Istilah cancel culture, atau canceling, atau dulu disebut call-out culture menjadi salah satu kata yang paling sering dipergunakan di media sosial, terutama Twitter. Penggunaannya erat dikaitkan dengan tokoh publik yang terkena skandal tertentu. Lalu, apa penjelasan sederhananya? Bagaimana penggunaannya? Apakah ini dapat menjaga perbincangan publik yang sehat, atau justru sebaliknya? 

Cancel culture sendiri memiliki banyak definisi, dan tidak ada satu definisi yang resmi. Definisi yang beredar bersifat informal, dan tidak ada yang cukup merangkum dimensi cancel culture secara utuh. Urban Dictionary sendiri mencatat 16 definisi berbeda. Secara sederhana, cancel culture adalah usaha kolektif masyarakat untuk ‘memboikot’ seseorang atas perbuatan atau perkataannya. Biasanya tokoh yang di-cancel telah melakukan suatu hal yang buruk, seperti kekerasan seksual hingga komentar rasial. Dampaknya, sang tokoh tersebut dapat kehilangan kepercayaan masyarakat, dianggap rendah, hingga dipecat dari pekerjaannya.

Sejarah

Lumayan sulit untuk melacak kemunculan diksi ini. Salah satu pemicu utamanya adalah Harvey Weinstein. Pada 2017, New York Times mengeluarkan laporan yang menyebut Weinstein telah diduga melecehkan 16 perempuan—tiga di antaranya diperkosa. 

Kasus ini meluas di Amerika, menumbuhkan kesadaran akan perilaku kekerasan seksual oleh artis Hollywood. Beberapa menyebut momen ini dengan Efek Weinstein, di mana dalam empat bulan seusai tuduhan pada Weinstein, terdapat 150 artis lain yang ikut dituduh. Nama-nama seperti Ben Affleck hingga Oliver Stone dilibatkan—walau tidak semua artis mengakui tuduhannya. Kesadaran ini juga bersamaan dengan kemunculan tagar #MeToo, di mana masyarakat didorong untuk ikut mengungkapkan pengalamannya dengan berbagai bentuk kekerasan seksual. 

Kira-kira sejak itu banyak artis ikut di-cancel. Kevin Spacey, misalnya, pada Oktober 2017 menerima 16 tuduhan pelecehan seksual. Warganet ramai meng-cancel Spacey. Akibatnya, Media Rights Capital, produser serial ini menunda penayangan musim ke-8 dan mengurangi jumlah episodenya dari 13 hingga tersisa delapan. Spacey disingkirkan dari pemain dan eksekutif produser House of Cards. Hingga awal 2020 ini pun, nama Spacey masih redup meskipun pada Juli 2019 kasusnya telah ditutup setelah penggugat kasus ini meninggal dunia. 

Tidak hanya kekerasan seksual, canceling juga bisa datang karena dianggap merugikan teman sendiri. Pada 2019 James Charles, seorang beauty vlogger asal Amerika ikut di-cancel masyarakat setelah dramanya dengan Tati Westbrook. Salah satu penyebabnya adalah Tati merasa dikhianati oleh Charles. Charles mengunggah instastory yang mendukung Sugar Hair Bear, sebuah merek kecantikan yang merupakan rival dari Halo Beauty, merek milik Tati Westbrook. Tati mengunggah video berdurasi 40 menitan yang mengungkapkan kekecewaannya atas Charles. Akibatnya, subscriber Charles berkurang jutaan dan sebaliknya Tati meningkat jutaan. Berbagai twit pun menyuarakan “James Charles is cancelled” dalam banyak versi.

Di Indonesia sendiri, pada bulan Oktober 2019 lalu seorang ilustrator bernama Nadiyah Rizki S. mengkritik Karin Novilda atau Awkarin. Nadiyah menyebutkan bahwa Awkarin telah mencuri hak intelektual dari seniman-seniman di Pinterest dengan mengunggah karya mereka di Instagram @awkarin pada awal ketenarannya. Nadiyah menuntut Karin untuk mengakui kesalahannya dan membayar royalti pada seniman-seniman tersebut. Netizen terbelah. Penggemar Karin mengutuk Nadiyah, memanggilnya dengan berbagai hal yang tidak pantas diucapkan. Di sisi lain, Awkarin yang sebelumnya sempat melibatkan diri pada aksi #ReformasiDikorupsi di-cancel masyarakat. Khalayak menyebut bahwa dirinya tidak peduli pada karya seniman namun mengaku dirinya sebagai aktivis. Akhirnya, Awkarin membuat sebuah thread klarifikasi dan mengambil jeda di Twitter. 

Baik atau buruk?

Terdapat perdebatan di internet tentang cancel culture—apakah ini gerakan yang baik atau buruk. Baik dan buruk di sini mengarah pada apakah cancel culture bisa menjadi metode aktivisme online yang tepat dalam memperluas partisipasi publik. Di satu sisi, orang awam bisa berpartisipasi dalam memboikot tokoh publik yang bermasalah. Namun, di sisi lain, cancel culture bisa mengarah pada penghakiman dan moral witch-hunting yang belum tentu akurat.

Pandangan yang pertama melihat bahwa kita perlu memproblematisir perilaku buruk seseorang. Penting untuk seseorang yang bermasalah untuk mendapat ‘sanksi sosial’. Cancel culture membuat masyarakat memiliki kuasa dan dapat dipergunakan untuk pengaruh tertentu. Bahkan, di dunia sosial media yang lekat dengan partisipasi khalayak, cancel culture menjadi “medium” yang pas untuk menyampaikan apa yang masyarakat mau.

Camonghne Felix, seorang ahli strategi komunikasi menyatakan “Apakah ada cara lain bagi publik, yang tidak memiliki kuasa, untuk mengawasi masyarakat tanpa sesuatu seperti cancel culture?”. Felix juga menyebut cancel culture dapat menjadi alat mobilisasi masyarakat dan dapat mengarahkan untuk berbagai kemungkinan secara legal, misal secara hukum.

Sedangkan, di sisi lain, banyak sekali tulisan yang mengkritik kebudayaan ini. Cancel culture dianggap toxic dan bersifat destruktif ketimbang konstruktif. Kanal YouTube ContraPoints dalam videonya membahas cancel culture selama 1 jam 40 menit. Natalie Wynn, host kanal tersebut mengkritik kebudayaan ini. Natalie melihat cancel culture tidak begitu memiliki konsekuensi nyata pada masyarakat kelas atas karena mereka memiliki banyak dukungan, tapi sebaliknya justru sangat berdampak pada masyarakat kelas bawah.

Barrack Obama pun ikut ambil suara. Dalam satu pertemuan yang membahas aktivisme remaja, ia menyatakan bahwa cancel culture bukanlah aktivisme karena menghakimi dan ‘melempari orang dengan batu’ tidak akan membawa perubahan apapun. Kebudayaan ini hanya membuat orang semakin mudah menghakimi orang lain.

Gerakan ‘keadilan’ ini pun tidak mengindahkan asas praduga tak bersalah, dan mengedepankan untuk mempercayai korban terlebih dahulu. Salah satu blunder warganet adalah ketika Amber Heard, yang sebelumnya didukung warganet karena dugaan pelecehan yang dilakukan Johnny Depp, ternyata belakangan ini mengakui dirinya pernah melakukan pelecehan fisik terhadap Depp. Namun publik sudah kadung marah-marah duluan terhadap Depp. 

Mau dikata apa, cancel culture sudah jadi praktik dalam budaya masyarakat kita. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, satu hal yang penting bagi masyarakat adalah melihat kompleksitas serta batasan-batasan dari metode ini. Dalam ContraPoints, Natalie Wynn mengibaratkan cancel culture sebagai hukuman guillotine versi abad ke-21. Di satu sisi hukuman ini memenggal tiran dan memberikan keadilan bagi rakyat banyak pada masa Revolusi Perancis. Namun, di sisi lain hukuman ini juga dapat menjadi pertunjukan hiburan yang sadistik.