Bangku belakang

Hoaks yang Mengubah Bakmi Menjadi Babi

Ternyata tante saya malah marah-marah. Katanya saya ini membela Grace Natalie yang—menurut si tante—kafir. Karena itu saya dianggap tidak patuh pada petunjuk ulama. Pokoknya keislaman saya ini patut diragukan deh.

OLEH: Nurvina Alifa

Ibu rumah tangga. Tinggal di Depok. IG: @vivinalifa

Alkisah, pertengahan April 2019, sebuah video mampir di gruo WhatsApp keluarga besar saya. Pengirimnya adalah tante saya. Bersama video itu, tertulis kalimat "Grace Natalie ajak pesta makan BABI". Saya awalnya heran, ngapain coba Grace ngajakin pesta makan babi? Malah tambah diserang toh partainya? 

Jadi saya cari ulang lewat Google. Hasilnya: ternyata sudah banyak klarifikasi bahwa video yang viral tersebut adalah hoaks. Aslinya, di video tersebut Grace Natalie mengajak warga Pluit, PIK, Muara Karang, dan sekitarnya untuk nyoblos saat Pemilu dan sesudahnya makan BAKMI bersama. 

Babi dan bakmi memang berima sama. Jadi kalau sebelum nonton video itu kita sudah baca pesan "Grace Natalie ajak pesta makan babi", maka ketika menonton, memang yang terdengar adalah “babi”. Tapi setelah ditonton ulang, ternyata Grace memang bilang bakmi. 

Ada-ada saja, ya? Padahal kalau benar pun, ya nggak ada yang salah juga kalau Grace ngajak makan babi. Lah wong dalam ajaran agama dia boleh kok. Pun dia waktu itu ngomongnya sama warga Pluit dan sekitarnya yang memang banyak menganut Nasrani & Buddha.  

Akhirnya saya kirim tautan berita soal konfirmasi hoaks ini ke WAG keluarga. "Ini ternyata hoaks, tante." Tentu disertai dengan ikon senyum agar terlihat sopan dan ramah. 

Ternyata tante saya malah marah-marah. Katanya saya ini membela Grace Natalie yang—menurut si tante—kafir. Karena itu saya dianggap tidak patuh pada petunjuk ulama. Pokoknya keislaman saya ini patut diragukan deh.  

Dulu, saya pernah berpikir bahwa media sosial bisa membuat sirkulasi informasi dan gagasan menjadi lebih mudah. Sehingga masyarakat pada akhirnya menjadi lebih melek politik dan mampu membuat pilihan yang lebih baik di bilik suara. 

Namun ternyata, mengamati percakapan di aneka grup WA hari-hari ini, sirkulasi informasi yang lebih mudah tak selalu berarti wawasan yang lebih baik. Media sosial di tangan masyarakat dengan tingkat literasi rendah sama halnya seperti orang ngamuk yang memegang pistol: menembakkan peluru ke segala arah. 

Literasi yang saya maksudkan di sini bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan juga kemampuan memahami, menggunakan, dan merefleksikan sebuah narasi. 

Kembali ke video “makan babi” tadi. Saya duga video yang sudah dimanipulasi itu diambil oleh si tante dari salah satu WAG yang dia ikuti. Salah seorang di grup WA tersebut juga pasti mengambilnya dari grup WA lain yang ia ikuti. Dan begitulah seterusnya jika ditelusuri.  

Intinya, ratusan atau bahkan ribuan orang yang menyebarkan video ini sama sekali tak terpikir untuk sekadar mengecek kebenarannya. Pun tak berpikir bahwa apa yang ia sebarkan mampu membuat masyarakat semakin penuh prasangka. Keputusan mereka untuk menyebarkan atau tidak menyebarkan suatu informasi tidak didasarkan pada kredibilitas sumbernya atau kelogisan informasi itu sendiri, tapi pada seberapa dekat informasi tersebut dengan apa yang diyakininya.  

Dengan ketidakmampuan (atau ketidakinginan?)menimbang informasi dengan rasional, maka tak heran jika fanatisme politik dan agama lalu dengan mudah teramplifikasi melalui media sosial. 

Saya sungguh berharap bisa mengakhiri keluh kesah ini dengan saran yang keren dan bermutu. Tapi saya pikir, untuk melawan hoaks dan fanatisme, tak ada saran yang lebih baik dari apa yang Allah perintahkan pada Kanjeng Nabi saat turunnya firman pertama: Iqra! Iqra! Iqra! 

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura