Bangku belakang

Bagaimana Aku Menanggapi Hoaks yang Melanda Grup WA Keluarga

Sebetulnya agak melelahkan untuk mengoreksi (membenarkan atau menyalahkan) berita yang beredar di grup keluarga besar karena terlalu banyak.

OLEH: Fadhil Ramadhan

seorang lelaki nomaden yang sedang berusaha untuk rajin membaca dan giat menulis. Jumpai saya di Twitter dan Instagram.

Grup WhatsApp (WA) keluarga besarku sedang ramai membicarakan Said Aqil yang dikabarkan mengatakan bahwa Jokowi adalah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman nanti. Bentuknya berupa tangkapan layar (screenshot). Pengirimnya adalah bapakku sendiri.

Dalam gambar tersebut, berita itu seolah milik BBC Indonesia yang terbit pada 20 Juli 2019. Dari bentuk judulnya, tampak sekali seperti editan. Terlihat dari font yang tidak pas, tanda baca yang tidak teratur, bahkan ejaannya saja pun ada yang salah. Saat itu juga aku langsung buka laman BBC Indonesia dan melakukan pencarian untuk mengetahui kebenaran berita tersebut.

Aku tidak menemukan beritanya. Jelas, berita tadi hoaks.

Ini bukan pertama kalinya berita hoaks menyebar di grup keluarga besar. Sebelumnya pada Januari lalu, saat sedang masa pemilihan presiden, pernah tersebar di grup keluarga besar sebuah berita tentang tujuh kontainer yang berisikan surat suara tercoblos. Bentuknya berupa obrolan yang di-forward (diteruskan), disertai pula dengan sebuah rekaman suara. Isi rekaman suara tersebut kurang lebih seperti berikut:

“Sekarang ini, ada tujuh kontainer di Tanjung Priok. Sekarang sudah geger, marinir sudah turun. Dibuka satu kontainer, isinya berupa surat suara yang sudah dicoblos nomor 1; Jokowi. Kontainer itu mungkin dari Cina. Satu kontainer itu isinya 10 juta surat suara tercoblos. Kalau ada tujuh kontainer, berarti toatalnya ada 70 juta surat suara tercoblos.”

Abangku menanggapinya, “Baca-baca berita, katanya itu hoaks. Kata berita, surat suaranya saja belum dicetak oleh KPU. Tapi bingung juga soalnya kebanyakan pemilik media nasional itu pro Jokowi, bahkan Republika juga.”

“Terima kasih ya, nak,” balas ibuku di grup WA.

Komentar abangku ditanggapi oleh anggota keluarga besar yang lain dengan analisis dan opini berupa pesan terusan yang entah dari siapa. Isinya: “Isu kontainer yang sedang ramai sengaja digembor-gemborkan sebagai hoaks. Supaya di saat kontainer yang berisikan surat suara tercoblos yang sebenarnya datang, masyarakat tetap menganggap itu hoaks.”

“Kalau dia bisa rekam suara, harusnya dia juga sempat merekam video atau mengambil foto,” abangku menanggapi. “Kini di WhatsApp kalau forward sesuatu, akan ada tandanya berupa tulisan forward bergaris miring di pojok kiri atas badan obrolan. Hal itu bertujuan untuk mempermudah penelusuran, dari mana sebuah broadcast yang tersebar di goup WA bersumber. Karena hoaks yang tersebar di grup WA amatlah banyak.”

“Mungkin Fadhil yang di kampusnya belajar jurnalistik lebih paham,” tambah abang sembari menandaiku dengan menuliskan @Fadhil pada kolom obrolan.

Aku menghela nafas dulu. Lalu terpaksa membalas karena abang menandaiku dalam obrolan. Akhirnya, aku ikut mencari tahu lewat portal berita nasional dan Twitter. Aku memberi masukan berupa dari mana informasi seperti itu tersebar dan bikin ramai. Salah satunya yaitu dari cuitan Andi Arief, Wakil Sekretaris Jendral Partai Demokrat. Cuitan tersebut mendapat retweet sejumlah 273 dan likes sebanyak 1.270.

Dalam cuitannya, Andi mengatakan bahwa ia kaget karena cuitannya tersebut menjadi ramai. Dan karena keramaian yang dibuat olehnya, KPU dan Bawaslu sampai melakukan pengecekan. “Baguslah kalau KPU dan Bawaslu sudah mengecek. Saya mengimbau supaya dicek. Karena isu itu sudah dari kemarin sore muncul,” tulis Andi.

Cuitan Andi Arief tersebut aku screenshot dan kigim ke grup WA. “Benar atau tidaknya, menurut Fadhil masih belum jelas, karena belum ada bukti yang akurat. Semuanya baru pendapat yang bersumber dari grup WA.”

Ibu kembali menjawab di grup, “Makasih banyak ya, nak.”

Sebetulnya agak melelahkan untuk mengoreksi (membenarkan atau menyalahkan) berita yang beredar di grup keluarga besar karena terlalu banyak. Akhirnya malam itu, sembari menyeruput kampul hangat, aku tanggapi berita tentang Said Aqil yang dibagikan oleh bapak.

“Menurut Kominfo itu hoaks,” tulisku di grup, sambil kutautkan berita dari laman resmi Kominfo. Bagiku, kita harus terus memberantas hoaks karena dari situlah kebencian bisa lahir.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura