Bangku belakang

Akun Alter Saya Mengajak Orang Berdonasi untuk Imam Besar

Mengingat hobi “tabayyun” ormas ini, saya memutuskan untuk membuat akun alter.

OLEH: Dias Setiawan

Mahasiswa Ilmu Politik yang senang bahas kaitan agama dengan ekonomi politik.

Sebagai orang yang memiliki kecemasan tinggi ketika ber-Twitter-ria, saya selalu was-was ketika mengunggah sesuatu. Apakah seseorang atau kelompok tertentu akan tersinggung? Apakah tweet saya melanggar peraturan? Atau apakah bijak saya tweet tentang hal ini? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu muncul usai saya mengunggah tweet mengenai hal yang sensitif, terutama isu sosial politik.

Membuat akun alter jadi satu solusi dari permasalahan ini. Walau sebetulnya agak malas jika harus bersembunyi di balik anonimitas, tapi saya kira penting untuk menanggulangi kecemasan-kecemasan saya tadi. Terlebih, ada kemungkinan tweet yang saya buat dapat memantik perhatian kelompok yang suka tiba-tiba “tabayyun” ke rumah.

Saya tidak pernah punya keinginan besar untuk membuat akun alter. Hingga kemudian muncul berita mengenai seorang imam besar dari sebuah ormas yang tak kunjung pulang, dan tersandung masalah denda karena overstay. Semangat berkomentar saya lalu muncul menggebu-gebu. Namun, semangat ini tertahan mengingat reputasi sosok terkait.

Hampir saja saya lupa kalau imam besar ini punya banyak massa. Bahkan Cyber Army-nya diklaim “sekelas” dengan FBI.

Mengingat hobi “tabayyun” ormas ini, saya memutuskan untuk membuat akun alter. Berbekal surel anonim, akun alter pertama saya berhasil dibuat.

Awalnya agak membingungkan untuk memilih siapa saja yang harus saya follow. Agak gengsi juga kalau mengikuti akun-akun tidak jelas macam buzzer. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti seluruh akun Twitter media nasional dan internasional.

Hal selanjutnya yang  saya lakukan tentunya adalah berkomentar di Twitter mengenai imam besar. Komentar saya waktu itu sederhana sekali, “apakah ada link donasi online untuk membantu imam besar? Mau donasi nih.” Sambil tersenyum bangga, saya menunggu respons orang-orang.

Tidak ada notifikasi like atau retweet. Sepi ternyata.

Agar lebih heboh, saya memutuskan membuat meme berupa laman donasi online, dengan gambar sang imam besar, disertai judul heboh “Bantu Imam Besar Pulang”.

Setelah jadi, saya tweet gambar tersebut ke semua kolom reply berita yang membahas imam besar. Bahkan orang berkomentar lucu pun saya kirimi. Meme ini membawa kecemasan baru: saya bisa saja dituntut sebagai pembuat hoaks. Tapi biarlah, toh niat saya hanya untuk menyindir dan menghibur orang.

Pikir saya, mereka akan tertawa karena ada orang seniat itu membuat meme donasi online. Ternyata di luar dugaan. Bukan respons yang saya dapatkan, justru pemberitahuan penangguhan akun saya. Hal tersebut terjadi karena banyak yang melaporkan tweet dan akun alter saya sebagai hoaks.

Sial sekali, buat akun beberapa jam, ditangguhkan dalam hitungan detik.

Menggunakan akun asli, saya coba cek semua kolom reply berita imam besar.

Tak ada meme saya. Bahkan yang mengejutkan, berita-berita tentang imam besar juga banyak yang dihapus. Bahkan beberapa akun berita terlihat beberapa kali tweet ulang. Hebat betul cyber army mereka.

Kejadian ini membuat saya sadar, bahkan akun alter sekalipun masih kalah dengan cyber army. Tentunya hal ini membuat saya makin was-was. Mampukah mereka melacak saya? Kalau tidak, puji syukur mereka hanya cyber army yang senang melaporkan tweet kontra wacana. Tapi kalau iya, saya harus siap-siap jadi sasaran “tabayyun” selanjutnya.

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura