Bangku belakang

Diet Digital



Motivasi orang melakukan diet digital beragam. Ada yang alasannya politis dan etis, ada juga yang alasannya kesehatan (mental dan fisik). Cara mereka melakukannya pun macam-macam. Mulai dari mempunyai “jam boleh online”, menghapus media sosial, dan lain-lain. Berikut adalah kisah-kisah mereka yang melakukannya.

Layar yang diusap di ponsel tak berbeda dengan tuas yang ditarik di mesin judi. Kita semua seakan sedang menunggu hadiah berupa ribuan informasi acak (serta menggembirakan) di dunia maya.

Saya Bahagia Hidup Tanpa Gadget. Begini Caranya. - Renanda Yafi Atolah


Awalnya ada rasa lelah dan muak yang sulit dijelaskan ketika aku berselancar di Instagram.

Dua Minggu Diet Digital, Ujung-Ujungnya “Gagal” - Farah Putrizeti


Satu per satu teman-teman yang dahulu duduk di kelas perkuliahan yang sama mulai meraih pekerjaan dan pencapaiannya masing-masing. Mereka mengunggahnya di Instastory mereka.

Mendadak Minder Karena Instastory - Aryanto Wijaya


Kesal karena temanmu sibuk dengan gawainya ketika bertemu, padahal untuk mencari waktu berkumpul susahnya bukan main

Karena Teman Sibuk Main Hape, Aku Bikin Proyek Kampanye Diet Media - Berliana Rizqy Andini


  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura