dengan banyak berita atau talkshow yang menghadirkan penyandang disabilitas sebagai objek atraksi atau inspirasi.

Usaha melepas supercrip dan excessive charity atas pemberitaan disabilitas yang dilakukan Tempo.co sangatlah baik untuk mengurai “konstruksi” yang selama ini telah melingkupi masyarakat: disabilitas dianggap sebagai objek kasihan dan kehebatan. Dibandingkan dengan media-media mainstream yang lain, Tempo.co lebih punya kesadaran menggunakan paradigma yang sejalan dengan tujuan pengarus-utamaan difabel di kalangan aktivis difabel.

Ini tentu merupakan kerja jurnalistik yang tidak mudah mengingat konstruksi mengenai disabilitas yang sudah hegemonik, tertanam dalam alam bawah sadar kita. Artinya, wartawannya harus selalu bersikap kritis dan mempertanyakan segala asumsinya yang sudah mapan mengenai disabilitas.

Meskipun demikian, apa yang dilakukan oleh Tempo.co sedikit kekurangan daya dorong advokatif, sehingga kurang begitu memberikan daya dobrak pengetahuan masyarakat. Selain itu, dalam konteks variasi berita, berita-berita di Tempo.co juga kurang dalam melakukan pemberitaan yang sifatnya menggali permasalahan dari aspek struktural, misalnya kebijakan pemerintah, pendidikan inklusif, atau hak sipil disabilitas. Padahal, sebagaimana kita kita ketahui bahwa permasalahan struktural sangat erat kaitannya dengan kondisi difabel, baik pemenuhan hak asasi maupun membangun budaya masyarakat yang inklusif terhadap disabilitas.

Selain itu, kritik yang lain adalah, pemberitaan di rubrik Difabel milik Tempo.co masih terlalu berpusat di Jakarta dan sekitarnya. Akhirnya banyak sekali peristiwa-peristiwa yang erat hubunganya dengan penyandang disabilitas luput dalam pemberitaan. Selebihnya ulasan dan cara menyajikan Tempo.co telah mampu keluar dari dua kontsruksi besar yang selama ini menjadi dinding bagi difabel dalam masyarakat: supercrip model dan charity model. []