Catatan editor: Artikel ini telah mengalami perbaikan pada 26 Maret 2020. Sebelumnya di artikel ini dituliskan bahwa Kumparan telah mengubah judul artikelnya setelah mendapat protes. Namun yang sebenarnya terjadi adalah adanya perbedaan antara judul yang sebenarnya dengan judul yang dipakai untuk notifikasi ponsel. Kami minta maaf atas ketidakakuratan ini.

Sebuah notifikasi dari Kumparan mendarat di ponsel saya: “Pasien Virus Corona Tidak Akan Ditanggung BPJS”. Judul  itu sukses membikin saya seketika meradang dan sibuk memaki.

Setelah membaca seluruh beritanya saya baru merasa berdosa. Sebab saya kemudian jadi sadar bahwa memang benar bahwa bukan BPJS yang akan membiayai pasien Corona, melainkan Kementerian Kesehatan yang akan menanggungnya.

Selain itu, judul artikel itu pun berbeda dengan judul yang muncul lewat notifikasi. Judul aslinya adalah “Tak Ditanggung BPJS Kesehatan, Pasien Virus Corona Dibiayai Anggaran Kemenkes”. Kalau judulnya selengkap ini, saya barangkali tidak buru-buru memaki.

Tapi tega sekali Kumparan telah mencurangi saya di tengah situasi tidak kondusif seperti sekarang ini, dan ternyata ada banyak pembaca lain yang juga jatuh dalam lubang yang sama seperti saya, seperti yang terlihat di kolom komentar.

Situasi pandemi memang menjadi momen paling menguntungkan bagi media yang haus klik. Sebab, kebutuhan masyarakat atas informasi menjadi lebih tinggi. Hal inilah yang semakin mendorong media daring untuk saling berlomba berebut perhatian dengan membumbui judul berita.

Media yang candu terhadap klik memang bikin masalah. Namun kita sebagai pembaca bisa melawan hal ini seandainya kita lebih rajin dan jeli membaca keseluruhan konten berita, bukan justru menghakimi berdasarkan judulnya saja. Tapi sayangnya, menurut Collen Seifert, profesor psikologi di Universitas Michigan, “Publik dapat percaya hanya berdasarkan tajuk berta yang tampak kredibel sebelum dapat dibaca dengan cermat”.

The Ingredient of Clickbait

Sebab itu, untuk melawan media pecandu klik, sangat penting bagi kita untuk tahu bagaimana strategi penjudulan yang clickbaity. Saya sedikitnya mencatat ada tiga cara.

Pertama, bahan-bahan clickbait sebenarnya simpel. Artikel clickbaity sering menggunakan angka dan daftar (list) seperti: 10 foto kucing, 10 kematian tragis, dan dan 10+10 sama dengan 20 (maap). 

Praktik penulisan artikel seperti ini disebut sebagai “listicle”, gabungan antara “list” dan “article”. Sean Dodson dari Universitas Leeds Beckett menulis bahwa listicles banyak dibuat dengan asumsi bahwa publik menginginkan informasi yang ringkas dan tidak perlu banyak berpikir.

Kedua, judul clickbaity suka memuat kata ganti orang pertama atau kedua tunggal seperti “saya, “kamu”, atau “Anda”. Contoh berita semacam ini misalnya: “Liburan Romantis yang Kamu dan Pacar Mesti Coba” atau “Inilah yang Saya Makan Selama Karantina”.

Kenapa judul-judul itu melibatkan “saya” dan “kamu”? Dengan menggunakan teknik bercerita seperti ini, tulis Nadya Khoja, orang akan lebih memperhatikan. Sebab kalau cerita tersebut mempengaruhi orang lain, bisa jadi itu mempengaruhi kita juga. Contoh legendarisnya misalnya poster persuasif karya James Flagg, “Uncle Sam Wants You”, yang berhasil menggerakkan pemuda-pemuda Amerika Serikat untuk menjadi tentara kala Perang Dunia I dan II. 

Ketiga, judul berita clickbaity memanfaatkan topik yang tengah menjadi perhatian masyarakat, topik yang viral. Misalnya: “Minuman Ini Sedang Ramai Dibincangkan di Media Sosial” atau “Kisah Tragis Pasangan yang Ceritanya Sedang Viral”.

Dengan cara demikian, seperti yang ditulis oleh seorang yang pernah bekerja di media ini, artikel “bertopik viral” mencoba mengeksploitasi rasa penasaran orang yang belum mengetahui topik ini. Kegelisahan orang yang merasa “tertinggal” dengan perkembangan dunia, atau biasa disebut FOMO (fear of missing out), menjadi sasaran dari artikel jenis ini.

Memang sulit untuk menolak godaan mengklik judul yang clickbaity. Sejumlah studi juga memaparkan jika kebiasaan masyarakat terjerumus clickbait disebabkan oleh dua hal: peran emosi yang besar dalam penilaian intuitif dan otak malas dalam membaca.

Sebab itulah, meskipun kita tahu artikel tersebut hanya pancingan yang isinya menipu atau belum tentu relevan, kita tetap saja memakannya. Bisa jadi karena memang sudah tak tertahankan, sebagaimana gorengan yang kita tahu tidak menyehatkan tapi akhirnya bermuara ke perut.

Tapi, apakah kalian bersedia memakmurkan para pengasong clickbait ini?