"Kita memiliki hak atas informasi yang benar,” tegas Agus Haryadi, selaku pemateri dalam diskusi santai yang diadakan Remotivi pada Selasa 29 Maret 2011 bertempat di kantor Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Pejompongan, Jakarta.

Ia mengatakan, berbagai macam manipulasi dilakukan media demi menimba laba. Mereka tidak lagi menyuguhkan informasi yang benar apalagi mengambil peran sebagai sarana pendidikan. Penonton dianggap sebagai pasar, sebuah objek, yang tidak mempunyai pilihan-pilihan yang cukup. Inilah kiranya yang menyebabkan perlu adanya peranan etika komunikasi, etika media, dalam keberlangsungan media – khususnya televisi – di Indonesia.

Agus Haryadi adalah pekerja media di TVRI dan Dewan Penasehat Remotivi. Ia menjabarkan, ada tiga pertimbangan mengapa etika komunikasi – yang pembahasannya mengacu pada buku Etika Komunikasi karya Haryatmoko – menjadi penting untuk diterapkan.

Pertama, media memiliki kekuasaan dan efek terhadap publik. Maka, etika komunikasi diperlukan untuk melindungi publik yang lemah di tengah berbagai kemungkinan terjadinya manipulasi oleh media.

Kedua, etika tersebut akan membentuk keseimbangan antara kebebasan berekspresi di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain. Hal ini berangkat dari sikap media yang memonopoli kritik. Mereka tidak siap untuk menerima kritik dari luar.

Ketiga, demi menghindari dampak negatif logika instrumental – yang bertendensi mengabaikan nilai dan makna, logika pasar dianggap bertanggungjawab terhadap penggerusan atas nilai dan makna. Dengan mengutamakan aktualitas, atas nama kredibilitas, media bisa menghalalkan segala cara untuk memanipulasi banyak peristiwa. Semua dilakukan demi mengeruk keuntungan.

Selain itu, etika komunikasi juga dianggap sebagai perlawanan, yang membongkar konstruksi yang sudah-sudah.

Menanggapi Agus sebagai pemateri, banyak pertanyaan-pertanyaan maupun tanggapan-tanggapan yang muncul dari peserta diskusi, yang semakin memperhangat lingkaran diskusi di ruangan kecil yang dingin AC itu. Salah satunya datang dari seorang pekerja media yang mengiyakan pernyataan Agus bahwa media seringkali melakukan manipulasi dan rekayasa demi meraup laba. Mereka tidak lagi menghiraukan kaidah. Satu berita itu merupakan rupiah. Kira-kira begitu ujarnya.

Karena pemberitaan mengenai kasus narkoba cenderung menonjolkan besaran uang dalam bisnis narkoba ketimbang hukumannya, Soewono Effendi, seorang peserta diskusi, dengan bercanda bahkan mengatakan ia bisa saja terinspirasi ingin menjadi pengedar narkoba setelah menonton berita di televisi. “Saya mikir, saya kerja 24 jam sehari, enggak menghasilkan apa-apa,” begitu komentarnya sambil tertawa. Menurutnya, televisi seringkali menginspirasi penonton untuk melakukan suatu tindakan, bahkan tindakan buruk sekalipun.

Suara belasan peserta lain yang datang dari berbagai latar belakang juga turut memperkaya diskusi yang merupakan bagian dari program Divisi Edukasi Remotivi. Diharapkan diskusi macam ini akan terus dilakukan demi mengkomunikasikan berbagai gagasan soal pertelevisian.

”Engga nyesel saya dateng.. nambah khasanah pengetahuan saya tentang media,” seru Lienda, seorang peserta. (Remotivi/Indah Wulandari)