Sidang pembaca yang budiman,

Tanggal 22 Agustus yang lalu, Remotivi dan ICT Watch menerima penghargaan Tasrif Award yang dianugerahkan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Penghargaan ini diperuntukkan bagi individu atau kelompok yang membantu pers untuk bisa memenuhi hak publik atas informasi, membantu pers untuk mengefektifkan fungsi pers sebagai lembaga kontrol sosial, serta membantu pers untuk mengungkap problem ketidakadilan yang tersembunyi atau disembunyikan. 

Tradisi penghargaan Tasrif Award dimulai sejak tahun 1997 dengan Benyamin Mangkoedilaga sebagai peraih pertama. Pada tahun 1995, ketika menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Benyamin memenangkan gugatan Majalah Tempo dan mencabut Surat Keputusan Menteri Penerangan tentang pembatalan Surat Izin Penerbitan Pers. Nama-nama lain mengikutinya, misalnya KontraS (1998), Lembaga Kajian Islam dan Sosial (2002), dan paling anyar, Luviana (2013).

Empat tahun lalu, ketika kami mendirikan Remotivi, yang kami cari bukanlah sebuah penghargaan semacam ini. Kami hanya mencari sesuatu yang sederhana, yang kerap tampak mustahil dalam republik ini, yaitu hak kami sebagai warga negara.

Awalnya tuntutan itu bersifat sangat pribadi: keponakan bisa dapat tontonan yang baik, ibu tidak dicekoki obrolan tidak penting yang ada di infotainment, atau paling jauh, tetangga tidak percaya mentah-mentah apa yang ada di reality show. Kami tidak tahu persis kapan tuntutan domestik tersebut berubah menjadi bersifat publik.

Penghargaan dari AJI ini sangat berarti, bukan saja buat kami—beberapa orang muda yang galau atas isi hati juga isi dompetnya—tapi juga bagi mereka yang percaya bahwa demokrasi adalah persoalan partisipasi dan kolaborasi. Dalam konteks itulah informasi yang benar dan bening menjadi prasyarat seseorang bisa berpartisipasi dan berkolaborasi dalam demokrasi. Sayangnya, media massa tidak menyediakannya. 

Maka pada soal inilah kami bekerja: menuntut media massa, khususnya televisi, untuk melayani publik.

Kami menerima Tasrif Award dengan perasaan bangga sekaligus sungkan. Bukan apa-apa, penghargaan ini rasanya datang terlalu pagi. Kami baru saja memulai Remotivi.

Terima kasih beribu buat semua yang telah menjadi kawan dan seteru kami. []