Bangku belakang

Saya Bahagia Hidup Tanpa Gadget. Begini Caranya.

Layar yang diusap di ponsel tak berbeda dengan tuas yang ditarik di mesin judi. Kita semua seakan sedang menunggu hadiah berupa ribuan informasi acak (serta menggembirakan) di dunia maya.

OLEH: Renanda Yafi Atolah

Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya dan Media UGM. Bekerja sebagai penulis dan penerjemah lepas di Jogja. Tertarik dengan isu seputar budaya pop dan cyberculture.

Sudah sekitar lima tahun saya aktif di media sosial. Hari-hari saya selalu terisi dengan berbagai kabar dari sana; sejak bangun tidur, sarapan, bekerja, hingga menjelang tidur lagi.

Namun perlahan, saya merasa ada yang tak beres dengan semua ini. Sering kali aktivitas saya terganggu hanya karena ingin membuka ponsel dan scroll tak jelas ke sana ke mari.

Performa kerja saya menurun karena kerap tak bisa fokus. Saya pun sering merasa tidak bahagia ketika mengecek medsos lagi, padahal di sisi lain ia seakan menjadi kebutuhan dalam bersosialisasi.

Kejengkelan terhadap dunia digital yang memberi gangguan besar pada pekerjaan dan kehidupan ini akhirnya mengantar saya pada riset kecil-kecilan. Saya mencari tahu apakah memang media sosial memberi efek adiksi seperti narkoba.

Saya mendapati bahwa sejak penemuan teknologi scroll, banyak aplikasi yang menjadi pengejawantahan slot machine. Layar yang diusap di ponsel tak berbeda dengan tuas yang ditarik di mesin judi. Kita semua seakan sedang menunggu hadiah berupa ribuan informasi acak (serta menggembirakan) di dunia maya.

Alih-alih merayakan konektivitas, kita sedang mengalami adiksi bersama-sama. Ketergantungan yang menjengkelkan ini tak lebih dari hasil attention engineering (rekayasa perhatian) yang membuat kita sulit lepas dari distraksi yang ditimbulkan oleh gawai.

Karena terlanjur dendam dengan adiksi yang ditimbulkan oleh media sosial, saya memutuskan untuk melepaskan diri darinya. Semua akun media sosial saya hapus tanpa pikir panjang. Tampilan ponsel saya ubah menjadi hitam-putih agar tidak menarik. Waktu nyala dan mati ponsel pun saya atur, sehingga dalam sehari ia hanya aktif sekitar empat hingga enam jam.

Jadi, saya bisa dengan bebas melakukan berbagai aktivitas tanpa terlalu banyak mengalami distraksi. Hasilnya, saya bekerja dengan lebih efisien dan sangat fokus. Pun perlahan saya merasa memiliki banyak waktu luang. Berbagai hobi bisa saya lakukan dengan sangat khusyuk pula.

Kebiasaan-kebiasaan baru juga muncul karena banyaknya waktu luang.

Saya mulai rutin meditasi demi meningkatkan fokus. Saya juga dapat menyempatkan diri untuk olahraga tiap dua hari. Setiap akhir pekan pun saya bersosialisasi secara langsung dengan teman.

Saya merasa bebas melakukan apapun tanpa peduli apa kata orang dan tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Tiba-tiba saya merasa lebih sehat dan bahagia ketimbang sebelum lepas dari kehidupan digital.

Namun kebahagiaan ini tidak timbul begitu saja. Awal-awal melepaskan diri dari media sosial terasa begitu berat, dan jauh lebih berat ketimbang saat saya berhenti merokok.

Di waktu senggang, terutama malam hari, selalu terpintas pikiran untuk membuka medsos. Kecemasan- kecemasan juga sering muncul meski saya sedang tidak memiliki masalah. Ketakutan lain pun sering tiba-tiba menghantui, seperti: kehilangan teman, tidak mengerti tren terbaru, tidak mendapat sumber hiburan, susah dihubungi, dan entah apa lagi.

Nyatanya, semua itu perlahan bisa diatasi. Dengan menjadwal hidup-mati gawai kita di waktu yang pas, orang-orang bisa menghubungi di saat yang tepat pula. Mereka yang memang sedang ada urusan penting dengan kita pun pasti akan mencari cara untuk menghubungi.

Teman juga tetap ada, dan sepertinya justru media sosial yang memberi kita ilusi akan kuantitas teman yang sebenarnya sebagian besar sulit dijangkau. Informasi dan berita pun bisa disaring dengan mudah, tanpa harus mengikuti tren yang kadang tak penting serta tak kritis sama sekali. Kesehatan akal, mental, serta raga seharusnya jauh lebih penting ketimbang mengikuti kebodohan publik.

Bagi saya, menganggap wajar sesuatu hal yang dilakukan banyak orang tak lebih dari kebodohan. Selalu curiga padanya adalah satu keharusan. Sekarang, dalam pandangan saya, orang-orang yang sepanjang hari sibuk dengan layarnya tak ada bedanya dengan para pecandu yang sedang ngobat di tempat umum. Adiksi ramai-ramai telah membuat kita lupa untuk membahagiakan diri sendiri.

Saya tak tahu apakah meninggalkannya akan berefek sama untuk setiap orang. Namun setidaknya, saya telah merasakan dampak baiknya.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura