Judul buku: 
Mapping World Communication: War, Progress, Culture

Penulis: 
Armand Mattelart

Penerjemah: 
Susan Emanuel dan James A Cohen

Penerbit: 
University Minnesota Press

Tahun Terbit: 
Cetakan Kedua, 1999

Tebal buku:
xiv + 294 halaman

Judul buku: 
Mapping World Communication: War, Progress, Culture

Penulis: 
Armand Mattelart

Penerjemah: 
Susan Emanuel dan James A Cohen

Penerbit: 
University Minnesota Press

Tahun Terbit: 
Cetakan Kedua, 1999

Tebal buku:
xiv + 294 halaman

Kita selalu menuliskan sejarah dari perang yang sama, bahkan ketika kita menulis sejarah dari perdamaian beserta institusi-institusinya... [1] 

(Michel FoucaultSociety Must Be Defended)

"Jurnalisme juga bisa takluk kepada kekuatan politik dan, ketika itu terjadi, kita menyebutnya propaganda,” demikian tulisan penutup Linda Christanty, seorang jurnalis sekaligus sastrawan Indonesia, dalam sebuah status di akun Facebook 5 April 2015 menyoal Media dalam konflik Suriah dan Yaman. Linda Christanty tampaknya berupaya membedakan antara “jurnalisme” dengan “propaganda”. Ia, seperti halnya kita, berusaha memupuk asa bahwa ada sebuah jurnalisme yang jadi penyelamat semesta.

Armand Mattelart, sosiolog kelahiran Belgia, justru yakin ainul yakin bahwa  apa yang disebut “komunikasi” dilahirkan untuk melayani perang (hal. xiii). Infrastruktur teknologi komunikasi—seperti telegraf, pos, kereta api, satelit, media massa, juga konsep-konsep yang berada dalam bidang itu—sejatinya diciptakan bukan untuk mencipta kedamaian.

Jika dalam sejarahnya komunikasi lahir menjadi pelayan perang, mengapa kemudian kita jadi percaya bahwa komunikasi adalah suatu hal yang netral? Bahkan di Indonesia belakangan ini, sekolah komunikasi dipuja-puji sebagai sekolah paling digemari?

Melalui Mattelart, kita bisa menemukan jawabannya: telah terjadi perubahan dalam dunia komunikasi. Perubahan ini, oleh Mattelart, terjadi dalam tiga fase yang diceritakan melalui tiga bagian bukunya; pertama, komunikasi sebagai pelayan perang (war); kedua, sebagai tindak kemajuan (progress) dan; ketiga, sebagai sebuah kebudayaan (culture). Artinya, telah terjadi penghalusan dari wajah perang komunikasi, melalui perubahan teknologi komunikasi, perubahan konsep-konsep, dan bahkan perubahan cara berpikir manusia mengenai komunikasi itu sendiri. Ketika komunikasi dimengerti sebagai penanda kemajuan dan bagian dari kebudayaan, ia tidak lagi tampil sebagai alat perang.

Namun, upaya Mattelart dalam buku ini bukanlah untuk menunjukkan bahwa, dalam sejarahnya, komunikasi telah ber-evolusi menjadi “jinak” dan menjadi pelayan perdamaian. Dalam tulisan ini, saya ingin mengajukan bahwa apa yang sebenarnya dilakukan Mattelart adalah mengembalikan ingatan bahwa komunikasi adalah perang, meski sudah dibungkus dengan wacana kemajuan dan kebudayaan.


Mattelart membuka buku ini dengan menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur komunikasi adalah paralel dengan kebutuhan perang. Salah satunya, pembangunan teknologi komunikasi pertama berupa jaringan optik telegraf Semaphore yang ditemukan oleh Claude Chappe. Dipasang antara Paris dan Lille pada tahun 1793, pembangunan jaringan telegraf semaphore adalah untuk keperluan militer.

Mulanya, Chappe mengajukan proposal penggunaan telegraf tersebut untuk memenuhi tiga keperluan sipil. Namun Consul Napoleon Bonaparte, penguasa Prancis kala itu, hanya mengabulkan satu dari tiga keperluan tersebut: lotere. Jadilah, selama 50 tahun setelah itu, 534 stasiun telegraf Semaphore dibangun dengan jaringan sepanjang 5000 kilometer, menghubungkan kota Turin dan Mainz. Pembangunan itu dibiayai oleh Kementerian Perang dan—tak ketinggalan—usaha lotere nasional (hal 3-4).

Peran media massa digunakan untuk mencipta perang mengemuka kembali pada1898. Kala itu William McKinley, Presiden Amerika Serikat, mendaratkan pasukannya di tanah Kuba karena isu yang ditiupkan oleh William Randolph Hearst, pengusaha media Amerika Serikat. Hearst mengirimkan Frederic Remington, reporter dan seniman ternama, ke Kuba untuk memeriksa lebih jauh soal kapal Amerika Serikat yang tenggelam di Havana. Mattelart mengutip sebuah anekdot menarik dalam buku F. Williams, The Right to Know (1969) mengenai korespondensi Hearst dengan Remington. Dalam anekdot tersebut, digambarkan bahwa Remington telah mengirimkan telegram pada Hearst, “Semuanya tenang. Tidak ada masalah di sini. Tidak akan ada perang. (Aku) berharap bisa kembali”. Hearst menjawabnya, “Mohon tetap tinggal. Kamu sediakan gambar, dan aku akan menyediakan perang” (hal 18).

Lebih jauh, menurut Mattelart, pengalaman Hearst dan Remmington ini memunculkan ide bahwa media massa punya kuasa tanpa batas serta mampu mencipta—atau sebaliknya, membubarkan—sebuah pemerintahan. Ide ini terekam dalam film yang rilis pada 1941,Citizen Kane (hal. 18).

Mattelart tidak hanya menunjuk negara sebagai pembuat teknologi perang, melainkan juga peran intelektual dalam lapangan teori. Utamanya dalam “mencipta” sebutan apa yang kira-kira relevan dengan kegiatan-kegiatan yang sekarang kita sebut sekarang sebagai “komunikasi”.

Perang Dunia I terjadi dengan adanya manajemen opini publik yang dinamakan sebagai “propaganda”. Namun ketika terjadi Perang Dunia ke-II, istilah ini secara bertahap berusaha digantikandengan istilah “perang psikologis” (psychological warfare). Harold Laswell, tokoh yang disebut Bapak Komunikasi oleh mahasiswa Komunikasi ini, kala itu menulis; ”Istilah ‘perang psikologis’ mulai menjadi bagian dari ekpansi yang cepat dari ahli psikologi di Jerman, Amerika Serikat dan negara Barat lainnya...[2]” (hal 85). Meski demikian di Inggris, BBC memilih istilah “perang politis” (political warfare) (ibid). Perdebatan mengenai perbedaan antara; perang psikologis dengan informasi; propaganda dengan informasi; persuasi dengan komunikasi, menurut Mattelart biasanya berakhir tanpa keputusan, karena definisi dianggap tidak berguna jika tidak mengacu pada penggunaan.

Ketika Perang Dunia ke-II beralih menjadi Perang Dingin, istilah “perang psikologis” diusik oleh banyak sarjana. LS Cottrell, misalnya, menulis pada American Sociological Society pada 1950-an, “Istilah ‘perang psikologis’ itu ambigu dan menjadikan bingung pikiran serta tindakan[3]" (hal 89). Di jurnal yang sama, sarjana lainnya, RI Perusse berusaha menghimpun istilah-istilah dalam rangka menemukan pengganti istilah “perang psikologis” sehingga cocok dengan kondisi dunia saat itu; “war of ideas, struggle of minds and will of men, thought war, ideological warfare, war of nerves, political warfare, international information, campaigns of truth, international propaganda, psychological warfare, war of words, indirect agression, agitation, international communication” (ibid). Setelah 1950-an, istilah perang psikologis lambat laun tergantikan oleh dua istilah yakni “komunikasi internasional” (international communication) atau “komunikasi politik” (political communication).

Menurut Mattelart, hanya satu hal yang menjadi ketertarikan umum para sarjana-sarjana dalam pencarian istilah tersebut. Mereka berusaha menemukan perbedaan antara makna yang dilegitimasi oleh militer dan makna yang lebih berorientasi pada sipil (hal 90). Sebagaimana kalimat Murray Dyer dalam The Weapon of The Wall: Rethinking Psychological Warfare (1959), “Dalam sebuah masyarakat demokratis, jawaban-jawaban tersebut harus datang, sama sekali, dari politisi, yang berbeda dari otoritas militer, meski pertimbangan militer menjadi salah satu faktor pembentuk [4]” (ibid). Dengan perumpamaan lain, para sarjana itu sedang berusaha memakaikan bulu domba pada tubuh serigala.

Ketika wajah perang dalam komunikasi disamarkan, negara-negara yang terlibat perang dingin mempersenjatai diri dengan informasi, misalnya satelit. Maka pada 1970-an, muncul juga sarjana-sarjana yang membawa mimpi utopia terciptanya sebuah masyarakat egaliter berdasarkan teknologi informasi. Marshal McLuhan dengan konsep “the global village” atau  Zbigniew Brzezinski dengan konsep “technotronic society”. Apa yang perlu dilihat dari fenomena tersebut adalah bahwa sebuah sektor yang khusus dari komunikasi, yakni teknologi, dipandang sebagai hal paling dasar dari sebuah masyarakat.

Paradoknya, menurut Mattelart, panggung bagi konsep masyarakat informasi bukanlah negara-negara industri, melainkan apa yang disebut sebagai Dunia Ketiga, sebab Dunia Ketiga termasuk kategori “uninformed”—miskin informasi. Mattelart menunjuk buku klasikThe Passing of Traditional Society (1958) karangan Daniel Lerner sebagai permulaan “perang jenis baru” ini (hal 148). 

Salah satu sub-bab buku milik Lerner itu berjudul “Modernizing the Middle East”Sub-bab tersebut berusaha memetakan masyarakat di enam negara (Turki, Lebanon, Mesir, Siria, Yordania, dan Iran) yang diterpa program siaran radio internasional untuk melihat pengaruh program tersebut, apakah masyarakat menjadi modern atau tradisional? Lerner berusaha menjawab pertanyaan tersebut melalui tiga kategorisasi; orang modern adalah sama dengan “anti-NAZI”, tradisional sama dengan NAZI, dan transisional/apolitis ialah kategori bagi orang yang merespon upaya-upaya propaganda. Uniknya, menurut Mattelart, tiga kategori tersebut adalah kategori yang dipakai Lerner pakai untuk menjelaskan perang psikologi dalam Perang Dunia ke-II, dalam buku Sykerwar: Psychological Warfare against Germany, D-Day to VE-Day (1949). Lebih lanjut lagi, menurut Mattelart, dalam pemetaan Lerner terhadap dunia Timur Tengah, pembaratan (westernization) digunakan sebagai patok banding untuk mengukur modernitas dan kosmopolitan (hal 148-149).

Media mendapat tempat utama dalam pembangunan Dunia Ketiga ini, sejalan dengan ide pembangunan masyarakat berdasarkan informasi yang didengungkan oleh McLuhan. Media menjadi agen dari kemajuan. Teks Ithiel De Sola Pool, pencetus istilah “konvergensi” dalam penelitian efek teknologi dalam masyarakat, yang diterbitkan Unesco, merangkum tesis manuver media ini; “...Media komunikasi yang bertujuan untuk membuka pasar bagi produk dan kepentingan baru, juga menggambarkan citra dari sebuah tipe manusia baru dalam sebuah miliu yang baru...[5]” (hal. 151). Ya, pembentukan manusia baru dan miliu baru dimana komunikasi tidak dikenali sebagai tank yang menghujamkan moncong meriamnya pada manusia.


Buku ini penuh dengan data dan analisis yang menawan. Terjemahan buku dari teks asli Prancis ini cukup mudah dibaca, meski memang sarjana dan mahasiswa komunikasi akan jengah dengan cara Mattelart membangun relasi yang tidak linier antara satu peristiwa sejarah dengan peristiwa lainnya. Misalnya, cara Mattelart menghubungkan pembangunan kereta api, yang ia cap sebagai perluasan dari “administrasi waktu dunia” di satu sisi, dengan sistem ilmiah Frederick Winslow Taylor tentang cara menilai kerja buruh berdasar dari penemuan stopwatch di sisi yang lain (hal. 23).

Mattelart tidak berbicara “komunikasi” sebagai bidang yang tertutup yang hanya melibatkan teori-teori komunikasi dalam buku pegangan mahasiswa komunikasi saja. Menurutnya, komunikasi sudah berubah menjadi budaya, sementara budaya adalah sebuah memori kolektif yang menjadikan komunitas itu sebagai komunitas makna (fungsi ekspresif); mempersilakan anggota komunitas mengadaptasi lingkungan alam (fungsi ekonomis), dan memberi anggota sebuah komunitas kemampuan berargumen rasional mengenai nilai dalam relasi sosial (fungsi retoris). Komunikasi, menurutnya, adalah trilogi dimensi masyarakat komunikatif a la Jurgen Habermas; “bahasa-buruh-kuasa” (hal. 241). Tentu saja, bahasan Mattelart akan lebih luas ketimbang peneliti-peneliti Habermasian gadungan yang kadang merasa cukup dengan mengotak-atik syarat-syarat terjadinya ruang publik Habermasian, tanpa tinjauan genealogis pada tiga dimensi masyarakat tersebut.

Saya sengaja mengutip kalimat Michel Foucault dalam pendahuluan review ini. Bagi saya, demikianlah yang dilakukan Mattelart. Ia mengingatkan bahwa peperangan tetap terjadi hingga sekarang—hanya saja, kadang berganti nama jadi perdamaian. Mattelart juga membuka mata bahwa perang tidak hanya terjadi dalam praktik, melainkan juga dalam teori. Dengan demikian, mengatakan bahwa teori itu abstrak dan praktik adalah tindakan konkret, menjadi tidak relevan.

Dalam pemahaman demikian, kita perlu curiga: apakah pemisahan “jurnalisme” dari  “propaganda” itu juga bagian dari sebuah peperangan? []


Referensi :

Foucault, M., Bertani, M., Fontana, A., Ewald, F., & Macey, D. (2003). Society must be defendedLectures at the Collège de France, 1975-76. New York: Picador.

Taylor, P. A., & Harris, J. L. (2008). Critical theories of mass media: Then and now. Maidenhead, Berkshire, England: McGraw Hill/Open University Press.