Sepotong kabar baik mampir minggu lalu. Pada 25 Maret kemarin, Reportase kami berjudul  terpilih sebagai pemenang ketiga dalam Penghargaan Liputan Media untuk Pemilu 2014. Ajang tersebut digelar oleh sebuah lembaga penelitian media dan pelatihan wartawan yang berdiri sejak 1994.

“Penghargaan itu ditujukan sebagai tolok ukur sekaligus evaluasi terhadap liputan media selama Pemilu kemarin,” ujar Rusdi Marpaung dari LSPP dalam sambutannya pada acara pengumuman pemenang yang diadakan di Hotel Grand Cemara, Jakarta.

Penghargaan ini bukan saja menerbitkan kegembiraan bagi kami, tapi juga menjadi dorongan bagi kami untuk bisa konsisten menerbitkan kajian dan reportase terkait media di Indonesia.

Reportase itu sendiri memuat laporan tentang kerja wartawan televisi dalam meliput Pemilu 2014. Ditulis oleh Indah Wulandari, Redaktur non-aktif remotivi.or.id yang kini tengah melanjukan studi di Rostov Conservatory of Music, Rusia, reportase ini berusaha menggambarkan bagaimana wartawan televisi era Reformasi memaknai profesinya. Reportase ini bercerita ihwal wartawan yang dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka melayani syahwat politik pemilik media.  

Niat menerbitkan laporan jurnalistik semacam ini sebenarnya sudah datang jauh sebelum Pemilu dihelat. Di tengah dominasi kajian teks (isi media) yang kami terbitkan di situs ini, tulisan yang melihat konteks dan aspek-aspek pra-produksi sebuah teks adalah hal yang kami pikir patut dikerjakan. Kami maksudkan tulisan-tulisan semacam itu sebagai data lain yang bisa melengkapi cara membaca sebuah produk media. Dengan begitu, kami sedang ingin mengajak pembaca untuk melihat faktor-faktor kontekstual yang membentuk suatu produk media.

Pengerjaan laporan tersebut tidak mudah. Memakan waktu dua bulan, ini adalah reportase panjang pertama yang kami terbitkan di remotivi.or.id. Kesulitan pertama dan utama tentu datang dari minimnya pengalaman kami. Hal yang menyita tenaga dan pikiran adalah tentang dari mana dan bagaimana kami memulai pengamatan di lapangan. Kedua, dinamika di lapangan yang ditemui memberikan kami banyak data yang tidak mudah untuk dipilih. Peristiwa yang ada begitu kaya, dan selalu menggoda untuk dicakup semuanya dalam satu reportase. Kesulitan ketiga datang dari aksesibilitas narasumber: wartawan tertutup untuk diwawancarai. Mereka kerap menghindar. Untuk pekerjaan yang menuntut dan dituntut transparansinya, potret ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan.

Di tengah kesulitan semacam itulah laporan ini akhirnya tersaji di hadapan para pembaca sekalian.

Kami berterima kasih atas apresiasi ini. Penghargaan ini untuk Anda semua, yang meyakini perlunya upaya-upaya menuntut media dan wartawan setia melayani publik. []


Daftar lengkap pemenang:

KATEGORI MEDIA CETAK

  1. Pemenang I: “Mencari Caleg Peduli Parmalim” - Dedi Gunawan Hutajulu (Harian Analisa, Medan)
  2. Pemenang II: “Gotong Royong Kawal Pemilu 2.0” - Amir Sodikin (Harian Kompas, Jakarta)
  3. Pemenang III: “Kisah Caleg Perempuan di Kalimantan Barat: Biaya Kampanye Minim, Tak Gentar Dominasi Pria” – Heriyanto (Harian Pontianak Post)

 

KATEGORI ONLINE

  1. Pemenang I: “Kisah Caleg 147 di GOA: Salah Ngitung Bahar Ngitung” - Edi Sumardi (Tribuntimur.com)
  2. Pemenang II: “In popularized poll, citizens step forward to guard count” - Hans Nicolas Jong (TheJakartaPost.com)
  3. Pemenang III: “Panggil Aku Wartawan” - Indah Wulandari (remotivi.or.id)

 

KATEGORI TELEVISI

  1. Pemenang I: “Demokrasi Kursi episode Peluang Jadi Uang” - Hardina Primanda N. (Kompas TV)
  2. Pemenang II: “Indonesiaku Ekspedisi Merah Putih episode Ironi Demokrasi di Bumi Cendrawasih - Dony Sandjaya (Trans 7)
  3. Pemenang III: “Aiman Dan… episode Aiman dan Surya Paloh” - Aiman Adi Witjaksono (Kompas TV)