Judul:
Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media

Penulis:
Eriyanto

Penerbit:
LKiS, Yogyakarta

Cetakan:
Empat, Februari 2005 

Judul:
Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media

Penulis:
Eriyanto

Penerbit:
LKiS, Yogyakarta

Cetakan:
Empat, Februari 2005 

Barangkali tak ada satu pun peminat kajian media di Indonesia yang tak pernah membaca Analisis Wacana karangan Eriyanto. Meski hari ini telah bertebaran buku dan terjemahan tentang metode analisis wacana kritis, buku yang dipublikasikan pertama kali tahun 2001 ini kini tetap digemari oleh aktivis media atau mahasiswa studi komunikasi.

Mudah dibaca—meski bukan berarti praktis, tidak membingungkan, dan tidak banyak konsep yang ngawang-ngawang—itulah barangkali keunggulan buku ini. Keunggulan kadang berarti juga kelemahan. Dengan berkonsentrasi pada teks berita, buku ini menjerembabkan analisis wacana kritis menjadi hanya menjadi analisis teks berita.

Teks berita memang bagian atau efek sebuah wacana, namun analisis wacana tidaklah cukup didefinisikan dengan struktur teks berita plus klaim bahwa teks berita pasti mengandung ideologi tertentu. Menganalisis sebuah wacana tidak berarti “asal Anda mampu mengurai sebuah teks berita dan mengklaim apa ideologinya”, sebagaimana yang ditawarkan oleh buku ini.

Tersusun dari 12 bab, buku ini dapat dibagi menjadi 4 bagian utama. Bagian pertama ialah penjelasan posisi analisis wacana kritis—ketimbang analisis wacana dalam linguistik, dan ragam analisis wacana kritis. Bagian kedua berisi upaya Eriyanto merelasikan analisis wacana kritis dengan produk media massa (berita) yang terdapat di bab 2 dan 3. Bagian ketiga konsep-konsep yang biasa dan atau dapat digunakan dalam analisis wacana kritis; wacana, ideologi, hegemoni dan representasi (bab 4, 5 dan 6). Bagian keempat, model-model analisis wacana kritis pada media massa (Bab 7 dan seterusnya). Eriyanto sendiri mendaku inti bukunya terdiri dari 3 bagian terakhir saja (lihat hal. 20).

Analisis Bermodal Jargon Ideologi

Tujuan awal dari buku ini ialah memberi “salah satu alternatif dari analisis isi selain analisis isi kuantitatif yang dominan dan banyak dipakai” (hal. xv). Dengan menggunakan analisis wacana kritis, Eriyanto menginginkan pembaca buku ini untuk tidak hanya mengetahui isi teks berita media massa, tetapi “lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks” (ibid). Apa yang tersembunyi itu? Buku ini menjawab bahwa teks berita media massa selalu menyiratkan dominasi. Teks berita media massa pasti berideologi!

Pada bab pertama, Eriyanto mencoba mengidentifikasi bagaimana wacana kritis memperlakukan bahasa yang berbeda dari gagasan perspektif positivistik dan konstruksionisme (hal. 4-7). Lalu kemudian, dengan berdasar gagasan Van Djik, Wodak, dan Fairclough, Eriyanto memberikan ciri bagi analisis wacana kritis yakni, 1) wacana dilihat sebagai tindakan ketimbang hanya sebagai teks; 2) wacana dilihat terikat pada konteks; 3)wacana selalu berdimensi historis alias tak lahir sendiri; 4)wacana dilihat sebagai wujud pertarungan kekuasaan; 5) wacana adalah medium kelompok dominan sebagai instrumen ideologis, di mana ideologi bersifat sosial dan berfungsi membentuk identitas (hal. 8-14).

Setelah membedah makna kritis dalam analisis wacana kritis, Eriyanto berusaha merelasikan analisis wacana kritis dengan realitas media massa (bab 2 dan 3). Di sini Eriyanto menceritakan kembali dua pandangan terhadap media yakni “pandangan pluralis” dan “pandangan kritis”. Eriyanto memihak pada pandangan kritis yang menempatkan media sebagai alat kelompok dominan.

Institusi media memang tidak netral, tetapi bagaimana teks berita—yang merupakan produk institusi media massa, dapat menjadi “wacana”, dapat menjadi manifestasi dari ideologi?

Eriyanto menjawabnya dengan sederhana, teks berita menjadi wacana ketika ia dikaitkan dengan ideologi atau dominasi. Dasar gagasan Eriyanto bahwa teks berita media massa selalu ideologis sebenarnya didapat dari Stuart Hall, tokoh penting Birmingham Centre for Cultural Studies yang panjang lebar dijelaskan Eriyanto di Bab 2 (lihat hal. 25-31). Menurut Eriyanto, “Hall mengajukan gagasan mengenai peranan ideologi dalam studi isi teks media yang dalam beberapa tahun absen dalam studi media”(hal. 27). Hall (1990), dalam The Rediscovery of Ideology yang diceritakan oleh Eriyanto, meminjam definisi ideologi dari Elisieo Veron yang memahaminya sebagai “sebuah sistem aturan semantik yang melahirkan pesan ... ia, dari sudut pandang kelengkapan semantik, adalah satu dari banyak level pengorganisasian pesan.”[1]

Intinya, dengan mencatut gagasan Hall, Eriyanto dapat melihat teks berita media massa sebagai jembatan ideologi karena ia merupakan “bahasa” sekaligus “wacana”. Asal dibubuhi jargon ideologi, teks berita adalah wacana. Maka, ketika Eriyanto mulai menawarkan model-model praktik analisis wacana di Bab 7 dan seterusnya, ia lebih banyak menyodorkan “analisis isi berita” ketimbang analisis “wacana”.

Kecuali model analisis Van Djik dan model analisis Fairclough yang menyediakan kerangka operasional analisis pada dimensi produksi media (bagaimana media/wartawan memproduksi teks), model analisis wacana yang ditawarkan dalam buku ini belum dapat disebut sebagai analisis wacana, melainkan hanyalah analisis teks berita.

Misalnya, kerangka analisis Sara Mills disederhanakan menjadi soal bagaimana posisi subjek-objek dalam teks berita dan bagaimana teks berita membentuk posisi penulis dan pembaca (hal. 210-211). Jika Anda membaca penjelasan wacana Sara Mills dalam Discourse (1997), anda akan mengetahui betapa kedodorannya penjelasan Eriyanto tersebut.

Menurut Mills, posisi “Subjek-Objek” tidaklah didefinisikan “teks” (mikro) seperti yang disederhanakan Eriyanto. Mills, yang mengikuti Foucault, menulis bahwa “wacana”-lah yang membentuk posisi tersebut, bukan “teks”; “wacana yang membentuk objek bagi kita”[2] (ibid, hal. 52). Eriyanto, menyadari betul hal tersebut dengan menulis; “Dalam salah satu tulisannya, Foucault seperti dikutip Sara Mills, bagaimana objek didefinisikan dalam wacana…” (hal. 74).  Akan tetapi, ia barangkali menutup mata dengan menafsirkan wacana hanya sebagai teks berita.

Kegagalan Menjelaskan Wacana  Foucault

Di samping konsep wacana Althusser, pengertian wacana Foucault sangatlah penting dalam buku ini. Eriyanto menulis:

“Dengan mengambil posisi sebagai paradigma kritis, teori-teori mengenai wacana yang diambil tentu saja bukan dari lingkungan linguistik, tetapi pengertian wacana yang diperkenalkan oleh Michel Foucault dan Althusser. Sumbangan terbesar Foucault terutama adalah mengenalkan wacana sebagai praktik sosial… Sementara dalam konsepsi Althusser, wacana berperan dalam mendefinisikan individu dan memposisikan seseorang dalam posisi tertentu.” (hal. 19)

Mereka berdua, menurut Eriyanto, tidak pernah menulis dan berbicara mengenai analisis wacana teks media. Namun, lanjut Eriyanto, beberapa ahli mengelaborasi konsep wacana yang umum dan abstrak dari kedua tokoh ini untuk melihat bagaimana teks berita harus dianalisis. “Kata, kalimat, gambar proposisi sebagai alat untuk melihat struktur yang lebih besar yakni pertarungan kekuasaan” (ibid), demikian simpul Eriyanto.

Meski klaim buku ini menyandarkan dirinya pada gagasan wacana Foucault, untuk membedakan dari wacana linguistik, buku ini gagal total menyampaikan konsepsi wacana Foucault. Keterangan Eriyanto mengenai analisis wacana Foucault (Bab 4) dan penjelasan model analisis wacana Sara Mills sama sekali tidak memadai untuk menjelaskan gagasan dan praktik analisis wacana Foucault.

Paling tidak ada tiga kegagalan Eriyanto dalam hal ini.

Pertama, Eriyanto tidak membahas bagaimana cara Foucault yang sangat khas ketika berhadapan dengan sejarah. Padahal perspektif sejarah Foucault yang biasa disebut archaeologi/genealogi, adalah inti dari analisis wacana Foucault. Sejarah a la Foucault sangat berbeda dari sejarah pada umumnya. Sara Mills (1997: 26) misalnya mau tak mau harus menerangkan soal sejarah ini sebelum ia membicarakan wacana: “Meski pengertian historiografi Foucault telah dikritik, adalah penting untuk menekankan keunikan dari karya Foucault dalam usaha untuk memetakan perubahan-perubahan dalam struktur diskursif dari waktu ke waktu.”[3] Ironisnya, Eriyanto gagal menyinggung masalah ini meski ia sering menyandarkan penjelasannya soal Foucault pada karya Sara Mills.

Kedua, skema model analisis wacana Eriyanto yang berinti pada pembagian dimensi wacana tidak bersesuaian dengan bagaimana Foucault mendefinisikan wacana.

Inti dari buku Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media adalah skema “tiga level dimensi wacana”; level mikro, level meso, dan level makro. Level mikro adalah analisis pada teks (berita), meso adalah analisis level produksi/konsumsi berita (bagaimana wartawan/media memproduksi berita) dan level makro adalah analisis pada fenomena historis, sosial dan politik. Dengan skema tersebut, analisis wacara kritis Foucault yang diwakili model Sara Mills, hanya mempunyai dua level yakni mikro dan makro. 

Foucault sendiri menolak oposisi antara “sains” untuk menganalisis “hal-hal yang sinkroni” (yang tetap) dengan “yang menyejarah” (lihat lebih jauh Foucault & Lotringer, 1996: 9) sebagaimana dalam analisis wacana yang lain. Sains adalah analisis teks berdasar rumusan grammatikal atau logika, sementara yang menyejarah adalah kondisi sosial politik. Foucault menolak oposisi tersebut, sementara Eriyanto dengan skema dimensi analisis wacana-nya melanggengkan oposisi tersebut.

Ketiga, betapapun detailnya penjelasan Eriyanto mengenai “kuasa” ala Foucault bahwa kuasa itu cair, omnipresen, dan tak bisa dimiliki, dalam contoh pemberitaan PKI dan komunisme, Eriyanto masih saja berpandangan kuasa sebagai “institusi”;

“Komunisme adalah salah satu wacana penting dalam kekuasaan Orde Baru. Orde Baru membangun wacana tentang komunisme yang menentukan bagaimana komunisme itu harus dipandang dan dipahami. Suatu proyek yang melibatkan hampir semua institusi dan disebarkan ke seluruh organnya. Lewat sekolah-sekolah dan institusi pendidikan disebarkan pengajaran sejarah yang menggambarkan bagaimana kekuatan komunis itu buruk sekali.” (hal. 78).

Pembacaan seperti ini hanya membatasi kuasa pada apa yang disebut Foucault (1977) sebagai “dispositif”. Yang dimaksud dengan “dispositive” adalah bahwa beragam institusi, regulasi, hukum, mekanisme administratif yang mengatur subjek selalu terhubung dengan kuasa, namun ia bukanlah kuasa itu sendiri. Ketika analisis kuasa disamakan dengan dispositif, maka kuasa akan selalu berada di tangan negara/penguasa, tidak lagi cair, tersebar, dan omnipresen.

Terhadap interprestasi kuasa Foucault yang sejenis dengan Eriyanto ini, Kendall & Wickham (2006) mengoloknya sebagai jenis tindakan yang “bertujuan untuk membagi ... ketidakbahagiaan atas dunia di mana masyarakat masih belum menang melawan negara."[4]


Buku ini mereduksi wacana hanya pada level teks berita dan  gagal memahamkan pembaca atas wacana Foucault. Lalu mengapa kemudian buku ini diterima dengan lapang dada sebagai buku yang menjelaskan “analisis wacana”?

Sebagaimana wacana yang tak lepas dari peristiwa historis, buku ini juga merupakan sebuah wacana yang merupakan produk sejarah.  Buku ini lebih baik dibaca sebagai respon atas kebebasan media massa setelah reformasi 1998. Kala itu, “...sensor beralih ke tangan masyarakat, sementara masyarakat umumnya belum memiliki pisau analisis atau kemampuan yang memadai untuk mengkritisi teks-teks media massa, serta menyikapinya secara arif dan dewasa,” demikian tulis M. Mushtafa (2001) dalam ulasannya mengenai buku ini dalam Kompas.

Buku ini muncul karena kebutuhan menganalisis teks media massa ketika media massa bebas dan tidak lagi dikekang negara. Oleh karenanya Eriyanto lebih senang menuntun pembaca mencurigai teks berita ketimbang menjelaskan secara lebih jernih mengenai wacana. Meski analisis wacana di buku ini hampir-hampir direduksi menjadi sekadaranalisis teks berita, Mushatafa menyebut buku ini berhak disebut sebagai salah satu “upaya pencerdasan bangsa” (ibid). Saya menyarankan untuk menyebutnya sebagai buku yang mengajari teknik “analisis teks berita” dan bukan sebuah buku analisis wacana kritis. []


Daftar Pustaka

Foucault, M. 1977. Discipline and Punish. New York: Vintage Book

Foucault, M., & Lotringer, S. 1996. Foucault Live (interviews, 1966-1984). New York: Semiotexte

Hall, Stuart. 1990. “The Rediscovery of Ideology: return of the repressed in media studies”, dalam Gurevitch, Michael. Tony Bennet. James Curran. Janet Wollacot. Culture, society and the media, Taylor & Francis, hal. 53-86

Kendall & Wickham. 2006. “Problems with the Critical Posture? Foucault and Critical Discourse Analysis” Paper di Centre for Social Change Research Queensland University of Technology 27 October.

Mills, Sara. 1997. Discourse. London & New York: Routledge

Musthafa M. 2001. “Tinjauan Buku: Cara Kritis Membaca Teks dalam Berita”. Kompas, 28 Juni 2001, hal. 8