Menonton tayangan televisi belakangan ini membuat saya menemukan sejumlah pemberitaan yang bikin geleng-geleng kepala. Salah satu contohnya adalah berita tentang pembukaan sebuah hotel baru yang lokasinya berdekatan dengan sebuah tempat hiburan, yang keduanya dimiliki oleh orang yang sama. Berita tersebut masuk dalam siaran berita sore pada sebuah stasiun televisi yang dimilikinya pula. Lain cerita, seorang pengusaha televisi yang baru saja bergabung dengan partai politik pun kini tak malu-malu tampil dalam siaran berita di salah satu televisinya untuk meresmikan angkatan muda partai tersebut. Belum lagi ketika salah satu koran miliknya berulangtahun: televisi saudaranya ikut merayakannya dalam salah satu siaran berita.

Hal ini pun terjadi ketika sebuah stasiun televisi memenangkan penghargaan. Serentak, sejumlah tayangan di stasiun tersebut merayakan kemenangan itu. Sang pemenang diwawancarai dalam infotainmen, dan liputannya ditampilkan dalam tayangan berita. Luar biasa.

Namun, bukankah berita seperti itu lebih cocok ditampilkan dalam buletin internal perusahaan ketimbang disajikan kepada publik? Rupanya gejala narsisme si pemilik dan kepentingan pemilik media tersebut tak lagi-lagi malu-malu ditampilkan (namanya saja Narsis, :)).

Apakah hal ini sekarang dianggap sebagai “praktek yang lumrah”? Saya merasa bahwa pemberitaan seperti itu cenderung mengandung unsur “public relations” (dari perusahaan), melihat banyaknya informasi yang lebih bernilai sebagai newsletter perusahaan ketimbang “public information” yang layak dimuat media massa.

Sekarang misalnya, seorang pemilik media yang genap berusia 5 dekade menerbitkan buku biografinya. Tentu saja biografi yang ia restui. Dan untuk itu, biografi ini sangat sering diiklankan dalam stasiun televisi miliknya. Tak hanya itu, sejumlah pihak pun diminta untuk memberikan testimoni terhadap isi buku tersebut (walau saya tak yakin, apakah betul mereka yang memberi testimoni telah membaca buku tersebut). Lagi-lagi luar biasa.

Dalam buku biografinya, si raja media tersebut mengatakan, “Di dunia media contohnya, kami punya televisi. Sementara ini hanya dua televisi. Bukan berarti kami tak mampu membuat koran, majalah, radio, atau lainnya, tapi saya melihat di usaha-usaha tersebut akan sangat sulit buat kami menjadi nomor satu, sehingga saya tak akan masuk ke bidang tersebut. Namun, di bidang industri media digital, kami telah memiliki portal berita digital dan majalah digital, atau bentuk lainnya. Tidak mungkin saya terjun dalam bentuk usaha apa pun apabila dalam kurun waktu tertentu, 10 tahun misalnya, kami tidak menjadi juara.”

Para pemilik media ini tidak semata-mata memiliki industri media sebagai usahanya. Ia juga memiliki tempat hiburan, outlet makanan, perusahaan asuransi, properti, maskapai penerbangan, hotel, dan lain-lain. Lalu apa yang kita lihat sebagai hasil? Media-media yang terafiliasi dengan pengusaha ini akan makin banyak melakukan cross promotion atas unit-unit usaha lainnya via media yang ia kelola. Lagi-lagi kita sedang melihat newsletter-newsletter yang bertebaran di sekitar kita.

Buku tentang sosok raja media lainnya yang belakangan beralih menjadi pejabat publik pun sudah sangat banyak. Untuk sosok yang satu ini, ia ditulis dalam lebih dari 10 judul buku. Ia memang unik karena pembawaannya terkesan egaliter, tak peduli dengan protokoler kepejabatan, dan dikenal melakukan sejumlah gebrakan (dalam arti harafiah juga).

Di Indonesia pada dekade 1950 dan 1960an, kita pun mengenal aneka surat kabar yang memiliki afiliasi terhadap partai-partai politik saat itu. Kita mengenal Koran Merdeka yang disebut dekat dengan Partai Nasional Indonesia, Koran Abadi yang dekat dengan Masyumi,Duta Masyarakat yang dekat dengan Nahdlatul Ulama, Harian Rakyat yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia, dan juga Pedoman yang disebut dekat dengan Partai Sosialis Indonesia. Kini seluruh surat kabar itu telah tiada, akibat represi dan pembredelan terus menerus terhadap surat kabar-surat kabar politik.

Kini kita menyaksikan aneka media yang ada melekat dengan grup-grup perusahaan besar yang menguasai Indonesia. Apakah kondisi hari ini lebih baik daripada era koran-koran partai politik?

Dua-duanya untuk saya tidaklah baik, karena persoalan independensi dan hak publik untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya, jadi mendapat tantangan di sini. Tetapi, saya kira justru kondisi sekarang malah lebih buruk. Terutama ketika tingkat kompleksitas dari konflik kepentingan yang ada, membuat informasi jadi tak lebih dari sekadar komoditi. Dalam hal ini, Hal Jurgensmeyer dari perusahaan media Amerika Knight Ridder, mengatakan, “Kita ini sekarang tidak lagi berada dalam bisnis pemberitaan, bukan juga bisnis informasi, tetapi bisnis pengaruh” (dikutip dari Luwi Ishwara, Jurnalisme Dasar, 2011, hal.13).

Apakah kondisi media kita “sedemikian hina” sehingga jatuh hanya pada “industri pengaruh” ketimbang industri pemberitaan atau industri informasi? Mereka yang masih peduli akan kualitas informasi harusnya berteriak keras-keras dan menolak hal ini. Sama seperti seorang penjual yang akan terus didatangi orang karena menyukai kualitas barang yang dijualnya. Jika barang yang dijual tidak lagi berkualitas, banyak busuknya, penjual sering menipu, apakah layak orang kembali lagi pada penjual yang sama? Rasanya tidak.

Jadi, baikkah perilaku narsis dari para pemilik media yang tak malu-malu tampil di depan layar kacanya? Oh, mungkin dia sedang meniru perilaku ratu kejahatan dalam kisah Snow White, yang berdiri di depan cermin dan bertanya, “Cerminku oh cerminku, siapakah yang paling kaya dan kuasa di negeri ini?” Dan sama seperti sang ratu yang marah karena Snow White disebut oleh cermin sebagai paling cantik, maka sang pemilik media pun marah, dan menyuruh televisinya makin banyak menyiarkan sosok dirinya.

Kalau sudah sampai di sini, saya jadi ingat kisah Emperor’s New Clothes, di mana seorang raja dihasut oleh perancang pakaiannya untuk mengenakan pakaian mutakhir yang tak pernah dipakai oleh siapa pun. Begitu bangganya ia dengan pakaiannya, hingga ketika pakaian itu dikenakan, ia memanggil rakyat di seluruh negeri untuk melihat rancangan pakaian terbarunya. Raja berjalan anggun di hadapan rakyat yang mengitarinya. Seluruh rakyat tak berani berkomentar apa pun atas rancangan dashyat tersebut. Namun seorang anak kecil yang polos dan belum mengerti konsep takut akan raja, dengan terus terang berkata lantang, “Hei ada Raja telanjang....” Dan kenyataan pun tersingkap. []