enyaksikan tayangan Jodohku di RCTI pada 20 Mei 2012 pukul 18.45 sampai 21.48 WIB,  di mana program tersebut menayangkan secara langsung pernikahan pasangan selebritas Anang dan Ashanti, Remotivi menyatakan keprihatinan mendalam atas gagalnya penggunaan frekuensi milik publik untuk kepentingan masyarakat luas. Remotivi menilai tayangan semacam demikian tidak sejalan dengan semangat pemanfaatan frekuensi radio sebagai ranah publik yang merupakan sumber daya alam terbatas yang seharusnya ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat seluas-luasnya.

Televisi sebagai ruang publik, tidak semestinya menampilkan kegiatan yang sifatnya privat, seperti pernikahan dua orang selebritas, yang tidak memiliki kaitan atau pun manfaat bagi kepentingan publik di hari esok. Frekuensi yang dipinjamkan publik kepada stasiun televisi, hendaknya digunakan untuk menyiarkan muatan yang berguna bagi publik untuk dapat menimbang dan membuat keputusan-keputusan kesehariannya sebagai warga negara. Ketimbang menyiarkan jalannya pernikahan selebritas, televisi lebih baik menyiarkan banyak hal yang lebih berguna dan dibutuhkan publik seperti peliputan mendalam atas kasus korupsi, gizi buruk, krisis mutu pendidikan, informasi kesehatan, kasus Lapindo, hingga tayangan-tayangan edukatif dan inspirasional yang bisa mendorong masyarakat menjadi lebih baik.

Mengingat peran televisi sebagai media massa yang vital dalam mengawal dan membentuk situasi sosial-politik-budaya suatu masyarakat, maka Remotivi berharap agar stasiun-stasiun televisi lebih memiliki keberpihakan pada kepentingan publik. Sesuatu yang lebih bernilai dan dibutuhkan publik mesti mendapat prioritas ketimbang menyajikan sensasionalitas dan bombastisitas.

Remotivi menilai ada baiknya hal-hal semacam ini juga menjadi perhatian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai regulator penyiaran. Apa pun itu, sikap KPI nantinya penting dilihat sebagai upaya mengawal ruang publik agar pemanfaatannya sesuai dengan harapan dan kepentingan publik. []