Teman saya dikasih uang oleh narasumber sehabis liputan. Ia yang sedang magang di sebuah media itu menceritakan hal tadi lewat status Whatsapp-nya . Dengan nada gembira, ia bahkan bertanya kapan narasumber-narasumber lain melakukan hal yang sama.

Pengakuannya itu saya screenshot. Saya lempar ke grup Whatsapp yang isinya teman-teman kuliah. Grup menjadi riuh, padahal sudah hampir dua bulan ini sepi perdebatan sebab penghuninya sibuk magang.

Kami berdebat apakah uang narasumber wajar diterima. Menurut teman tadi, narasumbernya bilang uang itu bukan sogokan, bukan demi memengaruhi isi berita, melainkan sekadar sedekah sebab waktu itu bertepatan dengan hari istimewa umat Islam, Jumat.

Dari perdebatan panjang di grup, ternyata teman-teman saya yang magang di tempat lain juga mengaku sering mendapat "ucapan terima kasih". Mereka tak menolak sama sekali atau sekadar ragu apakah uang itu melanggar aturan.

"Itu, kan, sebagai ucapan terima kasih aja," kata mereka.

Selain tidak menolak, mereka juga sepertinya tidak paham bedanya berita dan advetorial.

"Kadang memang ada, Bang, kami disuruh ngeliput berita, terus memang ada bayarannya."

Tapi secara umum, mereka berpendapat uang "ucapan terima kasih" wajar diterima. Saya yang kalap dengan perbedaan pendapat itu, menyumpah sebelum akhirnya menyesal.

"Mohon maaf, tapi orang-orang seperti kalian, bahkan mungkin juga aku, memang sebaiknya tidak menjadi bagian dari jurnalisme."

***

Bagus Pribadi, Pemred Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gagasan dari UIN Suska Riau, Agustus lalu liputan atas nama pribadi dalam rangka pelatihan jurnalisme yang diadakan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) ke Bangkinang, Riau. Bagus menyelidiki sekolah negeri yang tidak mengadakan pelajaran agama lain selain Islam dan memaksa siswi non-muslim memakai jilbab. Tulisannya lalu terbit di situs feminis, Magdalene, dan dibagikan hampir seribu kali pengguna Twitter.

Saat liputan, Bagus membiayai dirinya sendiri. Dompetnya kandas untuk makan, bensin, dan segala macamnya. Uangnya hanya sisa 20 ribu. Padahal, ia masih harus menempuh puluhan kilometer untuk perjalanan pulang ke Pekanbaru.

Di tengah-tengah wawancara, Bagus ditawari makan siang oleh kepala sekolah yang jadi narasumbernya. Bagus mengiyakan tapi tetap melanjutkan pertanyaan. Setelah selesai, kepala sekolah itu menelepon ajudannya. Ajudannya lalu diperintah memberi Bagus uang sebesar 200 ribu ketika hendak meninggalkan lokasi. Bagus menolak semua itu.

"Maaf, nggak bisa, Pak. Saya punya kode etik."

Wartawan Gagasan lain juga sering ditawari makan saat wawancara. Bagus tak melarang anggotanya makan bersama narasumber, tapi Bagus mewajibkan mereka bayar sendiri makanannya.

Bagus juga melarang anggotanya ikut makan di acara-acara yang mengundang mereka agar diliput. Tapi kalau memang ingin makan, ya sebaliknya, Bagus melarang mereka liputan.

"Mau makan, makan aja. Jangan liputan. Kan, enak. Udah makan, kenyang, nggak liputan lagi."

Belum lama ini ada dosen yang juga seorang musisi meminta Gagasan mempromosikannya. Promosi itu tentu saja tidak gratis karena dosen tersebut menjanjikan bayaran. Syaratnya, tulisan itu harus ditulis di rubrik reguler yang mengesankan liputan dilakukan tanpa diminta. Bagus menolak mentah-mentah permintaan itu.

"Kalau mau, dosen itu bisa aku tulis di rubrik advetorial. Bayarannya terserah. Tapi waktu anggota aku bilang kayak gitu, dosen itu nolak. Ya udah."

***

Di Amerika, dari tulisan Andreas Harsono, saya tahu bahwa orang iklan dan orang berita dilarang akrab. Katanya, akrab sama orang iklan bisa bikin rusak cara pandang orang berita. Kantor mereka bahkan harus berbeda lantai.

Di Amerika jugalah mulanya muncul istilah pagar api (fire wall). Pagar api adalah garis tipis tegas yang memisahkan antara berita dengan iklan. Pada 2001 saat Harsono menulis ini, Tempo, Kompas, dan teman-temannya belum ada satu pun yang mengamalkan ini.

Kalau dua hal yang dianggap sepele macam lantai kantor wajib terpisah dan sekadar akrab pun dilarang, apakah kemudian “tanda terima kasih” bisa diwajarkan? Tentu beda ceritanya kalau untuk tulisan advetorial yang memang wajib membayar.

***

Persis apa kata editor Asumsi, Dea Anugrah, ada banyak wartawan sekarang yang tak sanggup menatap masa depan. Sehari harus menulis belasan berita, gaji jauh di bawah rata-rata, tekanan tinggi, dan bahkan liputan ke luar kota tanpa diberi uang bensin. Ini masalah. Wartawan harus gigit kuat kode etik dan prinsip, sementara di sisi lain ada kebutuhan dasar yang tak terpenuhi dengan layak. Maka jadi wajar kalau sampai ada yang memaklumi "ucapan terima kasih" sebagai upaya bertahan hidup.

Bagus beruntung ditawari 200 ribu saat statusnya masih mahasiswa. Hidupnya hampir 100 persen masih bergantung pada orang tua. Ia tak punya banyak beban membiayai apapun. Tapi mungkin beda cerita kalau tawaran ini datang 10-20 tahun lagi.

Meski begitu, saya merasa nilai ideal perlu dirawat. Nilai ideal harus tetap sempurna sebagai petunjuk sejauh apa kita telah keluar dari rel yang seharusnya. Saya benar-benar naik darah saat seorang teman mengejek argumen saya dengan, "Kalau teorinya banyak beda sama kenyataan lapangan, ganti aja teorinya." Dengan emoticon tertawa, saya merasa ia seakan-akan sedang menginjak kepala orang-orang yang berusaha sekuat tenaga menjaga pagar api dan upaya menghindari bias psikologis wartawan.

Dosen saya pernah bilang, kalau cuma mau jadi wartawan, enggak perlu letih-letih kuliah sampai empat tahun. Cukup ikut pelatihan tiga bulan, status wartawan sudah bisa dikalungin.