Catatan editor: Atas permintaan penulis, di artikel ini kami menyamarkan nama penulis, media, dan kota tempat bekerjanya bekerja. Artikel ini sudah melalui uji verifikasi seperlunya, juga sudah dikonsultasikan isinya dengan Gading Yonggar Ditya dari LBH Pers dan wartawan yang berpengalaman meliput isu kekerasan seksual, yakni Evi Mariani dari The Jakarta Post.

Catatan editor: Atas permintaan penulis, di artikel ini kami menyamarkan nama penulis, media, dan kota tempat bekerjanya bekerja. Artikel ini sudah melalui uji verifikasi seperlunya, juga sudah dikonsultasikan isinya dengan Gading Yonggar Ditya dari LBH Pers dan wartawan yang berpengalaman meliput isu kekerasan seksual, yakni Evi Mariani dari The Jakarta Post.

Saya bekerja sebagai wartawan untuk salah satu anak perusahaan media cetak nasional. Saya ditempatkan di bagian Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Ekonomi Bisnis (Ekbis).

Ketika berangkat ke Kota X pada 2016, saya sangat bersemangat. Pasalnya, kondisi pers di Kota X yang buruk mengobarkan semangat saya untuk memperjuangkan idealisme pers dalam diri saya kala itu.

Ternyata semua tidak berjalan semulus yang saya inginkan. Ada satu hal yang membuat saya mundur sebagai wartawan dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan: saya mengalami pelecehan seksual selama bekerja.

Pada 2016, saya bertemu dengan salah satu kepala dinas yang sangat ramah dengan kehadiran saya. Ibarat simbiosis mutualisme, saya dan kepala dinas tersebut sering bertukar informasi. Saya butuh berita, sementara kepala dinas ini—panggil saja Bapak A—butuh wartawan yang berpikir kritis untuk memuat berita tentang dinas yang dipimpinnya, serta memuat kritik untuk pemerintah di Kota X. Belakangan, saya baru sadar bahwa media dan pemerintah saling “bekerjasama” guna memperoleh keuntungan satu sama lain.

Dua bulan berlalu, saya kemudian berkenalan dengan anaknya Bapak A—sebutlah sebagai Rangga. Singkat cerita, saya dan Rangga kemudian berpacaran. Sejak kami mulai dekat, Rangga sering berkata kepada saya, “Hati-hati dengan pejabat di Pemprov. Mereka itu sering ngomongin kamu.”

Karena itu Rangga selalu menyempatkan diri untuk “mengawal” saya ketika melakukan liputan. Ketika saya wawancara seorang pejabat, dia sering menunggu di depan ruangan narasumber, bahkan tak jarang ikut masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya, saya tidak nyaman karena membuat saya merasa tidak bebas

Awalnya saya mengira, pejabat Pemprov “ngomongin” saya karena saya sering menulis berita yang mengkritik hal-hal yang berkaitan dengan kantor gubernur. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya saya paham mengapa Rangga kerap mengawal ke mana pun saya pergi.

Suatu hari, ketika Rangga sedang dinas ke luar kota, saya dipanggil oleh salah satu narasumber dari Pemprov. Katanya, dia punya berita menarik untuk saya. Saya segera naik ojek ke kantornya. Tak disangka-sangka, ternyata kantornya sepi.

Ketika bertemu, narasumber tersebut bertanya, “Kok nggak diantar sama Rangga? Biasanya dia kawal kamu terus?”

Saya jawab sekenanya, “Dia lagi dinas di Jakarta, Pak”.

Selama wawancara, ternyata tidak ada “berita menarik” seperti yang dia janjikan. Saya pun merasa ada yang aneh. Orang ini tidak mau duduk berhadapan, tapi bersebelahan. Makin lama dia makin mendekatkan posisinya dan memepet saya ke tembok, seolah-olah ingin mengunci agar saya tidak kabur. Benar-benar memuakkan.

Karena merasa risih, saya minta izin ke toilet. Saya buru-buru menuju toilet dengan hanya membawa ponsel, dengan niat menelepon Rangga dan menceritakan tentang firasat buruk mengenai pejabat itu.

Tak disangka, pejabat itu mengikuti saya ke kamar mandi perempuan. Dia mendorong saya masuk ke dalam salah satu bilik, kemudian memeluk dan menciumi leher saya.

“Kamu itu nggak usah sok suci. Saya tahu kok kalau kamu sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan Rangga. Iya kan?”

Saya hanya bisa diam, membisu, dan entah mengapa tubuh saya susah bergerak.

“Sudahlah, kalau perempuan sudah pernah merasakan hal itu, kamu juga bisa saya kasih sekarang. Walau umur saya dan Rangga berbeda, tapi saya jamin rasanya sama.”

Amarah saya sampai ke ubun-ubun. Tapi bapak itu nggak mau melepas pelukannya. Saya bingung, karena saya mendadak mati rasa. Saya diam saja, tubuh ini membeku. Padahal dia mulai membuka kancing bagian atas kemeja saya.

Air mata saya meleleh.

Untungnya, Tuhan masih sayang saya. Ponsel di kantung celana berbunyi, menyentak saya untuk bergerak. Rangga menelpon. Saya cepat-cepat keluarkan ponselnya dan menjawab teleponnya.

“Halo? Halo, Kak?”

Bedebah itu buru-buru keluar dari kamar mandi setelah tahu saya berhasil mengangkat ponsel. Saya buru-buru menutup pintu kamar mandi, duduk di atas kloset, dan menangis sepuas-puasnya sambil bercerita kepada Rangga. Ia mengatakan bahwa ia baru bisa pulang dari Jakarta lusa. Ia minta saya agar melaporkan ke atasan kantor sesegera mungkin.

Setelah mulai merasa tenang, saya pulang dengan menggunakan ojek. Saya tinggalkan tas saya yang ada di ruangan pejabat itu. Sesampainya di kantor, saya meminjam uang kepada resepsionis kantor untuk membayar ojek karena uang, laptop, dan barang-barang saya ada di tas tersebut. 

Saya langsung bertemu dengan General Manager (GM) kantor dan melaporkan kejadian yang baru saya alami tadi.

“Kamu sudah tahu kalau pejabat di sini mesum-mesum. Kamu ngapain mau diajak ke ruangannya sendirian?” ujarnya. “Kamu sendiri yang datang ke kantornya, seolah-olah menawarkan diri.”

Jleb! Rasanya jantung saya seperti ditusuk berkali-kali.

“Saya yang salah. Saya yang salah. Saya yang salah.” Kata-kata itu terus yang berputar di kepala saya. Saya pun memilih untuk pulang dan tidak masuk kantor selama dua hari. Saya sudah tidak peduli kalau gaji dipotong.

Di rumah saya berpikir, “Kalau saya tidak datang ke kantor pejabat mesum itu, saya tidak dapat berita. GM pun pasti bakalan marah. Nanti, pasti saya lagi yang disalahkan karena nggak dapat berita. Intinya, GM selalu benar!”

Dilecehkan maupun tidak, saya berada di posisi yang salah.

Tidak disangka, setelah Rangga pulang, ia datang ke kantor saya dan mengamuk. Ia berkata bahwa manajer saya nggak bertanggung jawab dan sebagainya. GM pun bertanya balik: “Apakah saya bisa melaporkan pejabat tersebut ke kantor polisi? Pejabat tersebut memiliki kuasa besar di Kota X dan mempunyai ‘orang dalam’ di mana-mana. Kita pun tidak memiliki bukti.”

Akhirnya, GM dan Rangga membuat kesepakatan di mana saya keluar dari rubrik Pemprov. Saya tidak usah datang lagi ke Pemprov. Saya pun mulai beraktivitas lagi untuk liputan Ekonomi Bisnis.

Enam bulan setelah kejadian mengerikan di Pemprov tersebut berlalu, saya lagi-lagi harus menghadapi tindakan serupa. Saat itu, ketika saya sedang liputan di sebuah acara perbankan, saya mewawancarai seorang anggota DPRD.

Tiga hari kemudian, tepat pukul 9 malam, ada mobil Fortuner yang parkir di depan kontrakan saya. Ponsel saya berbunyi dan ada SMS dari anggota DPRD tersebut, “Adek manis, kakak sudah di depan rumahnya adek. Ayo kita keluar dan makan malam sama-sama.”

Saya tecekat dan mengintip mobil yang berada di depan rumah saya. Saya jawab, “Mohon maaf, kakak. Saya baru pulang kerja dan capek sekali. Mungkin lain waktu, sekalian dengan teman satu kantor saya.” Dia mengiyakan.

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa hari. Pada hari ketiga, saya meladeni dia mengobrol di teras. Saya berharap, setelah diladeni dengan mengobrol singkat, dia sadar bahwa saya enggan untuk bertemu dengannya di lain hari.

Tapi rupanya dia masih datang lagi di hari keempat. Kebetulan saat itu saya lembur, dan dia menunggu sampai saya pulang. Ketika saya tiba di rumah pukul 12 malam, mobil pejabat itu terparkir di depan rumah. Dia mengajak saya berbicara di luar pagar.

“Saya suka kamu, Dek. Kita pacaran,” katanya.

“Saya sudah punya pacar, Kak. Mohon maaf,” jawab saya.

Dia kemudian mendekati saya dan membuka resleting celananya. Saya benar-benar kaget. Itu pertama kalinya saya melihat alat kelamin laki-laki. Lagi-lagi, dia mengatakan hal yang sama dengan pejabat yang hampir memperkosa saya waktu itu. Dia berkata bahwa saya pasti sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pacar saya, sehingga saya tidak perlu “sok suci” lagi.

Saya geram sekali dan menerobos masuk ke rumah. Ketika saya buka pagar, tiba-tiba anggota DPRD ini menyentuh dada saya. Saya menatapnya dengan marah. Dia hanya tersenyum dan menempelkan alat kelaminnya ke tubuh saya. Dia bilang, “Hanya sebentar saja, Dek. Ayolah.”

Belajar dari masa lalu, serta rasa jijik karena melihat kemaluannya, saya berontak setengah mati. Semakin saya berontak, semakin saya ditarik ke dalam mobilnya. Pintu mobil setengah terbuka dan dia berusaha untuk menggesekkan alat kelaminnya dengan tubuh saya. Jam 12 malam, dan pastinya Kota X sudah seperti “kota mati”. Tidak ada orang yang lewat dan bisa menolong saya.

Karena saya berontak, anggota DPRD itu berdecak dan bilang, “Sok jual mahal. Padahal sudah bekas!”

Dia tidak berhenti menggesekkan alat kelaminnya di tubuh saya hingga “keluar”. Setelah itu, saya pun cepat-cepat mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam rumah. Yang lebih mengesalkan, ketika saya membuka pagar, anggota DPRD itu berteriak dengan suara keras, “Terima kasih, Adek! Enak sekali main dengan kau malam ini!”

Entah ada yang mendengarkan atau tidak, tapi saya malu sekali. Seolah-olah saya sudah “melayani” dia malam itu.

Esok harinya, saya cerita kepada teman perempuan sesama wartawan. Saya sudah kapok cerita ke GM, dan saya berpikir, wartawan perempuan bisa lebih berempati. Tapi, saya keliru.

“Kamu sih pulang malam. Kalau saya jadi kamu, harusnya saya pulang jam 8 saja. Lagipula, kenapa tidak diantar saja sama pacarmu?” ujarnya.

Saya juga bercerita hal ini kepada ibu pacar saya, dan dibalas, “Pejabat di sini memang mesum-mesum. Kenapa kamu harus kerja jadi wartawan kalau tahu pejabat-pejabat itu mesum?”

Rasanya geram sekali mendengarnya. Tidak ada yang memberikan dukungan atau berempati. Lagi-lagi, semua salah saya.

Ketika saya korek lebih dalam lagi, ternyata perusahaan-perusahaan media lokal memang tidak menjamin keselamatan untuk wartawan perempuan. Bagi yang memiliki nasib seperti saya, paling tidak mereka akan menerima jawaban yang sama dari GM media masing-masing. Hal tersebut sudah terkonstruk di dalam kepala orang-orang yang bekerja di media-media lokal. Untuk pelecehan seksual yang melibatkan fisik saja tanggapan GM seperti itu, apalagi pelecehan yang lebih subtil seperti berbentuk pesan singkat di SMS atau chat? Paling-paling GM hanya tertawa saja menanggapinya.

Kami, wartawan perempuan, tidak hanya butuh BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan saja dari perusahaan, tetapi juga perlindungan agar kami merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Tak heran jika wartawan perempuan sebagian besar menyalahkan diri sendiri berkali-kali ketika pelecehan seksual menimpa mereka.

Ketika kontrak saya selesai, saya memutuskan untuk mengambil program kuliah magister di sebuah kota. Saya tidak begitu ambil pusing kuliah di mana. Pokoknya menjauh sejauh mungkin dari trauma yang saya alami di Kota X.