Kepada Yth.

Trans TV

Penanggung jawab tayangan Primitive Runaway

Dengan hormat,

REMOTIVI adalah lembaga literasi media yang mendorong majunya mutu dan etika industri televisi di Indonesia. Remotivi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam bidang melek media, khususnya televisi. Kami berharap, agar lewat tayangan televisi, masyarakat mendapatkan informasi dan hiburan yang mendidik, mencerdaskan, dan bermanfaat.

Menyaksikan tayangan “Primitive Runaway” (PR) yang ditayangkan Trans TV setiap hari Jumat Pk. 19.15 WIB, mendorong kami untuk menyuarakan apa yang kami pikirkan mengenai tayangan tersebut. Maka lewat surat terbuka ini kami ingin menyampaikan beberapa hal berikut:

1. Keberatan terhadap JUDUL dan KONSEP tayangan Primitive Runaway

Penggunaan kata primitive pada judul adalah bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap suatu kelompok masyarakat. Memberi label primitif merupakan sebuah bentuk diskriminasi yang merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.

Secara konsep, Primitive Runaway juga cenderung melakukan sudut pandang yang melecehkan dan menghina cara hidup suatu komunitas adat. Ini terwujud dalam narasi yang dipakai, rekayasa adegan yang mencitrakan sisi negatif masyarakat adat, dan penyajian tayangan yang tidak diimbangi dengan perspektif relativis dan upaya riset yang kuat terlebih dahulu.

2. Ubah JUDUL dan KONSEP tayangan

Sehubungan dengan sikap keberatan di atas, kami meminta dengan hormat agar pihak Trans TV dan penanggungjawab Primitive Runaway mengubah JUDUL dan KONSEP tayangan tersebut ke arah yang tidak melecehkan dan lebih menghormati masyarakat adat.

3. Menyayangkan sikap KPI

Kami turut menyayangkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang tidak memiliki kepekaan terhadap hal ini dengan memberikan izin siaran. KPI harusnya tidak hanya bersifat reaktif terhadap isi siaran, tapi wajib memliki kemampuan penyaringan tayangan yang sangat ketat dan berperspektif ke-Indonesia-an, bukan ke-Jakarta-an.

4. Pelajaran untuk semua pihak

Agar lewat kasus ini, kita sekalian dapat mengambil pelajaran penting untuk lebih sensitif terhadap isu-isu pendiskriminasian suatu kelompok masyarakat tertentu.

Sebagai catatan penjelas atas keberatan ini, kami turut sertakan sebuah tulisan yang berjudul Mereka Bukan Primitif! yang dimuat di Koran Tempo pada edisi 24 November 2010.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan. Kami berharap Trans TV dan penanggunjawab tayangan Primitive Runaway dapat segera merespons surat ini dengan bijak. Semoga ke depannya Trans TV semakin maju dan berkembang, sehingga menghasilkan tayangan yang mendidik dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Hormat kami,

Jefri Gabriel

Divisi Advokasi Remotivi

Tembusan:

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Lembaga yang ikut mendukung:

1. Lenteratimur.com; TM. Dhani Iqbal

2. LSPP (Lembaga Studi Pers Dan Pembangunan); Ignatius Haryanto

3. YJP (Yayasan Jurnal Perempuan); Mariana Amiruddin

4. Yayasan Mitra Inti; Lienda Wati

5. Yayasan Merah Putih (YMP) Palu; Nasution Camang

6. AMAN KalBar (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalimantan Barat); Drs. Sujarni Alloy, MA

7. Masyarakat Bebas Bising (MBB); Slamet A.Sjukur

8. SOKOLA – Alternative Education Club; Butet Manurung & Dodi Rokhdian

9. Lembaga Bhinneka; Soe Tjen Marching

10. Institut Dayakologi – Pontianak – Kalimantan Barat; DRS. John Bamba

11. Yayasan Air Putih; Imron Fauzi

12. HuMa; Asep Yunan Firdaus

13. AMAN Sumsel (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sumatera Selatan); Mualimin P. Dahlan, SH

14. GAYa Nusantara; Hadi Purwanto

15. MPM (Masyarakat Peduli Media); Lukas S.Ispandriarno

16. Madya Indonesia; Joe Marbun