Bangku belakang

“Swipe Right, It’s A Match!”: Ngobrol, Ketemu, Ghosting. Enggak Kapok?

Selama bertemu mereka inilah, gue seakan melatih perasaan dan emosi supaya jadi lebih tahan banting.

OLEH: Eleanor

Jurnalis yang tak pernah berhenti mengetik

Hingga tulisan ini dibuat, setidaknya gue udah ketemu dengan lima orang dari apalikasi online dating (harusnya enam, tapi gagal janjian terus!).

Sampai-sampai, salah satu atasan gue nyeletuk “Gue lihat-lihat lo nge-date sama orang yang beda mulu, ya,”

Enggak, gue bukan ketemu dengan banyak orang yang berbeda cuman buat makan gratis. Lagipula, gue selalu split the bill dan bayar makanan sendiri-sendiri kok, kalau ketemuan. Masalahnya, yang gue ajak date selalu hanya pendatang. Mereka cuma mampir buat keperluan bisnis, atau cuma untuk travelling. Ya, gue memang mencari bule.

Kok berani sih ngajak ketemu orang yang belum dikenal, apalagi dari luar negeri? Enggak semua yang ngajakin ketemu selalu gue iyain juga, pasti mereka sudah melalui proses analisis lebih dulu. Gue selalu cek fakta apakah yang mereka omongin benar adanya, stalk media sosial-nya, linked in-nya, pokoknya dari mana pun yang bisa gue jadikan patokan. 

Kalau memang bisa dipercaya, baru deh mau diajak ketemuan. Intuition won’t lie. Kalau enggak sreg, gue pasti enggak bakal temuin.

Lewat online dating ini, gue ketemu dengan beragam profesi. Ada yang desainer kursi, data scientist, pelancong, mahasiswa asing yang dapet beasiswa di Indonesia, sama business strategist. Kepribadiannya juga macam-macam. Bahkan cara ghosting-nya pun beda!

Si desainer kursi, tiba-tiba menghilang begitu saja, padahal setelah ketemu, kita masih lumayan sering ngobrol lewat WhatsApp. Pertemuan pertama kita amat menyenangkan, selayaknya jalan bareng temen. Sempat ngajak ketemu lagi, tapi karena gue harus ke luar kota, jadi gagal. Beberapa hari setelahnya, udah ngilang.

Yang kedua, data scientist yang lagi stay di Indonesia selama dua bulan buat training. Kita ketemu di minggu terakhir dia training, ngobrol-ngobrol cantik sambil ngopi, terus udah. Beberapa hari setelahnya, gue ngajakin dia buat hang out bareng lagi, ditolak, dan enggak lama dia balik ke negaranya.

Yang ketiga dan keempat, gue ketemu tipe traveller, dalam waktu yang berbeda. Pertemuan ketiga gue adalah dengan seorang pelancong yang juga blasteran Indonesia. Gue ajak dia keliling kota buat hunting street food, dan di situ gue juga nyambi kerja! Hahaha. Kita jalan dari siang sampai malem, cerita panjang lebar, tapi ya udah, karena memang rasanya lebih klik buat jadi temen. 

Besoknya dia lanjut buat melancong ke negara lain. Tapi, kita sempat ketemuan lagi beberapa bulan setelahnya, waktu gue liburan ke salah satu negara yang juga lagi disinggahinya. Ya, bisa dibilang, gue dapet kenalan baru, lah.

Terus yang keempat, ketemu waktu liburan ke suatu negara. Pas udah nyampe, gue iseng cek-cek ombak, swipe swipe, eh match. Ngobrol, orangnya seru dan topik obrolannya asyik, akhirnya kita janjian ketemu. Sempat deg-degan, karena itu di negara orang, dan gue ketemuan sama stranger. Apalagi kita ketemuannya cukup malam, kira-kira pukul setengah sebelas malam, karena gue baru selesai trip.

But everything went fine, dan kita juga saling follow di media sosial, bahkan masih chat sampai gue balik ke Indonesia. Tapi, mungkin karena dia juga bukan tipe orang yang suka maintain relationship terutama dengan orang asing, yaa bisa ditebaklah, tiba-tiba dia ngilang.

Kapok main online dating karena di-ghosting mulu? Enggak juga, sih. Malah, bisa dibilang gue sekarang mencandu. Bengong dikit, swipe. Bosen dikit, swipe. Antrean di kasir masih panjang? Swipe swipe.

Jujur, dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, gue merasa kemampuan gue untuk menjalin interaksi dengan orang baru makin meningkat. Sesimpel untuk menyapa mereka yang match di online dating, Apalagi, aplikasi yang gue pakai mengharuskan perempuan untuk menyapa lebih dulu. 

Gue jadi bisa tahu, gimana cara basa-basi yang menarik, dan gimana cara menjaga obrolan biar tetap hidup. Secara enggak langsung, hal ini juga bikin Inggris gue sedikit lebih lancar (setidaknya gue gak perlu bayar mahal buat les conversation). Keberanian gue untuk menjalin percakapan dengan orang baru pun meningkat. Entah mengapa, gue bisa lebih bersikap bodo amat saat memulai interaksi baru.

Yang terpenting, gue jadi tahu gimana cara supaya enggak terlalu berekspektasi. Tentu saja, sebagian besar orang yang gue temui di online dating memang mencari sesuatu yang kasual. Pun, mereka enggak akan tinggal dalam waktu lama di kota yang sama. 

Selama bertemu mereka inilah, gue seakan melatih perasaan dan emosi supaya jadi lebih tahan banting. (Fyi, I’m actually a hopeless romantic).

Di sini, gue belajar, untuk enggak terlalu berharap banyak, khususnya terhadap seseorang. Pada akhirnya, what mean to be, will be. Toh, sempat kenal dengan berbagai jenis orang juga sudah jadi benefit tersendiri.

Karena pada dasarnya, online dating memang diciptakan untuk memperbesar peluang kita bertemu orang baru. Terlepas dari apakah nantinya akan tercipta sebuah hubungan baru, atau hanya menjadi sesuatu yang lantas berlalu. 

  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura