Bangku belakang

Tak Bisa Sendiri, Tinder Pun Jadi

Pasangan seharusnya bukan untuk membuat orang menjadi utuh, Anda seharusnya sudah utuh bahkan sebelum memiliki pasangan.

OLEH: Lathifah Indah

Apakah Anda orang yang merasa tidak bisa berdiri sendiri dan selalu membutuhkan keberadaan pasangan agar dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari? Atau mungkin Anda orang yang merasa bisa melakukan segalanya sendiri dan tidak mengerti mengapa bisa ada orang yang selalu membutuhkan pasangan? Jika iya, mungkin kisah ini untuk Anda.

Saya merupakan tipe orang yang kedua, merasa bisa melalui semuanya sendiri tanpa pasangan. Saya merasa cukup nyaman dengan diri sendiri dan keberadaan kawan-kawan. Namun anehnya, dua kali saya dekat dengan orang tipe pertama dari aplikasi Tinder.

Perkenalan saya dengan orang pertama, kita sebut saja A, mengalir seperti air. Dalam waktu sehari setelah match, kami memutuskan untuk bertemu. Lalu pada kencan kami yang kedua, A langsung mencurahkan seluruh isi hatinya, situasi kehidupannya, segala masalah yang selama ini ia katakan telah dipendam.

Pada kencan kami yang ketiga, A menyatakan rasa sukanya kepada saya dan menginginkan hubungan yang lebih. Saat itu saya masih bodoh dan tak lama mengiyakan ajakannya, meskipun pada awalnya saya mengatakan ingin sendiri.

Perkenalan saya dengan orang kedua, kita sebut saja B, berjalan seperti perlombaan maraton. Dalam waktu beberapa jam setelah match, kami pindah ke platform chat lain dan mengobrol lewat telepon. Dalam waktu beberapa jam itu juga, B mengatakan sepertinya ia telah jatuh cinta dengan saya dan menginginkan hubungan yang lebih. Saat itu saya sudah lebih pintar dan berulang kali mengatakan sejak awal hanya ingin berteman. Saya tidak mengiyakan ajakannya.

Terdapat beberapa hal yang saya pelajari dari dua perkenalan saya dengan A dan B yang berjalan beberapa bulan dan beberapa minggu tersebut.

Pertama, love at first match adalah sebuah tanda bahaya yang cukup besar. Baiklah, sebagian besar match di Tinder pasti tidak cukup nyambung untuk memiliki percakapan panjang yang menarik. Akan tetapi, jika hanya melihat dari segi obrolan yang nyambung dan menarik saja sudah membuat Anda atau match Anda jatuh hati, persiapkan tanda bahaya!

Algoritma yang dijalankan dalam aplikasi kencan daring hanya ada untuk mengelabui Anda hingga berpikir bahwa orang yang Anda temui di Tinder merupakan jodoh atau pasangan impian. Padahal, algoritma yang dijalankan kemungkinan besar hanya ampuh dari kulit luarnya saja. Jangan sampai kulit luar yang ditangkap oleh algoritma ini membuat Anda yang tak bisa sendiri langsung merasa menemukan belahan hati yang ditunggu-tunggu.

Jangan juga merasa bahwa rasa sayang dan perhatian yang ditujukan kepada Anda dengan begitu cepat adalah sebuah pencapaian karena dapat membuat orang tergila-gila dalam sekejap. Belajar untuk membedakan obsesi dan cinta, kemungkinan besar rasa tergila-gila yang muncul dalam sekejap merupakan bentuk obsesi, bukan cinta.

Kedua, pengalaman saya dengan kedua pria cis hetero yang tidak bisa sendiri tersebut membuat saya berpikir bahwa pertemanan antara para pria masih banyak gengsinya. A dan B memiliki lingkaran pertemanannya sendiri, akan tetapi lingkaran pertemanan mereka yang berisikan laki-laki ternyata tidak dimanfaatkan dengan cukup baik.

Mereka berkumpul, bermain di warnet bersama, memiliki grup chat sendiri, namun mereka masih merasa tidak bisa bercerita masalah pribadi dengan satu sama lain. Hasilnya, mereka merasa sendiri dan merasa harus mencari pasangan untuk dijadikan terapis, obat penghasil dopamin, sekaligus babysitter yang selalu siap menemani 24 jam.

Terakhir, keberadaan Tinder, Bumble, OkCupid, dan aplikasi kencan lainnya seperti menimbulkan kecanduan bagi orang-orang yang tak bisa sendiri. Jika sudah selesai dengan sebuah hubungan, mereka akan langsung kembali memainkan aplikasi kencan bahkan ketika air matanya masih belum mengering.

Padahal, hal yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang merasa tidak bisa berdiri sendiri adalah belajar terlebih dahulu untuk nyaman dalam kesendiriannya. Pasangan seharusnya bukan untuk membuat orang menjadi utuh, Anda seharusnya sudah utuh bahkan sebelum memiliki pasangan.

Pasangan seharusnya bukan untuk dijadikan obat penghasil dopamin dalam menghadapi masalah kehidupan, mereka juga manusia. Belajar mencintai dan nyaman dengan diri sendiri adalah langkah awal dalam menemukan belahan hati Anda, bukan hanya bertumpu pada algoritma aplikasi kencan belaka.

Meski begitu, memang lebih mudah menggerakan jari melintasi layar ponsel pintar ke arah kiri dan kanan daripada harus menghadapi kesendirian yang tidak nyaman, bukan?

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura