Bangku belakang

Balada Grup WA Keluargaku

Jangan sampai Ibuku dicap sebagai tante penyebar berita hoaks oleh keponakannya yang lain.

OLEH: Diah Rukmi Ambarwati

Bisa dijumpai di Twitter dan Instagram.

Dulu ada istilah: buku adalah jendela dunia. Sekarang jendela dunia nampaknya berpindah ke grup WhatsApp (WA) keluarga.

Kalau boleh diumpamakan, grup WA keluargaku tidak jauh berbeda dengan sebuah ensiklopedia. Bahkan mungkin lebih lengkap. Informasi apa yang kamu cari? Kesehatan? Life hacks? Agama? Resep masakan? Informasi A1 mengenai kebijakan pemerintah? Gosip tetangga? Atau sekadar mencari koleksi kata-kata motivasi?

Ya, meskipun tidak semua informasi itu benar adanya, setidaknya masing-masing anggota grup WA sudah pernah berkontribusi dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.

Bicara soal kontribusi, kontribusiku dalam grup WA keluarga mungkin sama seperti kamu dan ratusan ribu warga generasi milenial Indonesia lainnya: tidak ada. Cukup ironis memang. Generasi yang disebut akrab dengan media dan teknologi, serta selalu dianggap kreatif, informatif, produktif dan bersemangat malah memilih untuk menjadi pembaca pasif, alih-alih mengkritisi berbagai informasi yang tersaji.

Tapi tunggu dulu, aku punya pembelaan untuk itu. Sebagai anak kecil, sungkan rasanya aku menegur ibu, om, atau tanteku langsung di tengah-tengah percakapan grup yang ditonton belasan anggota.

Bagaimana jika setelah ditegur, “tante itu” marah kepadaku karena aku mempertanyakan efektif tidaknya informasi tentang "Langkah Menurunkan Berat Badan secara Singkat" yang telah dibagikannya? Atau lebih ekstrim lagi, bagaimana jika aku dibenci karena secara tidak langsung menyebut “om yang satu lagi” sebagai penyebar hoaks kesehatan?

Pernah satu waktu ibuku sendiri membagikan informasi mengenai air kelapa panas sebagai obat pembunuh sel kanker. Seperti biasa, dari grup sebelah, katanya. Jujur, ingin rasanya aku menyanggahnya.

Sebelumnya, kakakku sudah mengirimkan tautan klarifikasi dari kementerian terkait tentang kebenaran berita tadi. Tapi dia sungkan, itulah yang terjadi. Alih-alih menegur sang pengirim pesan dan menyampaikan keadaan yang sebenarnya, ia malah memilih mengirimkan berita tadi kepadaku, dengan harapan aku akan menyampaikannya kepada ibu.

Menegur langsung lewat percakapan pribadi, ketimbang mengutarakan di grup keluarga, menjadi pilihan yang bijak menurutku. Selain menyelamatkan martabat ibu di depan anggota grup lain, aku sekaligus ingin menjaga citraku agar tidak dicap sebagai anak muda pintar yang tahu banyak hal.

Sesuai harapan, tak berapa lama ibuku pun menghapus unggahannya. Entah sudah berapa kepala sempat membacanya. Ah, yang penting tugasku sudah selesai, toh tidak ada yang berkomentar juga.

Adanya kejadian itu membuatku merasa bertanggung jawab terhadap citra ibuku (kalau tante dan om lain sih aku tidak begitu peduli, ya). Jangan sampai ibuku dicap sebagai tante penyebar berita hoaks oleh keponakannya yang lain. Kalau ditanya apa alasannya, sudah pasti karena sayang.

Beda cerita ketika ditanya apa alasanku tetap bertahan di dalam grup WA keluarga. Ya tak lain demi menjalin silaturahmi dan karena paksaan ibuku. Sejujurnya, selain menjadi sumber berbagai informasi apapun, meme absurd, dan lelucon receh, interaksi yang kulakukan di grup WA keluarga hanya berbagi ucapan selamat ulang tahun atau selamat ujian kepada sepupu-sepupuku.

Bertanya apa kabar? Bukan porsiku.

Grup WA keluarga sejatinya membawa komunikasi ke arah yang lebih mudah. Bayangkan kita harus duduk dan berkumpul di ruang keluarga hanya untuk berbagi kata mutiara. Kikuk bukan?

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura