Catatan editor: Ada dua klaim pada tulisan ini yang diprotes oleh pihak lain. Klaim pertama yang diprotes terkait Spenyaduran oleh sebuah media terhadap hasil liputan di kantor Dinas Kesehatan Provinsi. Sedangkan klaim kedua terkait perubahan sikap media setelah mendapat iklan dari sebuah perusahaan. Setelah kami telusuri, klaim pertama disokong bukti yang cukup, sedangkan klaim kedua tak disokong bukti yang mencukupi. Catatan ini harap menjadi perhatian pembaca. Kami meminta maaf atas kurang ketatnya verifikasi kami terhadap klaim dalam naskah ini.

Catatan editor: Ada dua klaim pada tulisan ini yang diprotes oleh pihak lain. Klaim pertama yang diprotes terkait Spenyaduran oleh sebuah media terhadap hasil liputan di kantor Dinas Kesehatan Provinsi. Sedangkan klaim kedua terkait perubahan sikap media setelah mendapat iklan dari sebuah perusahaan. Setelah kami telusuri, klaim pertama disokong bukti yang cukup, sedangkan klaim kedua tak disokong bukti yang mencukupi. Catatan ini harap menjadi perhatian pembaca. Kami meminta maaf atas kurang ketatnya verifikasi kami terhadap klaim dalam naskah ini.

Pada hari pertama saya menjadi wartawan magang di Pekanbaru, Riau, saya meliput ke Gedung Pemerintahan Provinsi. Saya ke sana diajak Bang Rico, mentor sekaligus senior saya di kampus dan di media tempat saya magang. Kami meliput acara pembukaan Rapat Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Pejabat penting yang hadir waktu itu Sekretaris Daerah Provinsi (Sekda).

Dalam pidato pembukaan, Sekda mengungkapkan kekecewaan sebab Pelaksana Tugas Bappeda yang semestinya menjadi pemimpin rapat RKPD tidak hadir. Kekecewaan itu dia sampaikan sebanyak tiga kali. Saya menangkap rasa kecewa itu sebagai materi yang harus diketahui publik, dan tentu saja, si pihak tersindir, Pelaksana Tugas Bappeda. Materi ini kemudian saya tulis menjadi berita.

Saya senang bukan kepalang ketika berita saya ini diunggah redaktur. Ini berita pertama saya sebagai wartawan sungguhan. Lima belas ribu pertama saya. Kata Pemimpin Redaksi, selama magang saya dibayar Rp15.000 per berita. Saya bolak-balik scroll website sambil senyum-senyum. Rasanya kayak mimpi jadi kenyataan. 

Keesokan harinya, ketika sampai di kantor, Bang Rico bilang kalau berita saya itu "laris". Saya enggak paham. Laris bagaimana? Banyak dibaca, gitu? Atau bagaimana?

Ternyata, yang dimaksud “laris” adalah bahwa berita itu disadur berkali-kali oleh media lain yang bahkan batang hidung wartawannya tak ada di lokasi. Seingat saya, kami cuma berempat waktu itu. Saya berdua Bang Rico, dan ada dua orang lagi dari media yang pastinya bukan media yang menyadur berita saya. 

Sialnya, sudah dijiplak, berita itu ditulis dengan meningkatkan daya dramatisnya. Di salah satu media, judul beritanya ditulis "Sekda Meradang".

Bagi saya, makna meradang itu kondisi yang betul-betul marah, kecewa, bahkan sampai wajah memerah dengan urat leher tegang. Padahal, kenyataannya Sekda cuma nyindir. Ungkapan kekecewaan tiga kali itu diucapkannya dengan nada satir, sambil senyum-senyum.

Bahkan waktu diwawancarai, dia mengatakan hanya kecewa tapi tetap paham kesibukan pejabat yang kadang tak bisa diprediksi. Ia hanya menyarankan agar ke depannya agenda bisa diatur lebih efisien. Bukan meradang, bukan marah-marah. 

Coy, sumpah saya baru tahu ternyata begini cara mainnya anak-anak jurnalis. Pantas saja hoaks enggak hilang-hilang. 

***

Waktu itu Bang Rico liputan ke kantor Dinas Kesehatan Provinsi. Dia liputan eksklusif bareng satu teman wartawan lain. Bang Rico ngobrolin soal jumlah dan penanganan anak stunting di Riau. 

Ketika materi itu diunggah, berita Bang Rico ramai. Sebab enggak ada satu pun media yang bahas isu ini. Jadi karena wawancaranya eksklusif, kami yakin media lain tidak sampai hati mau menyadur berita itu. Tapi ternyata tidak. Tulisan itu disadur berkali-kali tanpa penyebutan sumber. Cuma sebatas ganti narasi saja. 

Tapi ada satu hal yang paling bikin saya tidak habis pikir. Salah satu media penyadur tersebut adalah media yang pemimpin redaksinya adalah mantan ketua sebuah aliansi jurnalis. Aliansi jurnalis ini, kata teman saya, bahkan melarang wartawannya ikut makan di acara yang sedang diliput. Tujuannya ya biar wartawan tidak merasa hutang budi, kemudian menurunkan daya kritisnya pada instansi yang memberinya makan. 

Menyadur berita, apalagi yang wawancaranya eksklusif, menurut saya sudah perbuatan curang yang berlebihan. Masih ada pewajaran ketika saduran berasal dari hasil rekaman wawancara ramai-ramai. Lah, ini eksklusif, enggak ada wartawan lain selain Bang Rico dan satu temannya. 

Gila, sih.

Belakangan saya tahu Bang Rico ternyata pernah kerja di media penyadur itu. Katanya, dulu media itu keras sekali sama perusahaan yang suka bakar lahan. Kritiknya habis-habisan. Tapi setelah ada perusahaan pembakar lahan memasang iklan, berita Bang Rico yang sarat kritik, diubah. Nama perusahaan tersebut diganti jadi "sebuah perusahaan besar di Riau". Bahkan, perusahaan itu belum lama ini mengirim kue khusus untuk merayakan hari ulang tahun media tersebut. Parahnya, informasi soal kue ulang tahun ini kami dapat dari rubrik berita. 

***

Di Amerika, ada orang yang namanya Jayson Blair. Dia wartawannya The New York Times, media yang bisa dibilang paling terkemuka sejagat Paman Sam. Jadi waktu itu dia nulis soal tentara perempuan Amerika yang bertugas di Irak, Jessica D. Lynch. Awalnya, sih, tulisannya oke-oke saja. Sampai kemudian ada media di Texas curiga bahwa liputannya si Blair ini adalah hasil plagiasi. 

Kecurigaan itu sampai ke kantor redaksinya The New York Times dan tentu saja, bikin geger. Kalau isu plagiat ini sampai ke pembaca, kredibilitas mereka bisa hancur. 

Akhirnya The New York Times bikin penyelidikan internal. Hasilnya, kecurigaan media Texas itu benar. Blair enggak pernah benar-benar mewawancarai Jessica D. Lynch. Jadi dia cuma nyadur-nyadur saja. Dia enggak pernah bikin sumber. Seakan-akan dia melakukan "aksi kewartawanannya" dengan baik, benar, dan jujur. 

Akhirnya, pada Mei 2003, Blair mundur dari The New York Times

Kisah Blair ini kalau mau dipatrikan ke semua wartawan, harusnya enggak ada sadur-menyadur berita. Apalagi sampai menyadur berita ekslusif tanpa penyebutan sumber. 

Orang-orang yang hobi menyadur tanpa menyebut sumber ini harusnya dipecat. Tidak etis. Apalagi kalau yang punya kebiasaan buruk ini Pemimpin Redaksinya. Bagaimana wartawan sebuah media bisa diuji prinsipnya kalau pemimpinnya saja bobrok moral? 

Jadi ya begitulah. Ini baru soal sadur-saduran. Sebenarnya ada beberapa lagi pengalaman saya yang padahal baru jadi wartawan sebulan ini. Soal amploplah, soal terlalu dekat sama narasumberlah, soal wawancara saya dihentikan paksa polisilah, soal enaknya minta duit ke polisi kalau lagi kerelah, dan semacamnya. 

Saya enggak tahu kebusukan apa lagi yang kelak saya hadapi. Dan apakah saya akan bisa bertahan dari godaan untuk menggigit idealisme yang selama kuliah sudah saya bangun dan pelajari. Tapi yang pasti, saya selalu percaya rel harus ada. Nilai ideal harus tetap eksis, tetap dibicarakan, tetap diketahui. Harus ada petunjuk sejauh apa kita sudah melenceng. Agar seenggak-enggaknya, kita bisa tahu jalan pulang, kita bisa tahu cara untuk balik lagi ke atas rel. 

Tapi pertanyaannya, berapa banyak wartawan yang mempelajari dan membicarakan ini?