Judul 
The Stars Down to Earth and Other Essays on the Irrational in Culture

Penulis
Theodor W. Adorno

Tahun
2002       

Penerbit
Routledge

Judul 
The Stars Down to Earth and Other Essays on the Irrational in Culture

Penulis
Theodor W. Adorno

Tahun
2002       

Penerbit
Routledge

Rubrik astrologi asuhan Caroll Righter di harian Los Angeles Times punya posisi yang unik bagi Theodor Adorno, filosof dan sosiolog termasyur berkebangsaan Jerman. Dalam esai “The Stars Down to Earth”, Adorno berusaha melihat bagaimana budaya massa membentuk manusia secara sosial melalui teropong ramalan bintang. Esai ini dibukukan bersama tulisan Adorno lain yang tampak punya napas yang serupa, yakni berupaya memaparkan tendensi irasionalitas serta otoritarianisme dalam budaya Barat menjelang pertengahan abad ke-20.

Esai “The Stars Down to Earth” secara khusus, esai yang hendak saya soroti dalam tulisan ini, bagi saya layak untuk mendapat perhatian lebih bagi studi media. Melalui esai tersebut, Adorno berupaya menggambarkan bagaimana budaya massa menghasilkan individu dengan tingkat dependensi tinggi serta kemampuan berpikir reflektif dan kritis yang rendah. Kolom astrologi besutan Richter menyajikan ramalan nasib serta saran bagi masalah tiap zodiak pada tiap edisinya. Dalam kolom-kolom tersebut, astrologi diperlakukan sebagai hal yang lumrah, konvensional, serta diterima oleh masyarakat luas. Saran yang diberikan pun tidak pernah menyimpang dari konvensi sosial.

Buatlah penampilan Anda lebih menawan dari awal hari. Kemudian, hubungi kolega dan rancanglah pengaturan yang lebih efisien dan harmonis untuk pekerjaan rutin di masa depan. (31 Januari 1953, Aries)

Hari ini anda boleh menjalankan hiburan, olahraga, rekreasi, maupun romansa yang tidak mahal. Beribadahlah, dan teruslah menjalankan agama. (14 Desember 1952, Cancer)

Bagi Adorno, astrologi bukan sebuah sistem takhayul dimana para pembaca benar-benar menganggap nasibnya ditentukan konstelasi bintang-bintang. Permasalahan dari rubrik astrologi juga bukan pada kepercayaan mutlak pembacanya. Masalah besar dalam rubrik astrologi, menurut Adorno, adalah fungsi astrologi dalam menumbuhkan cara berpikir yang konformis dan dependen melalui beragam strategi retorika yang memenuhi sekaligus memanipulasi, psikologi pembaca.

Kita dapat memahami bagaimana astrologi memenuhi kebutuhan psikologi tersebut dengan melihat acara motivasi yang hadir di televisi. Menganalisa program televisi Mario Teguh Golden Ways, Andina Dwifatma mengemukakan bahwa pola kehidupan kota yang membuat manusia menjadi semakin terasing satu sama lain, serupa dengan pernyataan Adorno bahwa dalam “masyarakat sekunder” (secondary community), hubungan antar manusia semakin mengalami mediasi dengan hubungan antar-obyek, seperti pertukaran komoditas. Baik saran-saran dalam rubrik astrologi maupun acara motivasi hadir sebagai pengganti sosok sahabat maupun keluarga dekat yang memahami uneg-uneg kita dan memberi solusi.

Adorno memiliki asumsi bahwa rubrik tersebut menyasar publik perempuan, bahkan bisa saja mereka yang telah berusia lanjut. Menariknya, rubrik tersebut umumnya menggambarkan pembacanya sebagai seorang pegawai profesional berusia sekitar tiga puluh tahun yang bersemangat menjalankan karir. Ia memiliki jabatan tinggi, harus mengambil keputusan penting, dan banyak orang bergantung padanya. Dari perspektif Adorno, penggambaran tersebut dapat menjadi daya tarik rubrik tersebut bagi perempuan dengan menciptakan ilusi bahwa ia sesungguhnya penting dan memiliki kuasa; “Setiap ibu rumah tangga dapat merasa seolah seorang V.I.P.” (hal. 83).

Adorno memaparkan bagaimana rubrik tersebut menggunakan berbagai strategi untuk menarik dan mempertahankan pembaca. Sebagai contoh, rubrik tersebut tidak pernah sekalipun menyebut jenjang pendidikan sang pembaca dan sekedar menyebutnya sebagai seseorang yang “memiliki bakat yang luar biasa”.

Teman-teman terkemuka, menyadari bakat dan kemampuan Anda, menghadirkan rencana untuk membuat mereka lebih diperhatikan dan mendatangkan anda kesuksesan. Bekerja samalah. (26 Desember 1952, Cancer)

Strategi itu demikian berhasil dalam meladeni narsisisme tanpa menumbuhkan perasaan inferior pada sang pembaca. Strategi serupa dapat kita temukan dalam tayangan “Kick Andy”, yang menampilkan hal-hal luar biasa pada orang-orang biasa. Sosok seorang pengusaha muda sukses dari keluarga kurang mampu yang berhasil karena memiliki bakat bisnis dan kerja keras merupakan sosok yang dapat kita identifikasi dengan diri kita sendiri.

Bentuk gratifikasi lain dalam rubrik Righter adalah kesan adanya otoritas yang lebih mengetahui pembaca dibandingkan dirinya sendiri. Dalam budaya massa, kemampuan individu untuk melakukan refleksi dan bersikap kritis menjadi tumpul karena ia dihadapkan dengan banjir informasi dan komoditas yang mengalihkan perhatiannya secara terus menerus.

Salah satu implikasi dari hal tersebut adalah pembaca menjadi terbiasa menggantungkan nasib maupun konsep diri mereka pada hal di luar diri mereka sendiri. Bagaimanapun, menyatakan dengan gamblang bahwa takdir pembaca sudah ditentukan terlebih dahulu dengan mutlak dan tanpa ruang negosiasi tentu akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karenanya, rubrik astrologi Righter menerapkan formula ciamik ancaman-solusi: Hal buruk akan menimpa pembaca, namun rubrik tersebut telah dengan sigap menyediakan solusi untuk ancaman yang akan datang, bahkan dengan gratifikasi tertentu apabila sang pembaca bersedia menuruti saran yang diberikan.

Menjauhi kenalan-kenalan yang merugikan membuat kekayaan lebih mudah didapatkan. (19 November 1952, Scorpio)

Retorika di atas menumbuhkan dependensi pembaca dengan cara memberi ketakutan dan ancaman. Menurut Adorno, formula tersebut merupakan potret dari sebuah “kepercayaan kolektif” masyarakat Amerika Serikat (hal. 77) bahwa pada akhirnya, segalanya akan baik-baik saja: Amerika Serikat berhasil melalui perang dunia kedua dan tumbuh menjadi sebuah negara yang maju. Strategi serupa dapat kita temui di mana-mana saat ini, bukan hanya di Amerika Serikat saja, seperti penjualan produk kesehatan didahului ancaman akan penyakit dan kematian.

Kepercayaan kolektif tersebut, pada akhirnya, berhulu pada peneguhan sifat konformis: sebuah sistem sosial yang pada akhirnya bertahan dan sanggup menjamin keselamatan serta kesejahteraan tiap orang adalah sebuah sistem yang memang baik. Masalah yang dijumpai oleh sang pembaca bisa jadi di luar kehendaknya. Namun, kegagalan menyelesaikan masalah tersebut merupakan dampak dari ketidaksanggupan sang pembaca untuk berkompromi. Hal tersebut terlihat dari anjuran rubrik tersebut untuk berhati-hati ketika bersikap kritis maupun mempertanyakan status quo:

Hari ini akan terasa cukup sulit kecuali anda bekerja sama dan beradaptasi dengan kondisi. Jangan menjadi terlalu kritis; tunjukkanlah selera humor. (21 Februari 1953, Virgo)

Anda harus mempraktikkan kehati-hatian terhadap semua rekan, dan menjauhi segala perselisihan atau perdebatan yang bisa menurunkan penilaian anda di mata beberapa orang penting. (23 Februari 1953, Virgo)

Kini, kita dapat memahami bahaya kasat mata pada produk-produk motivasi yang kerap menganjurkan kita untuk menggunakan sudut pandang positif dalam menghadapi cabaran: Dengan berkata bahwa “jalan orang hebat tidak pernah mudah”, Mario Teguh membentuk ilusi tentang adanya perkembangan dalam diri seseorang ketika yang sesungguhnya terjadi adalah anjuran untuk beradaptasi dengan tuntutan kondisi sosial - dorongan untuk berkembang dan konsep akan kesuksesan itu sendiri merupakan produk sistem sosial tertentu. Terlebih, konformitas terhadap status quo menjadi semakin kuat dengan gagasan bahwa sang pembaca berasal dari sebuah keluarga yang “tepat” dan dengan demikian layak memperoleh kesuksesan.

Prinsip keluarga yang Anda warisi akan menguntungkan Anda. (7 Desember 1952, Cancer)

Dengan demikian, delusi dalam rubrik Righter bukanlah bahwa nasib seseorang telah didikte berdasarkan konstelasi bintang-bintang pada hari tertentu, namun bahwa para pembaca tidak sanggup memahami kenapa mereka terpikat pada astrologi itu sendiri. Secara sarkastik, Adorno berkata bahwa orang menerima astrologi karena astrologi itu ada—sebuah bentuk penerimaan buta terhadap sistem sosial. Bagi sang pembaca, justifikasi tentang astrologi tidak penting, selama kebutuhan psikologisnya terpenuhi. Pergerakan dan posisi bintang-bintang dalam menentukan nasib seseorang sekedar berfungsi menyediakan konten untuk ditulis tiap harinya pada rubrik tersebut.

Kelemahan terbesar kritik Adorno adalah kecacatan metodologi ketika ia memperlakukan teks sebagai sebuah jendela untuk memahami kondisi psikologis konsumen teks tersebut. Adorno berupaya untuk “memberikan gambaran tentang rangsangan spesifik yang beroperasi pada pengikut astrologi . . . dan dampak presumtif dari stimuli tersebut” (hal. 52). Dengan kata lain, Adorno hanya membayangkan dampak yang akan terjadi pada pembaca rubrik tersebut tanpa data empiris yang menunjangnya.

Hal tersebut tentu bukan tanpa sebab. Adorno bersikap skeptis terhadap tradisi penelitian empiris Amerika Serikat yang ia anggap hanya sanggup mendokumentasikan respons sadar dari seorang individu serta abai terhadap mekanisme bawah-sadar yang bekerja. Selain itu, data dari sebuah penelitian empiris menyekat respons individu pada sebuah momen tertentu tanpa sanggup menjelaskan kenyataan sosio-kultural secara holistik.

Meski demikian, penting bagi kita untuk menilai sendiri betapa relevan klaim Adorno dengan konteks masyarakat dan budaya kontemporer. Bila tidak, Adorno hanya akan menghidupi stereotip yang ia miliki sebagai kakek tua yang benci hal apa pun tentang dunia yang terus berubah. []