Berita dengan judul “KASBI: May Day Adalah Momentum Perlawanan, Bukan Hari Perlombaan” yang terbit pada 28 April 2017 menjadi berita terakhir yang terbit di KabarBuruh.com. Berita tersebut menjelaskan kenapa buruh menjadikan momentum Hari Buruh Sedunia (May Day) sebagai hari perlawanan dari buruh. Sebelumnya, dan seperti biasanya, pemerintah mencoba mereduksi momentum hari bersejarah dunia itu dengan membuat seruan agar buruh membuat kegiatan positif seperti lomba gerak jalan, atau seruan agar aksi hari buruh tidak rusuh. Seruan yang biasanya juga disambut dengan baik oleh hampir seluruh media arus utama di Indonesia.

KabarBuruh.com adalah media independen yang dikelola secara kolektif dengan slogan “Kanal Informasi Perburuhan”. Beberapa hari setelah Hari Buruh, satu surat cukup panjang saya sampaikan pada rekan-rekan KabarBuruh.com melalui grup WhatsApp. Surat itu kurang lebih berisikan pertimbangan saya secara pribadi sebagai pemimpin redaksi untuk sementara waktu membekukan KabarBuruh.com hingga waktu yang tak dapat ditentukan.

Tak banyak bantahan dan pertanyaan, sepertinya rekan-rekan redaksi mengerti dan memahami alasan yang saya sampaikan. Hanya balasan singkat dari seorang rekan yang saya ingat di grup WA itu, "Kok gue sedih ya baca surat ini," dan menutup teks kalimat itu dengan emotion sad.

Menghentikan KabarBuruh.com, sekalipun hanya bersifat sementara, bukanlah keputusan yang mudah. Dua tahun perjalanannya mendapatkan cukup apresiasi dari anggota atau pimpinan berbagai serikat buruh, sebagai basis pembaca utamanya.

Apresiasi mereka bukan tanpa alasan. Pasalnya, berita-berita tentang buruh kerap dikemas dalam nada yang negatif oleh media arus utama, yang memulas citra buruk serikat buruh di hadapan publik. “Buruh demo bikin macet”, “buruh demo minta naik upah bawa motor Ninja”, “demo buruh menyisakan sampah”, “buruh demo diharap jangan rusuh”. Pernyataan-pernyataan ini sudah menjadi judul berita standar yang kerap muncul saat terjadi aksi buruh. Meski konten tidak substantif semacam ini bukanlah satu-satunya konten yang diproduksi media, namun ia lebih mudah dan lebih banyak dikonsumsi oleh publik.

Serikat buruh belum bisa menandingi suara-suara sumbang media arus utama ini. Terbitan cetak yang dimiliki buruh masih terbatas oplahnya, dan lebih ditekankan untuk kalangan internal (pendidikan bacaan internal). Begitu juga dengan situs web serikat buruh, yang masih belum memiliki penerbitan yang konsisten.

Berbekal pengetahuan dasar tentang membuat dan mengelola situs web, ditambah dengan sedikit kemampuan menulis, diskusi intensif dengan aktivis buruh, plus rasa nekat yang cukup tinggi, KabarBuruh.com mengudara pada 29 April 2015. Kami hadir dengan tekat menjadi media daring yang di setiap harinya menyampaikan berbagai informasi ketengakerjaan terbaru, tanpa memiliki afiliasi pada serikat buruh tertentu. Target awal satu hari satu berita meningkat hingga tiga berita, dan puncaknya satu hari lima berita. Sebagian besar berita yang terbit di KabarBuruh.com adalah hasil liputan lapangan. Jika kekurangan berita dalam satu hari, baru ditambah dengan pemuatan ulang dari media lain.

KabarBuruh.com memang belum memiliki struktur kerja yang ideal, namun paling tidak tetap memiliki struktur dan rapat redaksi di tiap minggunya untuk membahas peristiwa yang akan diliput dan membagi kerja penulisan. Media sosial adalah sumber utama kami dalam mendapatkan informasi. Pemantauan media sosial menjadi penting karena buruh cukup aktif di sana untuk membagikan informasi, khususnya perihal kasus perburuhan, yang kemudian biasanya kami tindaklanjuti dengan menghubungi serikat terkait dan liputan ke lapangan jika masih terjangkau (Jabodetabek).

Segala kebutuhan sumber daya untuk menjalankan KabarBuruh.com memang bersifat sukarela, baik mereka yang bekerja di balik layar, menulis berita, dan juga yang bertugas di media sosial. Pada awalnya kerja-kerja Kabar Buruh hanya dibantu oleh teman-teman di Komunitas Bahagia EA (KBEA) Jakarta, hingga kemudian melakukan penambahan reporter dengan merekrut mahasiswa-mahasiswa. Tercatat lima mahasiswa yang bergerak menjadi relawan KabarBuruh.com.

Untuk terus meningkatkan kualitas konten, redaksi membuat pelatihan internal dengan mengundang teman-teman lain yang secara profesional bekerja sebagai jurnalis. Materinya berkisar dari teknik menulis, diskusi tentang kode etik jurnalistik, hingga belajar tentang sejarah media dan melihat perkembangan media saat ini. Pengetahuan ini tidak kami simpan sendiri. Kami juga menggelar pelatihan-pelatihan pengelolaan media bagi serikat buruh.

Situasi perburuhan yang cukup memanas pada tahun 2015 sedikit banyak juga membantu KabarBuruh.com untuk naik dan dilihat publik. Rencana pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan adalah isu besar yang terus kami kawal, hingga puncaknya aksi mogok nasional pada Oktober 2015.

Selayaknya media-media lain ketika menghadapi momen besar, pada mogok nasional ini KabarBuruh.com juga membuat perencanaan liputan ke lapangan, khususnya ke daerah-daerah industri yang menjadi pusat pemogokan. Selama empat hari mogok nasional, kami membagi tim di empat titik utama: kawasan industri Kabupaten Bekasi, Tangerang, Tanjung Priok dan Cakung, serta Bogor. Sementara itu tim di balik meja juga bersiap untuk penyuntingan, diseminasi media sosial, serta memantau traffic situs web yang pada saat itu kerap kali tak bisa diakses karena berjubelnya pembaca pada saat yang bersamaan.

Pada periode ini, KabarBuruh.com sempat menyentuh peringkat 2.000-an di Indonesia, menurut situs pemeringkat Alexa.com, dengan kunjungan terbanyak per hari mencapai angka 15.000-an.

Sayangnya situasi ini tak berlanjut di tahun kedua. Traffic yang tinggi dan pelonjakan peringkat yang cepat membuat kami mengalami serangan malwere yang cukup merepotkan. Butuh energi dan waktu lebih untuk mengurus masalah tersebut. Mulai dengan mengganti theme situs web, membersihkan cache, hingga akhirnya terpaksa bermigrasi ke server lain yang lebih aman. Seorang teman yang membantu proses “penyelamatan” KabarBuruh.com menduga bahwa lonjakan yang tinggi mencuri perhatian hacker untuk menguji ilmu.

Semangat dan kenekatan saja tak cukup untuk menjalankan sebuah rencana besar. Pengembangan situs dan konten harus terus dilakukan. Sistem pengelolaan yang juga harus semakin baik. Struktur redaksi dan kapasitas orang yang ada di dalamnya, serta tentunya kuantitas berita, yang harus terus bertambah. Semua pengembangan itu membutuhkan modal finansial karena mengandalkan modal sosial saja, seperti selama ini kami terapkan, masih kurang memadai.

Pada tahun kedua, kami merasakan kelemahan mendasar dalam pengelolaan KabarBuruh.com. Keseluruhan pendanaan kami selama ini berasal dari kantong pribadi saya. Upaya untuk mencoba mencari sumber dana memang dilakukan. Kami sempat mencoba mencari donor, walau tidak maksimal. Usulan penggalangan dana dari pembaca juga sempat muncul, demikian pula dengan me-monetize pengunjung di situs, yang ditolak oleh pihak terkait. Namun energi yang lebih banyak tercurahkan untuk kebutuhan produksi konten, tidak ada tim khusus yang berfokus pada upaya penggalanan dana.

Sementara itu, kerja yang bersifat kerelawanan tidak memiliki unsur “pemaksa” yang mengharuskan setiap penulis membuat sekian tulisan per hari. Jika terbentur agenda lain, entah pekerjaan atau juga aktivitas di kampus, maka sudah bisa dipastikan produksi konten berkurang. Saya sebagai pimpinan pun harus turun tangan meliput berita agar tetap terbit sesuai target. Situasi seperti ini sangat kerap terjadi di tahun kedua KabarBuruh.com, hingga akhirnya berdampak pada menurunnya jumlah berita menjadi tiga per hari.

KabarBuruh.com bisa saja berjalan terus seperti ini, atau bahkan lebih buruk lagi. Jika keadaan berlarut-larut, kami bisa menerbitkan tulisan sesekali saja—jika sempat dan ada yang mau meyumbang tulisan—dengan fitur yang seadanya, tanpa pengembangan, tanpa menyasar pembaca baru, tanpa memberikan imbalan layak pada para penulis/reporternya, dan terus menumpang di sekretariat Komunitas Kretek.

Namun, daripada berjalan seadanya, sebagai pimpinan redaksi saya memilih untuk membekukan KabarBuruh.com, sembari mencari jalan baru.

Satu tahun lebih kabar buruk tentang KabarBuruh.com berlalu, pertanyaan “kapan online lagi?" sering terdengar. Pertanyaan ini tak mudah dijawab, namun memberikan energi positif untuk dapat melanjutkan lagi gagasan besar itu, tentu dengan persiapan yang lebih matang.

Belajar Dari Pengalaman

Harapat untuk membangkitkan KabarBuruh.com terus mendapatkan “kode” dari Semesta. Dua bulan lalu seorang teman jurnalis mengajak untuk kembali mengaktifkan KabarBuruh.com dan siap untuk menjadi bagian dari kami. Selang sebulan, seorang dosen di sebuah universitas di Jogjakarta menghubungi saya, ingin wawancara saya sebagai orang yang memimpin KabarBuruh.com untuk kepentingan disertasinya. Terakhir, seorang teman lain meminta saya untuk menuliskan pengalaman mengelola KabarBuruh.com.

Evaluasi selama dua tahun terbit sebenarnya sudah tertulis, tentang bagaimana jika nanti kami hadir kembali. Kami menyadari pentingnya membuat tim yang mengurus konten harian dan tim yang mengurus rencana bisnis (mencari sumber dana). Kedua tim ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Hal pertama adalah memperluas basis pembaca KabarBuruh.com yang tak hanya menyasar buruh berserikat. Buruh kerah putih, yang sebenarnya tak lepas dari problem normatif ketenagakerjaan, juga akan menjadi target pembaca kami. Begitu pun kalangan terpelajar, namun banyak yang tak mengetahui tentang hak-hak dan problematika buruh.

Untuk menjangkau pembaca baru, kami pun perlu mendesain ulang tampilan situs web yang lebih ramah, sehingga membuat orang mudah memahami perihal isu ketenagakerjaan. Kami mesti menghadirkan konten audio-visual yang akan membuat lebih mudah memahami tentang isu-isu ketenagakerjaan, di samping memperdalam konten teks. Karena tak bisa dipungkiri bahwa konten visual jauh lebih mudah diterima oleh publik, entah karena alasan malas membaca teks yang panjang atau karena memang lebih mudah memahami konten visual. Tak lupa juga tentunya konten audio (podcast) yang saat ini perlahan mulai menjadi tren di kalangan muda.

Gambaran baru di atas tentunya juga harus dipadukan dengan kapasitas dan pengelolaan redaksi yang lebih profesional. Semua hal itu tentu akan sulit dicapai jika hanya dibingkai dalam tugas kerja yang bersifat kerelawanan. Sekalipun media ini bukan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan, namun tenaga kerja yang telah dikeluarkan oleh para relawan juga selayaknya mendapatkan apresiasi, sekalipun nilainya tak bisa dibandingkan dengan para penulis di media-media arus utama.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, dan belajar pula dari pengalaman masa lalu, maka kebutuhan tim untuk memikirkan dan mencari sumber dana menjadi harga mati yang tak bisa ditawar-tawar pula. Baik mencari dana dengan proyeksi monetize konten situs web dan media sosial, crowdfunding, ataupun dari angel investor, harus didapatkan untuk menunjang kebutuhan operasional.

Pengalaman memang guru yang sangat berharga, nekat dan keberanian saja tak cukup untuk mampu bertahan dalam waktu yang panjang. Perencanaan yang matang, sumber daya yang baik, dan tentunya aspek pendanaan menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Jika aspek-aspek tersebut dipenuhi, probabilitas untuk jatuh dilubang yang sama akan semakin kecil. Kabar buruk dari KabarBuruh.com pun bisa berganti menjadi kabar baik. []


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.