Gaul Bareng Bule (GBB) adalah sebuah tayangan yang khas masyarakat pasca-kolonial. Memang tayangan ini sudah berhenti diputar setidaknya sejak awal Desember lalu, namun masih penting untuk dibicarakan karena dua alasan. Pertama, cara pandang yang dipakai dalam tayangan ini jamak dipakai oleh tayangan-tayangan lain ketika mendudukkan kebudayaan pribumi dan Barat. Kedua, tayangan ini adalah contoh yang paling gamblang dan banal untuk mengamati gejala pasca-kolonial di televisi.

Tak ada yang lebih penting dalam tayangan yang dipandu kakak beradik Zaskia dan Shireen Sungkar itu selain kehadiran si bule. Masalahnya, bagaimana si bule dapat menjadi sebuah komoditas jika tidak ada “nilai” yang diasumsikan ada padanya? Jelas, jawabnya adalah kekaguman terhadap bule, sebuah jejak dari masyarakat pasca-kolonial.

Kekaguman itu bukanlah naluri alami sebuah bangsa satu berhadapan dengan semua bangsa lain. Jarang perasaan seperti itu diekspresikan orang Indonesia begitu berhadapan dengan orang dari benua Afrika, misalnya. Perasaan itu adalah sebuah kebudayaan khas masyarakat dengan pengalaman terjajah, di mana penjajah berarti western society. Ia lahir dari cara bagaimana hubungan “yang terjajah” dan “penjajah” dibangun. Tak semua interaksi kita dengan bangsa Barat sekarang adalah efek kolonialisme, namun sepanjang ada perasaan kekaguman kepada Barat—yang dalam bentuk lain berarti “perasaan ingin sama atau sejajar”—bisa jadi itu adalah efek kolonialisme.

Benarkah pengalaman kolonialisme berhubungan dengan kekaguman pada bule sehingga muncul tayangan seperti GBB dan sejenisnya?

“Menjadi Eropa”

Kebijakan politik penjajah Belanda menempatkan dirinya sebagai warga kelas satu di atas pribumi. Benar bahwa hal itu membuat Hindia melihat penjajah sebagai warga istimewa, tapi ada wacana yang kompleks sehingga pribumi berkesadaran sendiri “menjadi seperti Belanda” atau “tidak kalah dengan Belanda”.

Pernah, di dekade-dekade awal abad 20, orang-orang di Hindia Belanda begitu terpesona pada kata “kemajuan”. Membaca surat kabar zaman itu, misalnya saja Papaes Nonoman, kita akan temukan betapa kata “kemajuan” dipuja sebagaimana halnya istilah “pembangunan” di zaman Orde Baru. “Kemajuan” digunakan untuk menilai-timbang hampir semua bidang kehidupan: norma, aksara, bahasa, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Hindia, kala itu, sedang sibuk “menjadi maju”.

“Menjadi maju” berarti mengenali apa “yang maju”, lalu menyerapnya, dan apa yang “tidak maju”, kemudian membuangnya. Apa yang diserap dan apa yang kemudian ditendang-buang?

Saya tukilkan apa yang direkam Papaes Nonoman, sebuah surat kabar Sunda yang mulai terbit pada 1914, yang terjadi juga di belahan bumi Hindia Belanda:

Zaman sekarang, yaitu zaman perubahan kepada kemajuan... Waktu sekarang semua manusia sedunia, belajar kepintaran pada orang Eropa... Kalau kita bisa berbahasa Belanda, tentu kita dapat membaca banyak buku yang isinya bermacam penuntun kepada kemajuan.

(Papaes Nonoman nomor 5, tahun 1, 1 Juni 1914: “Aoseeun Istri Pameget”)

Senada dengan teks di atas adalah Sengsara Membawa Nikmat, novel Tulis Sutan Sati (1928). Berlatar masyarakat Minangkabau, novel itu menceritakan Midun yang alim bersahaja namun masuk penjara karena cuma kenal aksara Pegon Arab. Ia tertipu perjanjian beraksara Latin. Setelah dilatih baca-tulis aksara Latin oleh seorang narapidana, Midun berhasil menjadi asisten demang. Novel itu tegas membilang bahwa kesadaran hanya dapat dimiliki dengan menguasai aksara Latin, yang dalam novel itu disebut aksara Belanda.

Kemajuan adalah seperti laku bangsa Belanda. Buku-buku Belanda dikatakan sebagai penuntun kemajuan. Maka, kebiasaan dan tata cara Belanda adalah tata cara kemajuan tanpa mengenali ruang kultural dalam cara pandang Belanda itu. Tata cara pribumi kemudian dianggap sebagai kuno—bahkan tak beradab. Cara berjalan lelaki dan perempuan yang sebelumnya adalah cara beradab, dengan adanya kemajuan, kemudian dianggap bukan cara beradab.

“...jika kita berjalan harus sejajar dengan istri kita, jangan menurut jaman dulu (dimana) istri atau setiap perempuan disuruh (berjalan) di belakang, itu artinya tidak hormat, tidak menghargai perempuan”

(Papaes Nonoman nomor 11, tahun 1, 1 December 1914; “Adat tata krama Bangsa walanda beunang Njoetat tina boekoe Basa Walanda”)

Kekaguman penduduk Hindia kepada Belanda bukanlah kekaguman biasa. Ia sekaligus juga penyerahan diri pada cara pandang penjajah yang ogah mengenali ruang kultural pribumi, namun angkuh dengan label kemajuan. Hanya dengan mengganti cara pandangnya sesuai dengan cara pandang penjajah, pribumi Hindia dapat ikut bicara mendefinisikan kemajuan, seperti halnya pergantian cara pandang melihat cara berjalan lelaki dan perempuan dalam teks di atas.

Adakah pribumi yang dikagumi orang-orang Hindia? Ada, namun kekaguman itu datang karena pribumi yang dikagumi berhasil menjadi seperti Eropa dan tak kalah dengan bangsa Eropa. Abdul Rivai misalnya, dikagumi pribumi karena berhasil menjadi dokter yang bersekolah di Belanda (Papaes Nonoman, No 3, 31 Maret 1914. “KaoemMoeda”). Ia berhasil dalam sekolah, sebuah institusi bawaan Belanda yang pada awalnya dicap lembaga kafir (Chijs 1864; 220-223 (dalam Moriyama, 2003; 79). Ia jadi suri tauladan pribumi, karena menerima cara Belanda dengan sangat baik.

Kekerasan dalam Gaul Bareng Bule

Gagasan pasca-kolonial tak hanya ingin menulis masa lalu. Pertanyaan pentingnya kemudian barangkali adalah bagaimana ketegangan “cara penjajah” dan “cara terjajah” memunculkan permasalahan dalam praktik kultural masyarakat pasca-kolonial sekarang?

Pertanyaan itu dapat ditujukan pada semua bidang termasuk televisi. Televisi belum ada kala Belanda bercokol di Hindia. Ia diinstitusikan pada 1962, ketika Hindia jadi Indonesia. Namun seperti halnya media lain seperti foto, buku, radio, dan sebagainya, televisi adalah rekaman praktik kultural masyarakat Indonesia sekarang. Televisi adalah tempat cara pandang penjajah dan terjajah bertempur, tak peduli apakah tayangan televisi itu sifatnya hiburan seperti GBB. Asal tahu saja, jika apa yang dituliskan penggosip macam John Josep Stockdale (1770-1847) dalam The Island of Java bisa membuat Jawa dianggap barbar di mata seluruh dunia, bisakah kita menganggap tayangan gosip semata hanya tayangan gosip, dan tayangan hiburan semata hanya hiburan?

Seperti yang saya tuliskan sejak awal, GBB hanya memanfaatkan kekaguman bangsa kita pada Barat, meski bule yang ditampilkan tidak selalu mereka yang datang dari western society. Tetapi lihat, berapa banyak bule yang tidak berasal dari western society dalam tayangan itu?

Masalahnya bukan itu saja. Ketika ide tayangan yang murah meriah itu hanya memperalat kekaguman bangsa kita pada Barat, ia tak pernah bisa menampilkan si bule dalam ruang kulturalnya sendiri. Logika tayangan itu sederhana: cukup tampilkan bule. Jika ia perlu menjelaskan apa yang menjadi bagian dari diri dan bangsanya, unduhlah gambarnya dari YouTube! Akhirnya, informasi tentang si Bule dan bangsanya terkesan netral, baik-baik saja, dan tentu lepas dari ruang kulturalnya sendiri. Sebuah hal yang mirip dengan apa yang dilakukan pribumi Hindia ketika menuliskan tentang Belanda dulu.

Sementara itu, kultur bangsa kita sendiri yang kita sudah kenal betul kadang digunakan sebagai guyonan. Akhirnya, posisi yang dibangun ketika GBB membandingkan dua kultur ini adalah bangsa Indonesia menjadi bahan guyonan, dan bangsa lainnya baik-baik saja—sebuah posisi yang mirip dengan cara pandang penjajah melihat terjajah yang tak beradab.

Hal ini dapat kita lihat pada episode 6 Mei 2013, yang menampilkan adegan sarapan bersama Afika, Nizam dan tiga anak asal Inggris. Anak-anak Inggris dalam tayangan itu diceritakan tidak dibolehkan sama sekali makan dengan tangan. Mereka menjelaskan bahwa di Inggris mereka memakai tiga sendok, tiga garpu, dan tiga pisau, dengan kegunaan masing-masing yang berbeda. Visualisasi yang ditampilkan kala itu adalah perjamuan makan a la Inggris, unduhan dari You Tube. Zaskia, salah satu pembawa acara, kemudian menjelaskan dengan bahasa inggris, bagaimana cara makan di Jakarta dan banyak tempat lainnya. Apa yang ia ceritakan? Cara makan di sini ia sebut cara makan di warteg: makan dengan tangan seraya mengangkat kaki di kursi. Kira-kira apa yang Anda bisa simpulkan dari perbandingan seperti itu?

Episode 27 Mei 2013 pun semakin meneguhkan paradigma tayangan tersebut. Ia menampilkan Nardji, Rachel Amanda, dan seorang bule Italia sebagai bintang tamu. Dalam episode kali itu, Nardji yang berperan sebagai pedagang tahu sekaligus ayah dari Rachel, tak setuju Rachel berpacaran dengan si bule. Terjadilah keributan. Lalu, datang Zaskia dan Shireen, di mana Shireen sempat menjelaskan bahwa tayangan seperti GBB adalah “penyuluhan bule”.

Siapakah yang kira-kira disadarkan dalam “penyuluhan bule” versi GBB? Bukan si bule, melainkan Nardji. Nardji-lah yang harus berubah cara pandangnya. Tidakkah GBB menampilkan sudut pandang kolonial, laksana pemerintah kolonial Belanda menyadarkan dan memberikan suluh bagi pribumi?

Sampai disini, apakah Anda masih melihat GBB dan tayangan sejenisnya sekadar hiburan? Tidakkah ia seperti halnya pemerintah kolonial dulu, yang berlagak menyeru kepada kemajuan, namun menawarkan sebuah kekerasan terhadap cara pandang? []