Bangku belakang

Di Hadapan Akun Alter, Internet Positif Cuma Receh

Saya yang tadinya agak tersentak melihat betapa liar orang-orang di sini, lama-lama makin terbiasa.

OLEH: Berry Butter

Temui penulis yang sedang prokrastinasi di akun alternya @ndberrybutter.

Ketika saya mulai menggunakan akun alter, ada beberapa istilah yang saya kenal. Pertama, akun roleplay atau RP, di mana seseorang berpura-pura menjadi orang lain. Ada akun RP K-Pop, RP tokoh fiksi, atau karakter orisinal buatannya sendiri.

Kedua, ada pula akun alter yang berasal dari kata alter-ego, di mana kita bisa jujur pada diri sendiri dan menunjukkan sisi lain diri kita yang tidak bisa kita munculkan di akun utama karena menjaga citra diri. Saya pengguna akun alter dengan definisi kedua, saat saya merasa nyaman menjadi diri saya tanpa ada ketakutan dinilai jelek oleh teman di lingkup sosial saya.

Konteks akun alter yang saya temukan di sana umumnya berbau restricted. Orang-orang dengan libido tinggi yang tidak bisa menyalurkannya di dunia nyata biasanya lari ke akun alter.

Sebelum mengenal akun alter, saya selalu bertanya-tanya di mana orang bisa dapat teman tapi sanggama (friends with benefits – FWB), sugar daddy, open by order (BO), dan sederet istilah lainnya. Ternyata, selain dari dating app, salah satu sumbernya ialah autobase alter ini. Kami berinteraksi lewat autobase yang khusus menghimpun sobat-sobat sagapung (“sange nggak ketampung”) dengan rayuan cetek mereka.

Saya tidak menjadi orang lain, hanya menggunakan pseudonim dan foto asli yang sebagian wajah saya tutupi. Saya mencuitkan hal-hal pribadi yang saya tidak ingin teman-teman saya ketahui. Tidak masalah dengan mutual saya di akun alter, karena tidak ada dari mereka yang mengenal saya secara langsung di kehidupan nyata.

Saya yang tadinya agak tersentak melihat betapa liar orang-orang di sini, lama-lama makin terbiasa.

Setiap saya refresh linimasa Twitter, pasti ada saja foto payudara bertebaran—tentunya dengan wajah yang disensor. Orang-orang di sini memang sevulgar itu menunjukkan sisi binal mereka. Yang perempuan menjual foto atau video tubuhnya dengan harapan uang, yang laki-laki memakan umpan dan memberi manfaat berupa materi dan afeksi.

Di akun alter, simbiosis ini dikenal dengan istilah “benefit”.

Saya sendiri pernah dipertemukan dengan mahasiswa kampus sebelah oleh autobase alter. Orientasi kami sejak awal memang untuk berhubungan seks, tapi kami membungkusnya dengan istilah FWB. Padahal kami bukan teman pada awalnya. Dia mencari saluran untuk memuaskan libidonya, saya mencari perhatian dari lawan jenis tanpa ada ikatan. Ah, penting disebut, saya tidak mendapat keuntungan materi apapun dari hubungan ini–karena saya bukan BO! It was a win-win solution, until otherwise happened.

Rule of thumb dari hubungan FWB adalah no strings attached dan no one catch feelings.

Hubungan saya dengannya hanya berlangsung dua bulan. Meski kami hanya berhubungan badan dua kali selama dua bulan itu, kami menjalani kontak cukup intens. Yah, pada akhirnya saya yang kalah dengan intensitas itu. Saya mulai banyak menuntut layaknya orang pacaran. Saya mulai resah ketika dia lama membalas pesan, padahal saya melihatnya berseliweran di akun alternya mencari teman lain di kamar. Lho, apa saya tidak cukup baginya?

Saya menyadari ia terganggu. Tujuannya berhubungan kasual dengan saya ialah untuk buang protein tanpa ada drama pacaran, tapi saya mengusiknya dengan menuntut waktunya dan membubuhkan drama tidak penting. Setelah dibicarakan, kami sepakat untuk menyudahi relasi ini. Kami menyelesaikannya dengan baik-baik, dan melanjutkan hubungan pertemanan tanpa embel-embel “benefits”.

Setelah hubungan kami beres, saya melihat ia lebih leluasa mencari partner baru di alter.

Agak mengecewakan, karena saya menaruh harapan padanya. Tapi… apa sih yang saya harapkan dari anak alter? Pertemuan kami saja didasari nafsu, yang berarti bisa berakhir kapan saja. Tidak ada jaminan apapun.

Fanatisme manusia terhadap hal berbau seks tidak akan bisa dibendung. Mau melalui perbaikan moral sekalipun, warga alter menjadi bukti bahwa topik seksualitas tidak mempan jika hanya dihalau Internet Positif. Nyatanya, pornografi di alter Twitter terpampang sedemikian gamblang, dengan mata kita sebagai satu-satunya filter.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura