Bangku belakang

“Stiker Menyelam” untuk Alter LGBT

Menjadi minoritas itu sudah sangat melelahkan.

OLEH: Deka

Suka posting tentang kucing.

Menjadi LGBT di tengah masyarakat Indonesia yang konservatif mengharuskan saya dan teman-teman mempunyai keahlian dalam menyembunyikan identitas orientasi seksual. Dalam situasi ini, akun alter menyediakan ruang bebas untuk individu LGBT seperti saya untuk bisa berekspresi. Tapi, ia belum menjadi ruang yang aman.

Saya sudah memiliki akun alter di Twitter sejak lama. Waktu itu fitur favourite di Twitter belum digantikan like, orang-orang masih menggunakan twitlonger karena terbatasnya jumlah karakter. Tentu saja pada waktu itu belum ada utas (thread) seperti hari ini yang biasanya dimulai dengan, “A THREAD” dan diikuti, “Maaf ya kalau thread ini berantakan, aku ngga biasa nulis nih”.

Twitter kini kembali digandrungi di Indonesia dan ekosistemnya telah banyak berubah. Perubahan yang paling terasa bagi saya adalah menjamurnya akun alter yang disertai akun “menfess” (mention confess).

Akun menfess adalah akun yang khusus membahas suatu topik spesifik (misalnya seleb Korea, makanan, atau hewan) yang cuitannya dikirim oleh follower melalui direct message (bersifat autopost).

Suatu kali saya pernah melemparkan dua pertanyaan yang ditujukan kepada para akun alter melalui sebuah base khusus untuk LGBT.

“Apa tujuan kalian membuat akun alter? Lalu selama menggunakannya apakah ekspektasi kalian sudah tercapai?”

Tidak banyak yang merespons, namun mereka kompak menjawab: akun alter digunakan untuk bisa bebas berekspresi dan menjadi diri sendiri. Saya pun setuju.

Sejak munculnya tren akun alter dan menfess, saya juga membuat akun alter yang bahkan lebih aktif saya gunakan daripada akun asli.

Saya seperti masuk ke dalam dunia baru di mana orang-orang seperti saya dapat bebas mengemukakan opini, berbagi pengalaman, dan mendukung satu sama lain. Dengan begitu diskusi-diskusi mengenai SOGIE (sexual orientation and gender identity expression) dapat menjangkau lebih banyak orang dan bentuknya lebih cair.

Melalui Twitter pula banyak dari kami yang akhirnya berkenalan dan berujung menjadi teman dekat di dunia nyata setelah bertemu satu sama lain.

Kami biasanya menggunakan stiker menyelam yang tersedia di Twitter untuk menutupi wajah agar tidak mudah teridentifikasi. Stiker ini membuat kami merasa lebih aman dari orang-orang yang mungkin mengenali kami di dunia nyata.

Jika para ninja menyembunyikan identitasnya untuk berlindung dari musuh, maka kami juga melakukan hal yang sama. Musuh tersebut bernama intoleransi.

Meski anonim, tapi saya akhirnya bisa merasakan bagaimana menjadi diri sendiri walaupun hanya di dunia maya.

Ruang berekspresi yang terbatas membuat kami semakin termarjinalkan. Saya sempat merasakan betapa sulitnya menemukan teman untuk berdiskusi perihal SOGIE. Hal ini menyebabkan pola pikir saya (dan mungkin banyak teman LGBT lainnya) terperangkap dalam standar nilai-nilai heteroseksual atau heteronormativity.

Pola pikir heteronormatif ini sangat mengganggu saya: “Lo sudah berapa kali ketemu orang yang sakit?”. Alih-alih menyebut “gay”, beberapa teman gay justru menggunakan istilah “sakit”.

Saya berpendapat, hal ini salah satunya dikarenakan banyak teman LGBT mempunyai pengetahuan yang minim mengenai SOGIE dan kesetaraan, sehingga terjadi miskonsepsi dan membuat mereka merasa inferior terhadap mereka yang heteroseksual. Dalam situasi inilah akun alter dapat menjadi ruang bagi kami.

Namun sayangnya, masih banyak komunitas akun alter LGBT yang diskriminatif. Hal ini mewujud dalam rupa stereotipe, seksisme, dan diskriminasi fisik. Bukan rahasia jika lelaki feminin yang tidak mempunyai bentuk wajah dan tubuh sesuai standar tertentu akan kurang mendapat dukungan.

Saya hanya berharap komunitas ini bisa saling mendukung satu sama lain. Menjadi minoritas itu sudah sangat melelahkan. Jangan sampai kita kembali membuat sekat tak penting di dalam komunitas yang seharusnya inklusif dan mendukung kesetaraan.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura