Lihat gambar di atas. Dalam waktu yang hampir bersamaan, empat akun berbeda mencuitkan satu konten dengan isi yang sama persis. Akun semacam ini dikenal sebagai akun bot.

Sederhananya, akun bot (robot) di Twitter adalah akun yang dikelola oleh sebuah software yang bisa memerintah akun untuk melakukan tweet, retweet, mention, like, dan sebagainya secara otomatis. Dengan begitu, akun bot secara sekilas akan terlihat seperti akun milik manusia sungguhan yang berinteraksi normal di Twitter.

Sebuah studi dari University of Southern California dan Indiana University pada 2017 memperkirakan bahwa 9-15% dari keseluruhan pengguna Twitter adalah bot, dan angkanya terus bertambah hingga sekarang. Bot paling dikenal akan perannya dalam mempopulerkan sebuah topik percakapan di Twitter. Cara kerja itu berguna untuk merekayasa persepsi publik mengenai apa yang layak untuk dibincangkan.

Symantec, sebuah perusahaan yang menawarkan jasa keamanan siber, menulis beberapa ciri-ciri akun bot yang dapat dikenali, seperti:

  • Tanggal penciptaan akun yang relatif baru
  • Menggunakan angka pada akunnya (@abcd1999, dst.)
  • Cenderung menggunakan retweet daripada mencuitkan sesuatu
  • Jumlah frekuensi tweet yang tinggi
  • Mencuitkan konten yang sama dengan pengguna lain

Belum lama ini, Benjamin Strick, seorang investigator BBC menemukan adanya upaya menggunakan pasukan bot dalam mempengaruhi opini masyarakat dalam isu Papua. Bot-bot ini melancarkan serangan yang terkoordinasi dan secara serempak mendukung pemerintah dengan menyebutkan hal-hal positif yang dilakukan pemerintah di Papua.

Akun-akun bot ini menggunakan tagar #WestPapua agar orang yang melihat tagar tersebut terpapar narasi yang pro-pemerintah. Strick menyimpulkan bahwa jaringan bot yang terotomasi telah digunakan untuk menyebarkan informasi propaganda pemerintah Indonesia di Papua Barat.

Dari Meksiko hingga Indonesia

Fenomena pengerahan bot untuk merekayasa persepsi publik bukanlah barang baru. Kejadiannya dapat ditelusuri balik hingga 2012, ketika Andrés Sepúlveda menggunakan pasukan bot untuk memenangkan Peña Nieto di Meksiko.

Sepúlveda memang seorang peretas kelas wahid. Selama 8 tahun, dia malang-melintang di Amerika Selatan dalam berbagai proyek untuk memenangkan kampanye politik di berbagai negara. Pada 2014, Sepúlveda ditangkap oleh kepolisian Bogota, Kolombia.

Mulai dari situ, berbagai negara memiliki pengalaman uniknya masing-masing dengan bot. Amerika Serikat adalah salah satunya.

Pada Pemilu AS 2016 yang dimenangkan oleh Donald Trump, riset dari Oxford University menunjukkan bahwa dalam masa debat, lebih dari sepertiga tweet pro-Trump dan seperlima tweet pro-Clinton datang dari akun-akun bot. Jumlahnya lebih dari satu juta tweet.

Dalam sebuah polling yang dihelat di Twitter, misalnya, Trump bahkan mengklaim kemenangannya dari Clinton sebesar 61%. Padahal, hasil tersebut difabrikasi pendukung Trump di 4chan dan Reddit dengan mengerahkan bot.

Suatu waktu Trump juga pernah memamerkan jumlah pengikutnya di media sosial yang sudah mencapai 22,4 juta. Padahal, menurut The Atlantic, 25% dari jumlah tersebut terindikasi merupakan akun bot.

Selain dipakai oleh Trump untuk membangun opini publik, bot juga dipakai oleh pihak lawan untuk menyerangnya. Misalnya akun @loserDonldTrump (sudah tidak ada di Twitter) yang berusaha menjatuhkan Trump dengan me-retweet semua cuitan Trump yang mengandung kata “loser”.

Penggunaan bot untuk melemahkan protes terjadi di Hong Kong. Di kota pelabuhan ini, jutaan warganya turun ke jalan untuk menuntut iklim demokrasi yang lebih baik dari pemerintah Cina. Namun, untuk meredam protes, sebuah jaringan dengan 200 ribu akun bot digerakkan untuk secara aktif mengekspos berita-berita pro-pemerintah Cina.

Jaringan bot itu kemudian terdeteksi oleh Twitter, yang membuat 936 akun dibekukan. Mengelak dari tuduhan penggunaan akun bot yang dialamatkan kepadanya, pemerintah Cina menyebutkan bahwa masyarakat Cina “punya hak untuk mengekspresikan pendapatnya”.

Di Indonesia, penggunaan pasukan bot dalam kontes politik bukan barang baru. Kehadirannya sangat kentara saat Pilpres 2019. Pertarungan kembali antara Jokowi dan Prabowo tersebut menjadi ajang pertempuran bot. Analisis yang dilakukan Drone Emprit atas pertempuran tagar antara #VisiMisiJokowiMenang dan #HaramPilihPemimpinIngkarJanji menunjukkan bahwa kedua kubu menggunakan bot dalam jumlah besar.

Bot-bot ini bukan saja telah memanipulasi publik, tapi juga ikut memicu keterbelahan publik dengan permusuhan sangat tajam. []