Bangku belakang

Live Report di Whatsapp ala Pamanku

Terkadang ada salah satu anggota keluarga menjawab kesal, bahwa paman hanya mengirim spam pada grup keluarga. Sepertinya ia perlu mencari konten lain yang lebih unik untuk menjadi bahan bakar tertawa kami.

OLEH: Diani Citra Ayu

sedang berjuang membuat skripsi yang benar. IG: @dianicitra

Buat pamanku, barangkali, umur hanyalah angka. Usianya memang sudah kepala empat, tapi itu tak menghalangi sifat jahil pamanku, termasuk keisengannya di grup WhatsApp keluarga.

Di grup WA, kerjaan pamanku adalah penyemarak suasana. Tak peduli siang atau malam, ia sering kali mengirimkan foto bergerak—atau populer disebut .gif. Mulanya banyak yang merespon, tapi karena bombardirnya tak berkesudahan, lama-lama tak ada yang menanggapi.

Pasalnya, gambar yang ia kirim sangat random. Mulai dari yang jayus hingga yang bikin tepok jidat, seperti misalnya gambar bayi kecil berjoget dengan tulisan “ayo semangat” berwarna norak. Ia juga menjadi orang nomor satu dalam memberikan selamat pada hari-hari besar. Melihat aktivitasnya, saya jadi berpikir bahwa paman sepertinya sengaja menyimpan stok .gif yang bisa ia lancarkan kapan saja.

Pamanku adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Hanya tiga dari saudara pamanku yang tinggal berdekatan. Sisanya terpencar-pencar di berbagai daerah di Bogor. Pamanku sendiri tinggal di Parung—atau biasa disebut sebagai “Bogor coret”. Sulitnya pertemuan dengan anggota keluarga, ditambah dengan usahanya yang belum lama ini gulung tikar, mungkin menjadi motivasi pamanku untuk menyemarakkan grup WhatsApp keluarga.

Setelah usai periode berbagi .gif secara rutin, pamanku punya mainan baru: melakukan live report. Yang ia laporkan adalah apapun mengenai aktivitas anggota keluarga. Mungkin, pikirku, ia memiliki dendam tersendiri karena tidak bisa menggapai cita-citanya menjadi reporter profesional.

“Mira sedang membuat status, sedang menikmati hidup,” lapornya di grup keluarga. Belum lima menit, ia kembali muncul dengan breaking news lainnya, “Andung membuat status, seperti sedang merasa ada di Amerika.”

Aku sebenarnya bingung dengan bercandaan baru yang dilakukan paman. Terlebih ketika tak ada anggota keluarga lain yang menanggapinya. Rasanya paman sedang bermonolog.

Keesokan harinya hal tersebut masih terjadi. Namun kali ini paman tidak mengabarkan Mira dan Andung lagi. “Desy sedang bingung memikirkan uang,” lapornya. Kali ini Tante Desy menyahut dengan mengetik, “hahaha”.

Aku masih bingung. Dari mana paman dapat materi untuk live report-nya?

Salah satu kalimat yang kebetulan berisi namaku memberikan titik terang: “Diani membuat status, rambutnya hari ini mirip dengan si gimbal”.

Rupanya, paman membuat lelucon dengan memelintir story WhatsApp dari tiap anggota keluarga. Story WhatsApp-ku, yang awalnya mengisahkan kebungahan hati karena hari itu rambutku sedang dalam kondisi rapi, dipelintir menjadi “gimbal”.

Aku senang. Misteri itu terpecahkan. Dari sebelumnya tidak peduli, kini aku jadi turut penasaran dengan lawakan paman, untuk kemudian dicocokan dengan WhatsApp story sebenarnya.

Semua story WhatsApp anggota keluarga ia komentari. Tidak terkecuali. Dan tidak ada sehari pun grup WhatsApp luput dari kemunculan paman. Tentunya, dengan gaya reporter yang seolah-olah bisa melaporkan dengan ahli.

Sayang, seraya misteri tersebut terpecahkan, anggota keluarga pun mulai bosan tidak merespon pesan semacam itu lagi.

Anehnya, paman tidak pernah menyerah menjadi reporter bagi keluarga. Baginya, perlu ada konten—entah dari apapun—untuk memantik percakapan keluarga.

Kini, aku dan belasan anggota keluarga lainnya seolah sepakat diam apabila paman sudah mulai melancarkan aksinya. Terkadang ada salah satu anggota keluarga menjawab kesal, bahwa paman hanya mengirim spam pada grup keluarga. Sepertinya ia perlu mencari konten lain yang lebih unik untuk menjadi bahan bakar tertawa kami.

Semangat ya, paman!

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura