Konglomerasi media di Indonesia telah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Konsentrasi kepemilikan di tangan segelintir pemodal membuat media mengabaikan kepentingan publik. Hal ini misalnya bisa dilihat dari berita-berita, baik di media cetak maupun televisi, yang menunjukkan keberpihakannya kepada pemilik modal. Pertanyaannya, bagaimana cara melepaskan diri dari jerat konglomerasi ini?   

Untuk menjawab pertanyaan itulah Gerakan Literasi Indonesia (GLI) menyelenggarakan diskusi bertajuk “Media Kooperasi: Die Tageszaitung” di Djendelo Café, Yogyakarta, 10 Oktober 2013 lalu. Die Taegeszaitung, yang biasa disebut taz, merupakan koran alternatif berbasis koperasi yang bisa lepas dari jerat konglomerasi media di Jerman.

Membuka diskusi, mantan redaktur taz Anett Keller mengatakan bahwa kelahiran taz di tahun 1979 tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial politik yang muncul di Jerman saat itu. Taz merupakan ikhtiar anak-anak muda yang mencari media alternatif sebagai ruang publik baru. Alasannya, ruang publik dan hak asasi dipersempit oleh negara yang semakin represif menghadapi kelompok teroris RAF (Red Army Faction).

“Anak-anak muda merasa bahwa media mainstream tidak mewakili aspirasi mereka sama sekali,” ujar Anett. Kegelisahan anak-anak muda tersebut kemudian melahirkan sebuah kongres yang sangat terkenal dalam sejarah gerakan sosial di Jerman: kongres Tunix. Kongres yang diadakan bulan Januari 1978 di Berlin ini melahirkan beberapa gerakan yang bertahan sampai sekarang dan cukup mempengaruhi peta politik di Jerman, seperti partai hijau, parade Christopher Street Day untuk LGBT, dan tentu saja koran harian alternatiftaz.

taz disiapkan lebih dari satu tahun oleh berbagai gerakan sosial di empat belas kota di Jerman. Awalnya, para pendiri berpikir mendirikan sebuah koperasi. Tapi pada waktu itu, sebagaimana dijelaskan Anett, tidak ada asosiasi koperasi yang memperbolehkan tazmenjadi anggota. Usaha penerbitan koran koperasi dianggap bukan model usaha yang tepat.

Pada tahun 1991 akhirnya taz berhasil menjadi koperasi. Hingga kini, ia sudah dimiliki oleh sekitar 13.000 anggota. Kepemilikan kolektif ini membuat tidak adanya dominasi dalam menentukan berita-berita yang akan ditampilkan. Karena itu, wajar jika berita-berita yang muncul kerap berbeda dari media mainstream (situs resmi taz bisa diakses di taz.de). tazbahkan media Jerman pertama yang memiliki versi online dan koran nasional pertama yang memiliki pemimpin redaksi perempuan.

Pengalaman taz inilah yang menurut dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta Bambang Kusumo Prihandono seharusnya bisa direplikasi di Indonesia. Setidaknya ada dua hal yang menarik dari taz. “Pertama, jurnalisme taz tidak sekadar melaporkan, tetapi menafsirkan dan menumbuhkan kesadaran atas eksploitasi kapitalisme. Kedua, kepemilikan kolektif berupa koperasi membuat pembaca merasa memiliki media dan sekaligus menjadi bagian dari gerakan alternatif,” ungkap alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster tersebut.

Diskusi yang berlangsung kurang lebih selama dua jam ini memang tidak sampai memunculkan rumusan konkret untuk menuntaskan konglomerasi media di Indonesia. Namun acara ini berujung pada satu kesadaran bersama: masyarakat sipil harus segera bergerak bersama merumuskan media alternatif yang tepat, sehingga ruang publik di Indonesia tidak hanya dijejali sampah informasi media mainstream. Kalau taz bisa, mengapa kita tidak? (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)