Bangku belakang

Karena Undangan Digital Setitik, Rusak Hubungan Se-grup WA

Kondisi ini makin parah ketika sebuah undangan acara keluarga dikirim versi digitalnya melalui grup WA.

OLEH: Mitaqul Zaitun Nisah

jumpai saya di Tumblr dan Instagram

Pada lebaran tiga tahun lalu sebuah grup WA keluarga besar dibentuk dengan nama “Trah Prawirotomo”—tentu saja bukan nama sebenarnya. Tujuan awal dari grup ini simpel: sebagai penampung dan pusat distribusi foto-foto bersama di hari raya.

Semakin hari grup ini semakin berkembang dan beralih fungsi menjadi sumber informasi keluarga paling terkini. Ada yang berbagi tips kesehatan, ucapan ulang tahun, kabar melahirkan, dan sesekali kabar prestasi salah satu anggota keluarga. Kalau ada yang mengunggah foto kegiatan harian salah satu anggota keluarga, yang lain membalas dengan foto kegiatan anggota keluarga mereka juga.

Namun, keseruan dan kehangatan di grup mulai nggak asyik sejak rumor, gosip, dan masalah keluarga dibagi tanpa seleksi. Kemudian menyusullah juga kabar hoaks dan ceramah agama yang politis. Ini semua kemudian memunculkan pengkotak-kotakkan soal benar-salah, kafir- muslim, pahala-dosa, taat-sesat, dan lainnya.

Dalam alam semacam itu, penghuni grup WA seolah terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang doyan membagikan konten dan ngotot kalau semua yang mereka bagi di grup adalah benar. Mereka ini menolak untuk mempertimbangkan pendapat atau pandangan orang lain.

Kelompok yang kedua diisi oleh mereka yang selalu menyanggah atau mengklarifikasi konten atau pendapat dari kelompok pertama. Sanggahan mereka selalu dengan bukti dan dasar. Seperti perang, kelompok ini selalu mempersiapkan pelurunya. Kadang “peluru” itu berupa dalil untuk menyanggah bahasan yang berkaitan dengan agama, atau artikel berita dan data untuk menyanggah bahasan berbau isu politik. Tentu saja sanggahan mereka sering ditolak mentah-mentah oleh kelompok pertama.

Kelompok ketiga adalah mereka para pemantau. Kerjaan mereka adalah diam dan memantau, menertawakan perdebatan yang terjadi. Mereka biasanya muncul sebagai penengah jika debat tidak menemukan titik tengah.

Karena kegaduhan itu grup WA yang seharusnya damai dan aman menjadi tak keruan. Banyak yang terganggu. Satu per satu orang, terutama yang muda-muda, mulai meninggalkan grup. Hubungan persaudaraan, terutama yang tua-tua, mulai merenggang.

Kondisi ini makin parah ketika sebuah undangan acara keluarga dikirim versi digitalnya melalui grup WA. Pengirimnya adalah salah seorang kerabat yang masih muda. Ia barangkali berpikir bahwa, karena jarak dan waktu, maka membagikan undangan via grup WA keluarga bisa sangat efektif dan efisien. Sekali kirim semua anggota keluarga besar dapat, begitu pikirnya.

Sialnya, ini ternyata malah menjadi sumber perpecahan keluarga. Anggota keluarga yang lebih tua merasa tidak dihargai, disepelekan, tidak dihormati.

“Sungguh tak punya adat, unggah-ungguh, sopan-santun,” katanya.

“Kalau masih menganggap keluarga harusnya datang, mengundang baik-baik bukan lewat grup WA. Memang dia siapa sok penting, sok sibuk? Memang yang lain tak ada kesibukan?”

Acara tak bisa dibilang sepenuhnya berhasil. Banyak sesepuh di keluarga besar yang ngambek dan karenanya menolak untuk hadir. Setelah kejadian itu grup WA menyepi. Tak lagi ada kiriman tips kesehatan, debat agama, apalagi debat politik.

Grup WA kembali seperti fungsi awal, yakni sebagai “penampung dan pusat distribusi foto-foto keluarga”.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura