Ira Koesno memotong pernyataan Megawati meski presiden petahana tersebut belum menuntaskan kalimatnya. Jatah waktu tiga menit berbicara sudah habis. Mega terlihat kecewa karena belum tuntas menyelesaikan visi-misi kalau ia terpilih sebagai presiden lagi. Setelah itu, sebagai moderator Ira memberikan kesempatan kepada Amien Rais untuk presentasi. Wajah Amien terlihat tegang, dan di layar televisi wajahnya bergoyang-goyang karena kesalahan teknis kamera.

Peristiwa pada 30 Juni 2004 tersebut merupakan siaran langsung debat kandidat pemilihan presiden pertama dalam sejarah televisi Indonesia. Karena ada lima pasangan calon presiden-wakil presiden di pemilihan 2004, debat tersebut dibagi dua hari. Hari pertama menampilkan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo. Sedangkan di hari kedua menampilkan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Wiranto-Salahuddin Wahid, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Apa yang disebut sebagai debat tersebut sebenarnya lebih tepat disebut sebagai dialog tanya jawab. Format yang ada tidak memungkinkan sesama kandidat untuk menguji gagasan satu sama lain. Moderator juga jarang menindaklanjuti atau mempertajam pertanyaan dari apa yang disampaikan oleh kandidat. Akhirnya yang kita saksikan di televisi adalah dialog yang membosankan.  

Format semacam ini terus berlangsung dalam pemilihan umum presiden 2009 dan 2014, juga dalam pemilihan kepala daerah. Salah satunya kita saksikan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 yang debat pertamanya sudah kita saksikan beberapa saat lalu. Lebih banyak retorika ketimbang perdebatan soal kebijakan maupun tawaran kebijakan yang dimiliki oleh para kandidat. Tak mengherankan jika di media sosial pun diskusi yang muncul lebih banyak mengomentari Ira Koesno yang menjadi moderator.

Perdebatan, kalau bisa disebut perdebatan, paling jauh pada akhirnya berkutat pada sindiran-sindiran personal antar kandidat. Misalnya ketika Agus Harimurti Yudhoyono menyindir Ahok soal film Jakarta Unfair, atau ketika Ahok menyindir profesi Anies Baswedan sebelumnya yang merupakan dosen. Padahal dalam sebuah debat yang disaksikan langsung oleh jutaan orang, publik berhak mendapatkan informasi yang lebih tajam mengenai janji-janji maupun rekam jejak kandidat.

Jika dibandingkan dengan siaran langsung debat politik di Amerika Serikat, apa yang terjadi di Indonesia memang tertinggal jauh, baik dari format debatnya sendiri, maupun model siaran langsungnya. Sebagai contoh, dalam debat kandidat pemilihan  presiden Amerika Serikat 2017, beberapa media seperti AJ+ (jaringan Al Jazeera) dan juga Washington Post menyiarkan  secara langsung melalui Facebook Live dan memeriksa fakta (fact-checking) saat itu juga.

Dengan memeriksa fakta secara langsung, bisa diuji apakah seorang kandidat menyampaikan fakta dan data secara tepat atau tidak. Selain itu, Washington Post bahkan menandai ketika seorang kandidat menyampaikan kebohongan atau kekeliruan. Ini membuat penonton bisa menguji sekaligus mengetahui janji-janji maupun argumen kandidatnya.

Di Amerika Serikat, siaran langsung debat calon presiden di televisi sudah berlangsung lama. Tepatnya pertama kali diadakan pada 26 September 1960. Dalam pemilu presiden tersebut ada dua kandidat yang bersaing yaitu Richard Nixon dan John F.Kennedy.  Disaksikan sekitar 66 juta warga Amerika Serikat, siaran langsung debat bersejarah itu melambungkan Kennedy  yang penampilannya lebih baik.

Di layar televisi, wajah Nixon terlihat pucat. Ia baru sembuh dari sakit. Penampilannya yang sedang sakit itu susah ditutupi. Apalagi ia menolak didandani dengan riasan agar terlihat lebih cerah. Beberapa kali ia disorot kamera sedang berkeringat dan dalam posisi tidak nyaman.

Hal ini berbeda dari penampilan Kennedy yang terlihat lebih percaya diri dengan penampilan yang menarik. Ketika menjawab pertanyaan dari moderator, ia mengarahkan pandangannya langsung ke layar televisi, menatap ke puluhan juta penonton. Ini berbeda dengan Nixon yang seringkali menatap penonton di studio sehingga seolah-olah abai pada penonton di layar kaca. 

Sejak saat itu televisi mengambil peran yang penting tidak hanya dalam debat politik kandidat dalam pemilihan umum, tetapi juga dalam politik secara keseluruhan. Dan siaran langsung debat menjadi pertaruhan serius bagi setiap kandidat. Ada beberapa momen yang muncul dari debat dan membuat seorang kandidat akhirnya kalah populer. Di tahun 1992, misalnya, kandidat petahana George H.W. Bush terlihat melirik jam tangan di tengah debat dengan Bill Clinton, momen yang menimbulkan impresi ketidaknyamanan Bush. Momen-momen konyol lain juga beberapa kali terjadi.

Di Indonesia, peran penting televisi dalam panggung politik baru menjadi signifikan setelah Orde Baru jatuh. Jadi metode siaran langsung debat kandidat dalam pemilihan umum juga konten debatnya yang masih normatif, bisa dimaklumi. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)