Fans K-pop–atau sering disebut sebagai K-pop stans–selama ini sering mendapat banyak caci maki dan stereotip negatif dari publik. Mereka sering dicap gila, irasional, obsesif, dan banyak label-label negatif lainnya. Sehingga ketika awal bulan ini fans K-pop menyerukan solidaritas dengan gerakan #BlackLivesMatter, banyak orang yang terkejut dengan tindakan aktivisme mereka.

Solidaritas tersebut dilakukan dengan mengirimkan spam pada tagar #WhiteLivesMatter dan tagar-tagar rasis lainnya. Spam tersebut berisi foto atau video idola K-pop mereka. Dengan cara ini mereka ingin mengacaukan konten rasis yang beredar lewat tagar-tagar tersebut di Twitter dan Instagram.

Selain itu, mereka juga memprotes kepolisian Dallas dengan membanjiri aplikasi iWatch Dallas menggunakan fancam (video klip pendek dari idola K-Pop). Hal itu akhirnya membuat aplikasi tersebut rusak dan diberhentikan sementara.

Tindakan ini mendapat perhatian besar dari para pengguna internet. Banyak orang dikagumkan dengan aktivisme fans K-Pop yang masif dan terorganisir. Namun barangkali orang banyak tidak tahu: aktivisme daring seperti ini bukanlah hal yang asing dilakukan oleh fans K-Pop.

Fans K-pop pernah menyuarakan kasus dua siswa yang meninggal di Bangladeshmendonasikan beraspohonuang, dan mendukung kampanye-kampanye humanitarian lainnya, seringkali di bawah nama idola mereka. Selain itu, pemerintahan Chile juga pernah menyatakan dalam laporan mereka  bahwa fans K-Pop berkontribusi pada gerakan protes di sana.

Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa fans K-pop lebih dari sekadar gerombolan remaja "dangkal, mengganggu, dan suka berteriak", tapi juga merupakan kelompok resistensi yang progresif dan memiliki agensi serta kekuatan besar untuk mendominasi percakapan daring.

Mereka mampu melakukan mobilisasi dalam jumlah besar untuk isu-isu yang menjadi perhatiannya. Hal tersebut dilakukan selain karena kepedulian terhadap suatu isu, juga karena perhatian fans K-pop terhadap idolanya. Menurut mereka, donasi dan aktivisme yang dilakukan akan membantu mencerahkan reputasi sang idola.

Sayangnya, diskursus mengenai fandom sering kali dilakukan melalui lensa negatif. Fans, khususnya fangirls, seringkali menerima pandangan negatif dari publik. Ini terlihat melalui bagaimana media menyorot subkultur ini.

Dalam sebuah artikel di The Guardian, misalnya, Stuart Heritage mengasihani orangtua-orangtua yang memiliki anak perempuan yang dilahirkan 12-19 tahun yang lalu karena hidup mereka “berantakan”. Komentar ini merujuk pada fans One Direction yang sedih atas keluarnya Zayn Malik dari grup band tersebut. Ada juga artikel dari majalah GQ yang mendeskripsikan fangirls sebagai kumpulan remaja perempuan yang histeris, banshee yang “membasahi celana dalam”, dan “hormone bomb”.

 

Di Balik Stereotip Fans K-Pop

Lalu, apa yang melatarbelakangi stereotip negatif fandom K-pop dalam masyarakat dan media?

Ini bisa dijelaskan melalui perspektif industri budaya yang disebut oleh Theodor Adorno dan Max Horkheimer dalam bukunya Dialectic of Enlightenment (1982). Menurut mereka, budaya populer dalam masyarakat kapitalis berfungsi seperti industri dalam memproduksi produk (konten) yang terstandardisasi dan karenanya menghasilkan orang-orang yang “terstandardisasi”.

Sebagai bagian dari budaya populer, K-pop menjadi korban komentar Adorno dan Horkheimer tersebut. Produk-produk K-pop dilihat sebagai sesuatu yang standar, dangkal, buatan pabrik, tidak autentik, dan tidak memicu pemikiran yang lebih jauh. Perspektif tersebut tidak hanya berlaku terhadap produknya namun juga para penggemarnya. Fandom K-pop dan fandom-fandom lainnya hanya dilihat sebagai kumpulan massa yang terbutakan oleh produk pabrik sehingga tidak kritis. Ini mereduksi anggota-anggota fandom yang kompleks dan multidimensional, mendehumanisasi para penggemar K-pop dan fandom-fandom lainnya.

Stereotip negatif fandom juga bisa dijelaskan melalui feminisasi budaya massal yang akhirnya mendevaluasi budaya ini (Huyssen, 1989). Feminisasi budaya massal ini muncul di abad 19 dan didorong oleh ketakutan terhadap emosi, perasaan, dan praktik konsumsi yang dianggap feminin. Hal ini bertentangan dengan nilai maskulin yang rasional dan menekankan produksi. 

Dari lensa ini, penikmat budaya massal dilihat sebagai orang-orang pasif yang tidak bisa menarik makna dari konten-konten industri budaya massal. Merasa terinspirasi dan menikmati produk budaya massal dilihat sebagai kenikmatan yang salah, dangkal, dan berbahaya. Oleh karenanya, penggemar perempuan–beserta idolanya–digambarkan melalui definisi-definisi tersebut. Mereka direduksi menjadi konsumen budaya massal yang pasif dan emosional (Dare-Edwards, 2015).

Buruknya pandangan terhadap fandom K-Pop juga dipengaruhi oleh objek kesukaan mereka, yaitu boybands K-Pop. Boybands K-pop dianggap mendisrupsi konsep maskulinitas tradisional lewat gaya berpakaian, gaya rambut, dan dandanan yang cenderung feminin.  Penampilan mereka dianggap menentang hegemoni maskulinitas yang selama ini dilanggengkan oleh masyarakat dan media. Disrupsi maskulinitas yang dilakukan oleh boyband K-Pop membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, mendorong mereka untuk mencaci maki boybands K-Pop dan penggemarnya sebagai usaha untuk mempertahankan status quo.

Demografi penggemar K-pop yang didominasi oleh perempuan semakin mendorong masyarakat untuk melihat K-pop sebagai budaya yang feminin dan oleh karenanya inferior dibandingkan budaya maskulin. Ini berkaitan dengan internalisasi seksisme yang dipelihara dalam masyarakat di mana maskulinitas dianggap superior; selera perempuan dilihat tidak sebanding dengan selera laki-laki.

K-pop sering dikritik melalui narasi propaganda pemerintah. Stereotip negatif terhadap K-pop dan fandomnya bisa dilihat sebagai reaksi dari tertantangnya dominasi budaya Amerika Serikat yang selama ini merajalela khususnya dalam budaya musik mainstream. Oleh karenanya, K-pop dan fandomnya selalu dilihat sebagai “the other”.

Media barat melihat K-pop melalui perspektif barat atau imperial gaze–melihat suatu realita yang “asing” dengan mensubordinasikannya. Ini dilakukan melalui media barat yang selalu memberikan penekanan terhadap penindasan yang dialami para seniman K-Pop dan terus menerus menggunakan jargon produk buatan pemerintah. Framing seperti itu menggeneralisir semua aktor dalam industri K-pop dan mendiskreditkan seniman-seniman yang bekerja keras di dalamnya.

K-pop dan fandomnya merupakan budaya yang tidak mengikuti konvensi budaya arus utama yang maskulin dan didominasi oleh negara barat. Oleh karenanya, mereka sering mendapatkan reputasi negatif melalui penggambaran media terhadapnya. Kritik-kritik tersebut melupakan kenyataan bahwa fandom K-pop memiliki sebuah kekuatan besar, terutama komunitas daringnya–tempat utama berkumpulnya komunitas ini.

Aktivisme fandom K-pop yang dilakukan melalui #WhiteLivesMatter dan aplikasi iWatchDallas dapat menjadi momentum di mana fandom ini tidak lagi dilihat sebagai kumpulan massa yang pasif dan terbutakan. Nyatanya, mereka adalah kumpulan orang dengan pengetahuan digital dan politik yang tinggi. Mereka memiliki agensi dan kekuatan besar yang berhasil menyetir sebuah gerakan politik.

Aksi yang dilakukan oleh fandom K-Pop ini dilakukan bahkan sebelum idola mereka mengangkat suara mengenai isu Black Lives Matter. Aktivisme yang mereka lakukan pun tidak sia-sia, karena akhirnya idola mereka, BTS, dilaporkan mendonasikan 1 juta dollar untuk gerakan BLM. Dan tidak mengejutkan lagi ketika fandom BTS menyamai donasi tersebut dan ikut menyumbang 1 juta dollar lainnya.

 

Dare-Edwards, H. L. (2015). “Interrogating Tweendom Online: ‘Fangirl as Pathology’, Gender/Age, and iCarly Fandom”.

Horkheimer, M., & Adorno, T. W. (1982). Dialectic of enlightenment. New York: Continuum.

Huyssen, Andreas. (1986). “Mass Culture as Woman: Modernism’s Other”. In Studies in Entertainment: Critical Approaches to Mass Culture, edited by Tania Modleski. 188- 209. Indiana: Indiana University Press.