Siang itu Fitri (29) tengah sibuk membereskan sisa jualan es di halaman rumah mereka. Seusai merapikan sisa jualannya, Fitri bergegas masuk kamar. Tombol pemantik dinyalakan. Televisi langsung menjelma benda maha penting dalam aktivitas malam harinya.

Televisi telah cukup lama menjadi satu-satunya sumber hiburan keluarga kecil yang terdiri dari dua orang ini. Kurang lebih sembilan jam dihabiskan keluarga ini untuk menonton. Bisa dibayangkan, jika tidak ada televisi di rumah, betapa kesepian menjadi ratapan paling mengerikan bagi Fitri dan Lina (58), ibunya. Televisi mesti hadir  menemani  aktivitas mereka.

Fitri pernah berkisah: pada suatu siang ia kebingungan mencari kerabatnya untuk memperbaiki kabel penghubung antena. Demi mencari kabel penganti itu, ia rela absen sehari dari rutininitas pokok keluarga, yaitu berjualan es campur, satu-satunya sumber pendapatan keluarga Lina.

Rilis Badan Pusat Statistik Gorontalo Februari 2014 mengkategorikan pekerjaan rumah tangga Lina sebagai usaha mandiri (wiraswasta). Pekerjaan jenis ini baru digeluti oleh 107.903 orang. Sektor kerja di Gorontalo mulanya didominasi pertanian, tetapi  kini beralih menjadi buruh atau karyawan, yang mencapai 152.899 orang (DeGorontalo, 2014).

Perubahan jenis usaha ini telah mengubah wajah Gorontalo dalam meningkatan sektor ekonomi lokal. Sepanjang amatan penulis, terutama di pusat-pusat ekonomi warga, usaha sektor jasa cukup menggeliat. Misalnya menjamurnya toko pakaian (distro), Café dan sejumlah tempat hiburan lainnya. Hal yang serupa juga terjadi dalam bisnis media televisi. Bisnis ini cukup pesat, bahkan terbilang kompetitif, dengan daerah tetangganya di Sulawesi Utara. Saat ini persebaran informasi melalui penyiaran tidak lagiominasi TVRI dan stasiun swasta dari Jakarta. Sejumlah stasion lokal seperti Mimoza TVGo TVMimoza TV KabelCivica TV mulai bertumbuh pula.

Jejak televisi di Gorontalo

Televisi baru diperkenalkan di Gorontalo sekitar 1985. Tahun tersebut masih bisa diperdebatkan, mengingat belum ada penelitian yang menyebutkan kepastian televisi pertama kali hadir di Gorontalo. Stasiun televisi regional di Menado, daerah yang paling dekat dari Gorontalo baru dibangun pada 1978 (lihat Kitley. 2000; 37). Tahun 1985 adalah tahun yang muncul saat  penulis berbincang dengan Lina di rumahnya Kelurahan Padebuolo Kecamatan Kota Timur, Gorontalo. Menurut Lina, tahun 1985 adalah perkiraan ia pertama kali melihat televisi di kantor Kecamatan.

Menurut Lina, sebelum televisi  mengisi ruang keluarga di Gorontalo, sebenarnya praktik menonton sudah ada. Mereka sempat menjadi penonton tetap layar tancap yang digelar rutin di sebuah tanah lapang di wilayah Kabila. Kala itu, tayangan layar tancap hanya menayangkan program pemerintah berupa sosialisasi Keluarga Berencana (KB). Tidak ada satu pun film yang ditonton dalam layar tancap itu. Selama sebulan penuh, hanya tayangan iklan KB rutin digelar. Tak sedikit dari mereka menganggap iklan layanan KB adalah film itu sendiri.

Kala pertengahan 1980an, menurut Lina, program KB yang disponsori pemerintah itu diawasi ketat oleh aparatur desa. Aparatur desa mewajibkan perempuan usia remaja dan dewasa menerima informasi melalui tayangan audio visual. Lainnya, perkara membujuk para remaja agar menonton tayangan tersebut kerap kali harus membuat petugas desa berbohong. Tersiar kabar petugas telah menyiapkan film kolosal dari Jakarta, namun faktanya tidak ada film sebagaimana bualan petugas waktu itu. Yang ada hanya promosi KB yang ditayangkan berulang-ulang. Barulah setelah sebulan lebih, petugas menepati janjinya memboyong sejumlah film kolosal ke Gorontalo.

Praktik menonton di tahun 1980an, jika dibandingkan dengan saat ini, tentu sudah jauh berbeda. Setidaknya urusan menonton pada kala itu bagi Lina adalah tindakan kolektif, tindakan yang melibatkan banyak orang. Menonton kala itu pun tak selamanya terkait dengan objek tontonan, tetapi perihal menaklukan medan perjalanan yang berat.Menonton adalah juga upaya meredam aturan sosial/tata krama pergaulan anak perempuan di Gorontalo.

Perkaranya bukan semata menonton film. Menurut Lina, untuk datang ke sebuah tanah lapang kala itu seseorang perlu bersusah payah dan penuh resiko. Terlebih, perkara keluar malam bagi anak perempuan merupakan pelanggaran etik di Gorontalo kala itu. Ingatan Lina tentang perjuangan untuk menonton film lebih gamblang ketimbang film yang ia tonton itu sendiri. Ia masih bisa bercerita tentang perjuangan menyeberangi sungai, atau melewati rumah besar tak berpenghuni dengan rinci. Sementara alur film kolosal berlatar budaya Jawa—yang memang tidak begitu ia pahami—yang ia tonton tak begitu membekas di kepalanya.

Lina pertama kali membeli pesawat televisi pada tahun 1995, tepat HUT Emas RI ke-50. Ketika itu, stasiun televisi swasta Jakarta sudah mulai siar di Belitung: TPI. Kehadiran TPI mendorong banyak warga membeli televisi, meski harganya masih terlampau mahal dan banyak yang memperolehnya dengan kredit. Sebelum TPI mengudara, keluarga Lina, juga keluarga beberapa temannya, lebih memilih radio.

Membuat Perhitungan dengan Selera

Televisi adalah benda privat yang ditonton Fitri dan ibunya di kamar masing-masing. Televisi diposisikan di atas lemari kaca yang sengaja didesain khusus, seolah diperlakukan dengan terhormat. Dalam keluarga ini, urusan menonton bukan lagi soal kolektif, sebagaimana kisah Lina dahulu, melainkan perkara individu. Kondisi seperti ini sebenarnya bukan hal lumrah dalam masyarakat Gorontalo. Sebagian besar keluarga yang saya temui justru meletakkan televisi di ruang keluarga, mengingat televisi bukan lagi ukuran kemewahan. Salah satu faktor yang membedakan keluarga Fitri adalah bahwa keluarga ini tergolong miskin, sehingga televisi adalah benda mewah yang mereka miliki—satu-satunya sumber hiburan.

Tayangan sinetron dan infotainment adalah jenis tayangan wajib keluarga ini. Pada saat observasi, sinetron Kita Nikah Yuk di RCTI yang tayang pada saat prime time, tampak memanggil Lina dengan kuat. Selepas sholat Magrib berjamaah di masjid, ia bergegas meninggalkan masjid meski semua jamaat belum mengakhiri bacaan wirid. Lina memilih berada di depan televisi sebelum sinetron kegemarannya ini berakhir.

Bagi keluarga ini, sinetron adalah ode pembunuh sepi. Ada kegembiraan sekaligus letupan emosi setiap kali menonton. Saya berkesempatan menyaksikan langsung dan mencatat program acara televisi apa saja yang mereka tonton pada suatu malam Sinetron Kita Nikah Yuk, Jilbab in Love, dan Tukang Bubur Naik Haji. Ketiganya tayang di RCTI. Setelah rentetan sinetron itu berakhir tepat pada pukul 22.00 WITA, remot kecil penuh ikatan karet di ujungnya kembali digengaman Fitri. Ia menekan tombol angka tiga yang menghubungkannya dengan saluran ANTV. Di sinilah ia melabuhkan  sisa malamnya bersama drama kolosal India, Mahabarata.

Memang, industri televisi lokal Gorontalo cukup berkembang. Informasi yang relevan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat sudah mulai dipasok melalui industri penyiaran lokal ini. Namun toh siaran dari televisi Jakarta lebih digandrungi. Soalnya sederhana: modal. Rosyid Azhar, seorang mantan wartawan di salah satu stasion televisi nasional biro Gorontalo, mengaku sering merogoh kocek sendiri untuk biaya memproduksi siaran. Mulai dari uang bensin, uang makan juru kamera, hingga honor presenter—biaya ini tidak bisa diklaim ke pihak manejemen televisi. Minimnya anggaran ini dinilainya mempengaruhi kualitas siaran. Ini tentu berpengaruh pada daya saing. Tayangan dari Jakarta, yang punya modal lebih besar, tentu punya kesempatan untuk membuat tayangan yang lebih menarik ketimbang tayangan dari stasiun televisi lokal—terutama dalam hal tayangan hiburan.

Praktik menonton pada keluarga Fitri menunjukkan hal ini. Tayangan hiburan, terutama sinetron dan infotaiment, menjadi tayangan kegemaran sehari-hari. Hal ini, pada gilirannya, membentuk selera itu sendiri. Dalam benak penonton kelas menengah Jakarta, kebiasaan menonton dua jenis tayangan tersebut menunjukkan “selera yang rendah”, “selera kampungan”, atau “selera pembantu”.

Pelabelan selera ini tentu bermasalah. Pelabelan ini adalah bentuk imperialisme Jakarta yang paling banal. Selera warga Gorontalo adalah bentukan dari imperialisme stasiun televisi Jakarta yang ingin memperoleh pasar Gorontalo. Ketika selera ini terbentuk, warga kelas menengah Jakarta merendahkan mereka karena menonton tayangan “alay” dari Jakarta. Pada era kolonial, hal ini juga terjadi. Pemerintah kolonial menciptakan kondisi yang mengenaskan bagi penduduk pribumi kelas bawah, sambil bersamaan menuding penduduk pribumi sebagai pemalas dan bodoh—label yang diciptakan untuk merujuk pada kondisi yang juga diciptakan oleh pemerintah kolonial itu sendiri.

Pada titik ini, tidak ada masalah dengan selera atau pilihan menonton pada keluarga Fitri di Gorontalo. Masalahnya justru terletak pada imperialisme industri televisi Jakarta itu sendiri. Merekalah pembentuk selera publik sesungguhnya. []