Pelarangan dan perampasan buletin Expedisi yang dilakukan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmat Wahab adalah sikap anti-demokrasi. Remotivi mengecam tindakan tersebut dan menuntut Rochmat meminta maaf, mengembalikan buletin yang dirampas, dan berjanji untuk menghormati kerja jurnalistik di lingkungan universitas. Mengacu pada Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, pelarangan penyebaran tersebut masuk dalam kategori pemberedalan yang merupakan bentuk melawan hukum.

Upaya seperti yang dilakukan Rektor UNY ini bisa menjadi ancaman dan preseden buruk di masa mendatang. Kemerdekaan menyatakan pendapat merupakan hak asasi manusia yang mendasar, dan juga dilindungi oleh hukum. Pelarangan penyebaran terbitan pers mahasiswa akan menjauhkan kita dari kehidupan demokratis yang dibangun dengan susah-payah. Tentu kita tidak mau hidup lagi dalam era di mana kebebasan berekspresi dan berpendapat dibungkam. Ongkos yang harus dibayar terlalu mahal.

Buletin Expedisi adalah produk pers yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi. Pemberedelan ini terjadi ketika Winna Wijayanti, pemimpin proyek Expedisi, mendistribusikan terbitan edisi khusus pra ospeknya itu di Gedung Olah Raga UNY. Kebetulan sedang diadakan pertemuan antara jajaran birokrat UNY dengan  orang tua/wali mahasiswa baru hari itu. Begitu melihat Winna, Rochmat Wahab segera memberi perintah, “Amankan! Jangan sampai ada wali mahasiswa yang menerima Expedisi!”

Expedisi edisi khusus pra ospek baru diedarkan hari itu. Rochmat bahkan belum membacanya. Rupanya, ketidaktahuan jajaran birokrat tentang isi buletin tersebutlah yang menjadi alasan penarikan paksa itu. “Saya harus baca dulu tulisan EKSPRESI sebelum diterbitkan. Nah, jika sudah saya baca dan setuju, bisa diterbitkan,” demikian seloroh Sumaryanto, Wakil Rektor III UNY, dalam audiensi dengan LPM Ekspresi pada hari yang sama sebagaimana dilansir oleh ekspresionline.com.

Rochmat, sebagai orang yang memberi perintah, tidak hadir dalam audiensi tersebut.

Kebebasan pers di republik ini diraih dengan perjuangan panjang yang melelahkan. Pers mahasiswa, adalah bagian tak terpisahkan dalam perjuangan tersebut. Sejarah mencatat bahwa pers mahasiswa menyuntikkan semangat keberanian ketika pers umum tidak berani menyiarkan berita karena ketakutan diberedel pemerintah. Pun demikian dengan sekarang, sulit berharap pada media-media arus utama ketika berita yang ditampilkan sudah bias dengan berbagai kepentingan ekonomi-politik.

Konglomerasi telah menjadikan media sebagai perpanjangan tangan pemiliknya, alih-alih berpihak kepada kepentingan publik. Dalam kondisi tersebut, pers mahasiswa memiliki fungsi strategis yang mampu membuatnya menjadi kanal informasi alternatif. Independensi dari pemilik modal membuat tulisan-tulisan yang diterbitkan pers mahasiswa memiliki ciri khas kritis, inovatif, analitis, objektif dan kaya ide.

Ruang untuk mendiskusikan problem-problem sosial dalam pers mahasiswa juga relatif terbuka karena polarisasi ideologi dan kepentingan dalam tubuh pers mahasiswa berjalan dengan lebih dinamis.

Dengan beberapa pertimbangan tersebut, Remotivi, sekali lagi, menolak segala bentuk upaya pemberedelan pers dari pihak manapun. Keberatan atas pemberitaan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang tersedia, seperti kolom hak jawab. []