Sejak Lucinta Luna ditangkap polisi terkait penyalahgunaan narkoba, berita yang bersangkutan seakan tak habis-habis.

Dari puluhan bahkan ratusan berita ini, hanya sedikit yang fokus pada aspek kriminalitasnya. Sebagian berita memberikan informasi kepada publik soal riklona dan tramadol, dua obat yang ditemukan di dalam tas Lucinta.

Justru yang paling banyak beredar—dan ini yang patut disayangkan—adalah berita-berita yang heboh, berfokus pada status Lucinta sebagai transgender, dan mengeksploitasi kehidupan pribadi yang bersangkutan.

Simak saja berita-berita ini: “Dear Lucinta Luna, Ini Lho Aksesoris yang Tak Boleh Dibawa ke Sel” (Detik.com), “Kumpulan Bukti Lucinta Luna Ganti Kelamin, Ada Surat Operasi di Thailand” (Suara.com), atau “Lucinta Luna Jadi Wanita, Ini Kasus Ganti Kelamin yang Ditolak-Dikabulkan” (Detik.com).

Sementara dalam sebuah video Suara.com,Polisi Bingung Menempatkan Lucinta Luna di Sel Wanita Atau Pria”, dua (atau lebih) wartawan terdengar tertawa terkekeh beberapa kali ketika melakukan wawancara. Dalam video itu, Humas Polres Jakarta Barat selaku narasumber bahkan bertanya, “Ini pertanyaannya kok sama pada ngejar itu ya?”

Jurnalisme Selangkangan

Untuk memudahkan pembahasan, kita sebut saja praktik jurnalisme pada kasus Lucinta ini sebagai "jurnalisme selangkangan". Saya melihat ada tiga ciri di dalamnya, yakni bernuansa seks, sensasional, dan tidak sensitif gender.

Pertama, bernuansa seks. Berita-berita Lucinta Luna berkisar pada urusan alat kelaminnya. Di satu sisi, jurnalis dihadapkan pada fakta bahwa hukum Indonesia tidak mengakui transgender. Karena itu, pemberitaan mengenai jenis kelamin Lucinta harusnya baru bisa disampaikan ketika sudah ada keputusan pengadilan.

Faktanya, awak media tetap masuk ke area selangkangan sebagai topik peliputan. Di situ, mereka terus mencari-cari ide yang bisa diliput dan disuguhkan ke masyarakat. Sepertinya jurnalis punya nafsu birahi akan informasi syur, seperti berita Suara.com ini yang mengangkat rumor Lucinta sebagai pekerja seks.

Kedua, sensasional. Tak sedikit berita dengan judul sensasional seperti “terungkap”, “heboh”, “geger”, dan lain-lain yang digunakan untuk memancing perhatian pembaca. Diksi tersebut menjanjikan sesuatu yang istimewa, seolah isinya hasil investigasi. Padahal apa yang investigatif dari berita soal wig, bedak, atau kekasih Lucinta? Berita yang tidak pernah mengungkap apa-apa ini hanya membuat pembaca kecewa.

Di sini, jurnalis nampak melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya tidak bermanfaat. Mereka berupaya membuat berita yang wah padahal bahan-bahannya tidak eksis. Hal ini dilakukan untuk memanipulasi pembaca supaya menganggap penting informasi yang sejatinya tidak relevan bagi mereka.

Ketiga, tidak sensitif gender. Pemberitaan Lucinta Luna banyak yang tidak dibekali dengan pengetahuan gender. Akibatnya, berita-beritanya pun dibalut prasangka dan stereotip mengenai kelompok transgender. Padahal, berita yang bias akan melanggengkan pandangan negatif masyarakat terhadap minoritas gender ini.

Hal ini menunjukkan para jurnalis masih meraba-raba isu tersebut. Alih-alih mengeksplorasi rumitnya problem hukum, mereka malah mengorek-ngorek prasangka yang mereka miliki dan menggunakannya sebagai dasar peliputan. Bias-bias pribadi ini berbahaya karena akan menghasilkan produk jurnalistik yang merendahkan subjek berita, menjadikannya bahan guyonan semata.

Ketidakpahaman ini juga membuat para pewarta menodong Lucinta untuk melela (coming out) di hadapan publik. Lebih parah lagi, media juga telah membongkar identitas (outing) kekasih Lucinta. Padahal, proses melela adalah hak individu masing-masing dan tidak sepatutnya media memaksa seseorang mengungkap identitas seksualnya.

Praktik jurnalisme selangkangan sudah barang tentu melanggar prinsip jurnalisme yang baik. Kode Etik Jurnalistik Indonesia sebetulnya mengatur wartawan Indonesia tidak beritikad buruk (pasal 1), menghormati hak privasi (pasal 2), tidak menyiarkan berita berdasarkan prasangka (pasal 8), dan menghormati kehidupan pribadi (pasal 9).

Selain itu, jurnalisme selangkangan kerap mengabaikan nilai berita dan gagal mengidentifikasi masalah sebenarnya. Urusan privat dan urusan publik sering tertukar. Hal-hal yang tidak bermanfaat malah diangkat. Sementara kepentingan umum—seperti penyalahgunaan narkoba, hukum yang inklusif, serta hak-hak di mata hukum—justru diabaikan.

Hal ini sudah lama berjalan di Indonesia. Selalu muncul kalau ada kasus hukum yang melibatkan perempuan, waria, atau kelompok minoritas seksual pada umumnya. Bias patriarkis selalu muncul ke permukaan, mencuri kalimat-kalimat bombastis, berupaya menggoda birahi pembaca.

Masukan Bagi Jurnalis

Jurnalisme selangkangan harus dihentikan. Guna memperbaiki kualitas liputan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan insan pers. Beberapa tips ini memang merupakan investasi jangka panjang yang harus dipupuk mulai sekarang.

Pertama, fokus pada koridor hukum saja. Di luar itu, tidak relevan. Tindak kriminal penyalahgunaan narkoba bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, sehingga jenis kelaminnya tidak nyambung dengan inti masalah.

Bagi yang tertarik mengembangkan ide tulisan, bisa telusuri soal sistem hukum Indonesia yang tidak akomodatif terhadap transgender. Wawancarailah para pakar hukum soal diskursus ini. 

Kedua, perluas wawasan mengenai gender dan seksualitas. Buka wawasan lewat berbagai artikel di internet, buku, atau acara publik. Hal ini penting untuk membantu jurnalis menavigasi berbagai pilihan angle dan mengurangi bias dalam peliputan.

Referensi ini juga penting untuk mencegah jurnalis melakukan outing atau shaming. Di sisi lain, semakin kita mengetahui isu seksualitas, semakin kita menyadari bahwa itu adalah urusan pribadi dan tidak relevan diangkat jadi berita.

Ketiga, perbanyak pengetahuan mengenai diskursus narkoba dan isu-isu lain. Dengan begitu, wartawan bisa lebih kreatif ketika mengambangkan ide tulisan, menyaring informasi dari narasumber, serta membuka diskusi yang lebih luas.

Jurnalis dapat mengembangkan pertanyaan soal apakah obat yang ditemukan dalam tas Lucinta Luna betul obat penenang? Apakah secara medis dapat digunakan? Bagaimana regulasinya dan distribusinya? Bagaimana masyarakat bisa waspada?

Dengan memperbaiki kualitas liputan, jurnalis dapat mengarahkan rasa ingin tahu publik ke hal-hal yang tepat. Kita berharap berita-berita semacam ini tidak perlu ada lagi di masa depan. Sebab publik hanya butuh berita yang bermanfaat dan mencerdaskan.